Aku Berdiri Dalam Diam, Menatap Bangunan Di Depanku Dengan Gugup. Sesekali Aku Melirik Tulisan ‘SMAN 1 Mataram’ Di Gerbang Bangunan Itu Untuk Meyakinkan Diri. Kuhirup Nafas Dalam-Dalam Dan Kulangkahkan Kakiku Dengan Gugup, Menembus Kokohnya Gerbang Besar Itu. Aku Masih Takut Jika Kakak-Kakak Senior Masih Mengawasi Dan Siap Membentakku.Namaku Kesha, Umurku 15 Tahun, Dan Hari Ini Adalah Hari Kelima Aku Menginjakkan Kaki Di Sekolah Baruku, Setelah Melewati Masa MOS Selama 4 Hari. Aku Datang Pagi Sekali 'Tidak Mau Mengambil Resiko Untuk Terlambat. Aku Menyusuri Koridor-Koridor Dan Tersenyum Kepada Siapa Saja Yang Kulihat, Mengingat Masih Berlaku Aturan STMJ (Salam, Terimakasih, Maaf Dan Jujur).Suasana Sekolah Masih Sunyi Senyap. Hanya Beberapa Orang Yang Sudah Tiba Di Sekolah. Aku Berjalan Perlahan Menyuri Koridor Menuju Kelasku. Tiba-Tiba Dari Arah Yang Berlawanan Ada Seseorang Yang Berlari -Kencang Sekali' Ke Arahku. Aku Tergagap. Siapa Dan Apa Tujuan Orang Ini?'Selamat Pagi.' Ucap Orang Itu, Yang Ternyata Seorang Laki-Laki Bertampang Manis Dengan Senyuman Cerah.'Pa…Gi.' Jawabku Gugup. Laki-Laki Itu Terdiam, Kulihat Alisnya Terangkat Melihatku. Aku Ternganga Bingung. Apa Maksudnya Laki-Laki Ini? Menyapaku Lalu Seakan Tak Pernah Melakukan Hal Itu!?'Pagi, Evan!' Kudengar Suara Lain Di Belakangku, Suara Wanita. Astaga, Ternyata Laki-Laki Ini Menyapa Wanita Di Belakangku?! Dengan Kepala Menunduk Aku Berjalan Perlahan, Malu.'Kapan Olimpiade Matematika Mulai Pembinaan, Bu?' Tanya Laki-Laki Yang Ternyata Bernama Evan Itu. Langkahku Terhenti. Mereka Membicarakan Olimpiade Matematika! Dan Kau Tahu? Aku Menggilai Matematika!'Besok Sabtu, Evan. Tolong sebarkan kepada adik kelas kami yang mau ikut ya.' Jawab wanita itu. Walau aku tidak memandangnya, Aku sudah tau bahwa Evan sedang mengangguk-angguk paham. Aku masih terdiam di tempatku berdiri, menunggu Evan itu agar aku bisa mendaftarkan diri dalam olimpiade matematika, dan kejadian itu spontan sekali 'Evan lewat di depanku' Dan aku langsung memegang lengannya! Well, maksudnya aku ingin menahannya, karena ia terlihat terburu-buru. Ia memandangku dengan bingung, dan seketika itu juga aku kehilangan kata-kata 'Entah karena apa' dan kuyakin wajahku sudah merah merona. 'Maaf?' Tanyanya hati-hati. Aku berdeham dan melepaskan peganganku pada lengannya. 'Aku Kesha, kelas X-1. Aku ingin mendaftarkan diri dalam olimpiade matematika.' Jawabku gugup. Tiba-tiba wajah bingung laki-laki bertampang manis ini berubah total. 'Ia tersenyum lebar kepadaku' dan ada lonjakan kecil di dadaku, tempat hatiku berada. 'Benarkah? Bagus! Pembinaan akan dimulai Sabtu besok! Oh ya, Perkenalkan namaku Evan Hermawan, Panggil saja Evan, kelas XI akselerasi.' Jawabnya bersemangat, dan ia mengulurkan tangannya tanda berkenalan 'Aku terima uluran tangan itu' dan efeknya adalah debat jantungku menjadi tak beraturan. Aku tak menjawab, aku kehilangan berjuta kosakata di dalam otakku. 'Baik, kesha. Sampai jumpa Sabtu besok!' Serunya sambil melepaskan tanganku. Aku mengangguk dan tersenyum gugup. Saat ia pergi, aku memandangi tanganku yang kurang dari semenit tadi bersentuhan dengan tangannya, dan kemudian apa lagi yang kulakukan selain tersenyum?
Sabtu telah tiba dan aku sekarang sedang bergulat dengan soal olimpiade matematika. Evan selalu membantuku, dan sensasi yang sama setiap dekat dengannya selalu terjadi: Debar jantung tak beraturan, kehilangan kosakata, dan menjadi gugup. Aku menjadi sangat dekat dengan Evan dan kami sering belajar bersama. Terkadang kami berdebat masalah konsep matematika dan penerapannya. Aku sangat senang berada di dekatnya 'Dan aku menyadari satu hal: Aku telah jatuh cinta, Jatuh cinta pada matematika dan jatuh cinta pada Evan' Bolehkah aku merasakan ini? Pada suatu Sabtu yang cerah, setelah pembinaan, Evan menghampiri dengan wajah serius dan menyodorkan kertas berisi pertanyaan: 'Berikan bentuk paling sederhana dari 9 kali - 7i>3 (3 kali - 7u)!' Aku segera mengerjakannya dan kurang dari semenit kemudian sudah mendapatkan jawabannya. Jawabannya adalah...