Namaku lilian usiaku 16 tahun. Aku menjadi murid bisa di sekolah sma nero, terkadang nilaiku bagus terkadang nilaiku jelek. Tapi ada satu siswa laki-laki yang nilainya sangat bagus dia seperti sangat sempurna.
Dia adalah hanzel murid yang sangat pintar tapi aku sangat membencinya dan sangat iri dengannya. Karena saat semester kemarin hanzel mendapatkan peringkat pertama kelas ia begitu sangat tidak senang. sedangkan aku saja begitu kesulitan untuk mendapatkan peringkat pertama itu.
1
Pagi yang cerah. Aku berlari tergesa-gesa karena aku telat berangkat sekolah. Angin yang berhembus sampai rambutku berterbangan, burung-burung yang bertebangan di atas kepalaku, tak terasa aku akan sampai di gerbang sekolah.
" Untung saja gerbangnya belum ditutup. " Ucapku dengan keringat yang berkecucuran.
" Masih pagi udah berkeringat saja. " Ucap hanzel yang tiba-tiba muncul di belakangku.
" Yah iyalah, kamu kan berangkatnya pakek mobil. Jadi gak perlu capak-capek untuk berangkat ke sekolah. Udahlah aku sudah males sama kamu. " Jawabku.
Aku pun langsung pergi meninggalkan hanzel. Kenapa sih hanzel terus muncul. Entah kenapa aku ingin sekali mengalahkan kepintaran hanzel. Dia bukan saja pintar tapi dia begitu tajir.
2
Tak terasa sudah beberapa jam yang sudah aku lewati dan beberapa mapel yang sudah aku pelajari. Kali ini akan ada pembagian nilai ulangan bahasa Indonesia. Yah kali ini aku mendapatkan nilai yang bagus yaitu 98.
Saat aku melihat nilai ulangan ku. Aku tidak merasa ada hanzel yang sudah lama di sampingku. Pandanganku tiba-tiba mengarah ke hanzel dan tak sengaja melihat nilai ulangan hanzel dan nilai yang tertulis di ulangan hanzel adalah 100 tapi ekspresinya begitu tidak senang. Aku pun begitu kesal dan meninggalkan kelas.
Aku berlari ke kamar mandi untuk menenangkan diriku, lalu aku mencuci muka ku. Tiba-tiba henpohne ku berbunyi. Aku pun mengangkat telepon itu.
" Halo kenapa mama menelepon? " Tanyaku.
" Lilian setelah kamu pulang dari sekolah. Tolong antara mama ke rumah sakit. Mama ingin mengontrol darah tinggi mama. " Jawab mama lilian.
" Baiklah mama... " Jawabku lalu menutup telepon.
3
Setelah pulang dari sekolah aku mengantar mama ke rumah sakit. Setelah sampai aku pun mengantri di ruang tunggu. Tanpa sadar aku melihat hanzel yang keluar dari tempat pemeriksaan dan ia bicara dengan seorang perempuan? Mungkin itu mamanya. Lalu dia akan mau pergi.
" Mama bolekah saya pergi sebentar. " Izinku kepada mama.
" Boleh, tapi kamu jangan lama-lama perginya. " Jawab mamaku.
Setelah mendapatkan izin aku pun mengikuti hanzel dari belakang secara diam-diam. Aku mengintip pembicaraan hanzel dengan mamanya di balik tembok rumah sakit. Aku mendengar beberapa pembicaraan mereka.
" Bagaimana dengan pemeriksaan tadi? " Tanya mama hanzel.
" Hasilnya nihil, kemungkinan aku tidak bisa bertahan selama 1 tahun kedepan. " Ucap hanzel kepada mamanya.
" Jadi, penyakit jantung mu tidak biasa di tangani oleh rumah sakit di sini. Kalau begitu besok kita akan pergi ke luar negeri untuk mencari rumah sakit yang besar dan terkenal di sana. " Ucap mama hanzel.
" Tidak usah mama. Aku merasa semakin kita jauh pergi semakin jauh harapan itu ada. " Jawab hanzel.
" Tidak apa-apa kita coba saja dulu. " Ucap mama hanzel.
Setelah mendengar pembicaraan mereka. Jantungku terasa seperti teriris kecil-kecil. Rasa kesalku menjadi rasa bersalah yang menumpuk di pikiran aku. Aku begitu iri dengan orang yang kurang sempurna. Dan aku kurang bersyukur dengan diriku sendiri. Ternyata menjadi seorang seadanya tidak seburuk yang aku kira.
Aku paham mengapa hanzel begitu tidak peduli dengan nilainya dan tidak senang dengan nilainya. Karena dia sudah tahu bahwa masa depan tidak akan menantinya. Dan perasaan tidak senang dengan nilainya, dia tahu bahwa nilai bukanlah obat untuk bertahan dirinya di masa depan.