Namaku Ayu, usiaku baru saja genap dua puluh lima tahun. Usia yang bisa dibilang lagi mateng-matengnya jadi pe ra wan. Itu kata orang lain lagi kata ibuku. Menurutnya usiaku sudah terlalu tua untuk jadi jomblo. Aah, ibu … beliau terlalu khawatir aku jadi jomblo permanen!
Sebenarnya wajar saja karena empat paklek dan bulekku itu masih menyandang status jomblo alias p e r j a k a dan pe ra wan kasep!
Ya, ya … riwayat itulah yang membuat ibuku kebakaran jenggot tiap kali membahas masalah jodoh. Jika sudah begitu aku akan menyiapkan telinga tebal untuk mendengarkan omelan super menyebalkan dari ibu. Seperti pagi ini …,
"Ayu! Duh Gustiiiii, banguuun! Anak p e r a w a n jam segini masih molor, gimana mau dapat jodoh, Yuuu"
Fiiiuuuh, bisa dibayangkan bagaimana merahnya telingaku bukan?
Aku baru saja membuka mata dan memeriksa akun media sosial saat ibu masuk dengan membawa sapu lantai di tangannya.
"Apaan sih Bu? Ayu sudah bangun ini dari tadi." Aku berdecak kesal karena sikap ibu berlebihan.
"Kalau sudah bangun dari tadi kenapa juga masih gelelengan di kasur? Buru, bantu ibu bikin dodol pesanan Ceu Imah!"
"Aah, malas! Ayu nanti mau ke acara kantor ibu! Ada acara gathering disana, jadi bakal sibuk dan pulang malam!" Elakku menghindar dari rutinitas membuat adonan super lengket dan menjijikkan yang berakhir menjadi dodol.
Yup, ibu adalah pengrajin dodol terenak sedunia –menurutku. Tapi sayangnya aku tidak bisa membuat dodol seperti ibu, tidak ada bakat cuma ada bakat makan!
Ibu duduk di sebelahku, wah dari raut wajahnya sudah jelas dan pasti dia bakal bertanya tentang makhluk ajaib berlabel P A C A R!!
"Ibu, ngapain?"
"Eh, Ayu kamu mau ke acara itu sama siapa? Pacar kamu atau gebetan kamu?" Tanyanya antusias.
"Kenapa emang Bu? Penting ya nanya begitu?"
"Healah ini anak, kamu itu dodol apa gimana sih Ayu! Ya penting dong, kalo pacar kan bagus kamu bisa semakin dekat syukur udah perkenalan keluarga nah kalo gebetan … pepet terus sampai dia naik status jadi pacar!"
Aku mengerjap tak percaya, ibuku ini memang antik. Saat ibu yang lain khawatir anaknya jatuh cinta dan berpacaran dia justru bahagia anaknya laku dan punya kekasih hati!
"Ya ampun ibu! Nggak segitunya juga kali Bu! Emang Ayu cewek apaan sih!"
"Duh, Yu! Umur kamu udah dua puluh lima tahun, kudu nunggu sampai berapa lama lagi ibu punya mantu hah?!
"Nanti tunggu patung Pancoran ganti jadi patung mbok jamu!" Jawabku kesal karena ibu tak kunjung mengerti.
Ibu terdiam sejenak meloading pikirannya yang memang sedikit lambat, "Lah keburu amsyong ibu, Yu!"
"Lah terus gimana coba orang pacar aja belum ada!"
"Cari dong Yu! Masa iya kalah sama sii Munah, Munaroh, Septi, Eni sama si Yuli sih! Anak ibu kan nggak jelek-jelek banget lho!"
Aku mengerutkan kening, "eh mereka emang mau kawin bu?!"
"Ya, belum sih baru akan sama kayak kamu!"
Ibu memilih kain sarung yang terlilit pada tubuhnya. Wajahnya berubah sedih, kalau sudah begini aku beneran nggak tega!
"Bu ..,"
Aku duduk dan mengusap punggung ibuku yang masih terlihat cantik di usia limapuluh tahun. Dan seperti biasanya, ibu akan menangis dan menumpahkan kesedihannya padaku.
"Ibu takut, Yu … takut kamu seperti paklek sama bulekmu itu! Kasihan mereka sudah sepuh siapa yang mau ngurusin kalo bukan saudaranya. Itu juga kalo ada yang mau, kalo nggak terus siapa yang bakal jagain mereka nantinya."
Aku terdiam, mendengarkan keluhan ibu yang selalu sama. Mungkin jika ditulis dan diukur, keluhan ibu bakal mencapai panjang sepuluh kilometer. Aku sampai hafal setiap kalimatnya.
Itulah ibuku, dibalik sikapnya yang menyebalkan ibu adalah sosok yang sangat aku banggakan. Menjadi single parent selama berpuluh tahun dan menghidupi ku seorang diri itu sangat luar biasa. Beliau rela mematikan cintanya demi memberikan cinta seutuhnya padaku.
*****
Sore itu aku menunggu ojek online yang menjemputku dari kantor, hujan gerimis memaksaku berteduh. Lama menanti aku dibuat heran dengan Abang tukang ojek yang tak kunjung datang. Kubuka aplikasi ojek online dan betapa terkejutnya aku saat membaca pembatalan pesanan sepihak darinya.
"Ah, brengsek! Masa cuma gara-gara ujan dia batalin pesanan! Dasar nggak kreatif! Beli dong jas hujan!"
Aku mengumpat kasar, tak peduli menjadi perhatian orang-orang disekitarku yang juga berteduh di halte bus yang sempit. Satu pesan dari ibu masuk membuatku mengernyitkan dahi.
[Ayu, tolong belikan ibu dodol Garut di toko pak Anam ya! Dua kotak!]
"Eh, dodol? Sejak kapan ibu suka dodol mana minta dua lagi!"
Aku membuka isi dompetku, khawatir jika uangku tidak cukup untuk membeli pesanan ibu. "Wah mepet banget ini, mana ATM jauh."
Aku celingukan mencari taxi atau tukang ojek yang biasa mangkal tak jauh dari halte. "Nah beruntung tuh ada abang ojek nganggur."
Aku bergegas mendekati tukang ojek berjaket kulit hitam dan helm full face. Tanpa berpikir panjang aku segera naik dan menepuk bahunya.
"Bang, tolong anterin ke ATM ya! Cepet nggak pake lama!"
"Eh, mbak tapi saya nggak bisa?"
"Halah udah cepet jalan, saya bayar dobel deh keburu ujan ini!"
Aku terus.memaksa si tukang ojek yang berkali kali menolakku. Aku yang kesal akhirnya memberikan penawaran padanya. "Ya udah, bayar dobel plus saya kasih mamang dodol Garut dua pack! Buruan, cepet!"
Entah mengapa tukang ojek yang tak terlihat wajahnya itu terdiam dan seketika menjalankan motor maticnya. Aku dibuat heran tapi aku tak ingin bertanya lagi. Yang penting pesanan ibu dapat dan aku lolos dari omelan.
Selang beberapa menit aku sampai di toko pak Anam. Empat pack dodol Garut sudah ditangan, aku tersenyum getir melihat isi tas plastik.
"Yaelah tanggal tua, udah duit menipis malah bayar ojek dobel plus tanggungan dodol lagi! Apes bener nasib."
Sedikit kesal tapi mau bagaimana lagi, demi ibu semua akan aku lakukan. Ibu segalanya untukku dan aku sangat menyayanginya.
"Yuk bang kita ke rumah!"
Aku mengubah suasana hatiku dari kesal menjadi riang. Aku tak ingin ibu sedih. Setibanya dirumah aku berteriak lantang dan segera turun dari motor. Tapi aku dikejutkan oleh banyaknya orang dengan pakaian rapi.
"Bu, ada apa ini?" Wajahku pucat seketika.
"Dapet Yu, dodolnya?" Ibuku menyambut sumringah.
"I-iya dapet. Bu, ini ada apaan sih?!" Bisikku setengah bingung.
Ibu tersenyum simpul, ia merapikan rambutku yang berantakan, melepas tasku dan menarik ku ikut bergabung bersama para tamu.
"Ayu, kenalin ini keluarga dari teman kecil kamu. Mereka kesini dalam rangka … melamar!"
"Hah!" Aku menjerit keras dan membuat ibu serta tamunya terkejut.
"Astaghfirullah, Ayuu! Pelanin volume suara kenapa!" Ibu memukul ringan lenganku.
"Eh, maaf! Tapi kok tiba-tiba begini sih Bu!"
"Jadi begini nak Ayu …,"
Salah satu yang dituakan dari keluarga calon besan ibu angkat bicara. Rupanya aku dan calonku sudah dijodohkan sejak kecil oleh kakek dan nenek kami. Kedua keluarga sepakat akan menikahkan kami setelah kami berdua dewasa.
Mereka juga menceritakan asal muasal kenapa bisa terjadi perjodohan. Semuanya bermuara pada satu makanan legit bernama dodol. Oleh-oleh khas Garut ini menyatukan dua keluarga yang tidak saling mengenal. Keluarga calon besan ibu dan keluarga ku dipersatukan oleh bisnis dodol yang dikelola bersama.
Sungguh aku tak pernah menyangka jika ada perjodohan semacam ini. Apalagi kakek dan nenek tidak berpesan apa-apa padaku.
"Sebentar, memang calon saya yang mana?" Aku sedikit khawatir karena dari tamu yang datang semuanya pria paruh baya.
Jangan-jangan aku dijodohkan sama aki-aki bau tanah?! Oh tidak!
"Saya calon suami kamu!"
Mataku membulat sempurna, mamang ojek yang sedari tadi mengantar ku tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai calon suami. Apa ini lelucon?!
Pria kurus tinggi itu melepas helm full face nya. Ya Tuhan, jantungku rasanya mau copot! Dia tampan sekali!
"Mas nya serius? Emang mas … setuju?" Tanyaku dengan kalimat terputus putus.
"Aku sudah banyak cari tahu tentang kamu selama ini." Lelaki yang aku bahkan belum kenal namanya itu mendekat dan bersimpuh padaku. "Ayu, maukah kau menikah denganku?"
Aku mengangguk malu. Semua yang ada di ruangan sontak mengucapkan hamdalah, dan dengan kompaknya berteriak, "Penganten Dodol!"
Gara-gara dodol kami dijodohkan dan gara-gara dodol juga aku bertemu dengan suamiku sekarang Elzaki.