Aku mencari teman di forum on line, banyak cowok mesum hasilnya. Tapi aku tidak menyerah, karena terkadang aku juga menikmati saat meladeni nafsu mereka. Jangan salah, aku tidak memuaskan mereka dengan tubuhku! Tapi dengan kebohongan-kebohongan yang membuat mereka puas, karena aku hanya menciptakan ilusi untuk imajinasi liar dan bodoh mereka, hihi!
Di hari Jum'at, tepatnya tanggal 10 Februari seseorang yang mengaku dirinya laki-laki mengundang aku melakukan panggilan video dengannya. Aku tidak mendapat informasi apapun dari profilnya yang anonim! Firasatku jelek, ketakutan terbesarku adalah bukan kepala manusia yang muncul tetapi kepala yang lain, jadi aku menggelapkan ruangan agar wajahku tetap anonim.
Sayangnya, laki-laki itu tampan, memakai baju kantoran dan sedang nongkrong di tempat ngopi yang cukup ramai. Sesuai perkataannya di awal, dia ingin terlihat sok sibuk di keramaian itu karena tak ada teman yang menemaninya.
Aku yang masih berpakaian seragam sekolah coklat di sore hari itu, membuka penutup yang menghalangi kamera handphone ku. Dia tersenyum, gigi gingsulnya terlihat manis ditambah garis rahang yang tercetak sempurna. Aku hanya terdiam sampai dia mengungkapkan serangkaian perkenalan padaku, namanya adalah Aries.
Sontak aku menanyakan apakah nama itu di salin dari zodiak kelahirannya? Ternyata tidak, zodiaknya adalah Gemini. Aku salah mengira zodiak dia denganku sama, Aries. Aku turut membalas mengenalkan nama pertama pemberian mendiang ibuku, Gadis Amirahayu yang kemudian diganti tepat di hari peringatan kelahiran ku yang ke 13. Karena kesialan tak berujung, ibu tiriku mengganti nama itu menjadi Laura Miranda.
Aries memuji nama pertamaku, kemudian menceramahi betapa penting dan berartinya nama pemberian ibu kandung. Aku hanya tersenyum menyimaknya, sambil menyembunyikan bahwa sebetulnya pendapat kita sama.
Obrolan-obrolan mengalir dengan tenang, Aries pulang ke rumahnya tanpa mematikan sambungan telepon. Jaraknya lumayan dekat, dia hanya perlu berjalan kaki 10 menitan dan tau-tau sudah sampai di rumahnya.
Di belakang tempatnya duduk, ada lemari berpintu besar dengan ukiran cantik khas jaman dahulu. Meski begitu, lemari itu masih berdiri kokoh di kamar pria dengan tinggi 175 cm itu (menurut pengakuannya).
Dia mulai menceritakan masa lalunya, bersama pasangannya dahulu di masa SMA, yang sudah dia lewati tentunya. Berbeda denganku yang masih menempati bangku kelas 2 SMA. Diceritakan, sekeren apa dirinya dahulu, secantik apa pasangan kasmaran nya di masa itu. Aku sudah menebak bagaimana akhiran cerita itu, dan benar saja. Wanita yang sempat berbagi suka duka dengannya dulu itu meninggalkan dia. Iyalah, tidak ada cowok curhat kalau dia yang menyakiti.
Aku tanggapi cerita mengharukan itu dengan segenap hati, seolah merasakan kepedihan yang dia alami. Kejadian itu sudah lama berlalu, tapi masih ada luka.
Ulu hati ku merespon dengan naif, "oh, cowok ini perlu diobati oleh orang baru!"
Setelah beberapa obrolan pemanis, panggilan video itu berakhir. Humornya receh, aku menyukainya. Dia melanjutkan obrolan di kolom chat.
Satu pekan, chit-chat ku dan Aries berlanjut sepanjang satu pekan! Hormon ku meronta-ronta, gejolak masa muda ku menginginkan cowok itu. Cowok yang lebih tua 7 tahun dariku, tampan dan seorang pemimpi. Tidak! Bukan hanya pemimpi, dia perancang masa depan yang tidak terlena oleh kejayaan sesaat.
Aku jatuh cinta dalam seminggu.
Tak seharipun terlewatkan tanpa bertemu di layar. Jarak antara aku dan Aries tak cukup jauh, melintas dua kota saja kita sudah bisa bertemu.
Tapi, aku siapa, dia siapa? Intinya kita orang asing. Aku remaja dan dia orang dewasa, aku hanya berpikiran untuk bermain-main saja dengannya. Tak apa-apa jatuh cinta sebentar.
Sekiranya, 2 bulan kita sudah berhubungan. Bisa dibilang kita friend zone, dan aku tidak menyayangkan hal itu. Tapi bagaimana bisa seorang teman memposting foto di media sosialnya? Bagaimana jika teman-teman dia melihat? Sebagai apa dia akan menyebutku?
Mengindahkan pertanyaan-pertanyaan sebanyak itu, aku tidak tahu harus mencari jawaban itu kemana. Jika bertanya, aku akan terlihat peduli dan naksir padanya, kan? Ogah!
Belum juga bertemu, dia sudah mau pergi ke lintas pulau. Perantauan ini sudah dia rencanakan sejak lama, jatuh temponya adalah hari itu. Aku menunjukkan kekecewaan ku padanya, dia menenangkan ku dengan mengatakan dia akan kembali dua tahun kemudian. Dua tahun! Tidak menenangkan ku sama sekali! Karena aku yakin saat itu dia sudah dengan wanita lain!
Dia pergi, aku tetap berkontak dengannya. Perbedaannya, tidak ada panggilan video selama kepergian dia. Dia bilang, pekerjaannya cukup berat. Chat ku seringkali diabaikan dan dibalas setelah seminggu berlalu. Aku mengerti dan sebenarnya aku tak begitu kesepian (mungkin).
Suatu hari, dia memposting sesuatu yang menggangguku. Semuanya berkaitan dengan hancur! Hancur! Dan hancur! Akupun menyimpulkan, hidupnya hancur di kota sana. Chat ku belum di balas entah berapa hari, tapi ku beranikan untuk mengiriminya beberapa pesan. Menanyakan kabar.
Aries membalas pesanku sehari kemudian, tebak apa yang dia katakan?
"Aku menjalin hubungan dengan seorang cewek selama dua tahun, dan aku pergi ke kota ini untuk menemuinya. Dia memutuskan ku, pada awalnya dia beralasan karena insekuritas, tapi ternyata dia selingkuh. Aku sudah bekerja keras, menghabiskan sepersekian tabunganku untuk berada di satu kota dengannya. Tapi bagaimana mungkin, dia setega itu?"
Aku terdiam sejenak. Kalimat terakhirnya membuatku tak habis pikir.
Semua teman di sekelilingku mengataiku bodoh, karena aku memilih menenangkan dan menghibur dia yang disia-siakan perjuangannya.