Riko, itu namaku. Sekitar 9 hari yang lalu aku baru saja pindah ke sebuah desa di ujung kota karena mengikuti ayahku dinas.
Setiap hari aku selalu berjalan kaki untuk pulang pergi sekolah karena sekolahku jaraknya dekat dari rumah.
Setiap hari aku selalu melewati bangunan berlantai 3. Rumah bintang, begitu aku menyebutnya. Meskipun bangunan berlantai 3 itu jelas bukanlah sebuah rumah. Aku menyebutnya rumah bintang karena pada lantai ke-3 nya terdapat ukiran bintang yang cukup besar.
Tak pernah sekalipun aku melihat pemilik rumah bintang di sana, jadi aku selalu penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.
Seperti biasa, aku dan temanku pulang sekolah melewati rumah bintang. Tapi, kali ini kami pulang terlambat karena harus mengikuti latihan upacara terlebih dahulu. Langit saat itu sudah mulai gelap.
Aku berhenti di depan rumah bintang, ukuran bintang di lantai 3 seakan menghipnotisku. Bahuku ditepuk oleh temanku, Alan namanya.
“Ko, ngapain diem aja disini? Ayo pulang, ” ajaknya.
Aku tidak tau, rasanya tubuhku tidak ingin pergi dari sini.
“Riko, ayo pulang, bentar lagi maghrib. Nanti kita dicariin, ” ajak Alan sekali lagi.
Tapi bukannya segera pergi, aku malah berjalan mendekat ke rumah bintang. Kakiku terasa bergerak sendiri, tapi aku sadar. Aku tidak kerasukan jin setan apapun.
“Riko, jangan kesana! ” larang Alan, tapi tubuhku tak mau mendengarkan dan terus berjalan mendekat ke rumah bintang.
Alan berlari menjauh, mungkin karena mengira aku telah kerasukan.
Aku sampai di depan pintu rumah bintang. Kudorong pintunya perlahan, ternyata tidak terkunci. Di dalam ruangan itu cahayanya remang remang, tapi aku bisa melihat isi di dalamnya.
Ruangan itu terlihat sangat luas karena hanya terdapat 1 lemari tua, sebuah karpet di tengah ruangan, dan sebuah kursi di sudut ruangan. Di setiap sudut, menempel begitu banyak sarang Laba-laba.
Aku maju satu langkah. Tiba-tiba pintu di belakangku terhempas dengan keras. Tubuhku merinding dan panas dingin, tidak seharusnya aku masuk ke dalam sini.
Aku mencoba membuka pintunya, menggedor gedornya, tapi pintu itu tak bisa terbuka.
Aku mendengar suara tawa seorang wanita, suaranya halus dan dingin, membuat tubuhku semakin merinding.
Aku mencoba untuk membuka kembali pintunya, tapi tetap tak bisa.
“Siapa kamu?! Jangan ganggu aku! ” bentakku, tapi tawanya malah semakin kencang.
“Diam! Pergi kami! Jangan ganggu aku! ” bentakku sekali lagi.
Suara tawa wanita itu memelan, kemudian menghilang.
“Ini rumahku… ” bisik seseorang dari telinga kiriku. Sontak aku berteriak kaget. Aku sangat ketakutan hingga menangis.
“Maaf, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, " kataku memohon ampun.
Kakiku ditarik dan tubuhku diseret oleh sosok wanita. Rambutnya panjang sampai ke tanah, kukunya hitam panjang, wajahnya pucat dan matanya melotot.
Wanita itu menyeretku ke tengah tengah ruangan. Tangan pucatnya memanjang dan mencengkeram kepalaku. Seketika kepalaku sakit hingga rasanya ingin pecah, dan perutku terasa mual.
Aku mengerang kemudian menutup mataku. Kudengar suara yang begitu riuh di sekitarku. Ketika kubuka mataku, kulihat ramai orang berkumpul. Tenagaku habis, dan aku pun pingsan.
Ketika aku bangun, ibuku memelukku.
“Nak, kamu gak papa? ” tanya ibu. Aku mengangguk sebagai jawabannya.
“Apa yang terjadi, bu? ” tanyaku pada ibu.
Ibu menceritakan semua yang terjadi padaku.
“Tadi maghrib, Alan, temen kamu lari ke rumah kita, dia keliatan panik banget. Dia bilang kamu tiba-tiba berhenti di depan pemakaman. Dia coba ngajak kamu pergi tapi kamu malah masuk ke pemakaman. Kamu ngedeketin pohon beringin di tengah malam. Alan ngira kamu kesurupan, jadi diread dia cari bantuan. Denger cerita Alan, ibu langsung panggil ustadz dan beberapa warga buat bantuin kamu, ” cerita ibu.
“Terus waktu kami sampai di makam, kami liat kamu kayak orang lagi kesurupan, teriak teriak, nangis nangis di bawah pohon beringin. Ustadz ngedeket buat do'ain kamu, terus kamu pingsan, ” lanjut ibu.
“Tapi, bu, Riko gak pernah liat kuburan di sana. Yang Riko liat adalah gedung tiga tingkat. Di lantai tiga nya ada ukiran bintang yang lumayan besar, ” kataku.
Raut wajah ibu menjadi cemas, “ tapi, sejak awal disana memang kuburan, nak, ” kata ibu.
Aku merinding, ternyata aku telah diincar sosok itu sejak awal kepindahaku ke desa ini.
Besoknya aku melewati rumah bintang lagi untuk berangkat ke sekolah. Tapi bukan rumah bintang yang ada di sana, melainkan sebuah pemakaman umum dengan pohon beringin di tengah tengahnya.
Selesai