Matahari beranjak pulang, Zoya segera mengendap-endap keluar rumah untuk menemui Alen yang sedari tadi menunggunya di pekarangan belakang rumah. Mereka segera berlari menjauh dari sana lalu menuju pantai untuk merayakan hari anniversary yang ke 4 tahun. Soju dan ramyeon mengisi kehangatan dalam hembusan angin yang kencang, desiran ombak menjadi saksi bisu atas keromantisan mereka.
"Zoya, apa kau masih mencintaiku sama seperti 4 tahun yang lalu?." Alen menatap mata Zoya yang berkilau oleh pancaran sinar matahari.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja jawabannya iya."
"Syukurlah, aku pikir kau tak mencintaiku lagi dan berniat mencari penggantiku."
Zoya terdiam sejenak dengan botol Soju digenggamannya, ia menghembuskan nafas kasarnya dan melirih ke arah Alen
"Ahh, Soju ini terasa pahit, sangat cocok sekali untuk mendengar perkataan seperti itu. Hingga akhir hayat cintaku pupus olehmu, buat apa aku mencari penggantimu?."
Alen menyeringai mendengarnya. Zoya dan Alen bermain air di bibir pantai, mereka saling menyiram satu sama lain hingga kelelahan dan tak terasa matahari sudah kembali pulang.
Sinar bulan purnama menyinari perjalanan mereka, Alen mengantarkan Zoya kembali pulang ke rumahnya, terlihat tangan keduanya saling memberi lambaian seraya tersenyum.
"Goodbye my lover!."
"Goodbye my boy!."
Seminggu telah berlalu, Zoya yang masih bermimpi tiba-tiba terbangun oleh suara ketukan dari pintunya. Ternyata Sena yaitu ibu Zoya yang datang dan menyuruh Zoya segera berpakaian rapi sebab mereka akan kedatangan tamu spesial.
Setelah siap Zoya segera turun dari kamarnya menuju ruang tamu, ketika menuruni tangga ia dikejutkan dengan sosok lelaki tampan di hadapannya bernama Melik, namun hal yang lebih mengejutkannya adalah lelaki itu datang membawa lamaran untuknya.
Zoya awalnya berbisik kecil pada Sena agar menolak lamaran tersebut, namun karena reputasi paling penting Sena menyetujuinya dan tak memperdulikan bujukan putrinya.
"Tidak bu! Aku tidak bisa menerima tawarannya, aku sudah mempunyai kekasih!."
"Siapa yang kau anggap kekasih mu itu?! Apakah lelaki gelandangan yang selama ini menemui mu?!."
"Jangan sebut dia gelandangan! Dia adalah milikku, dia cintaku, dia hidupku!."
"Tutup mulutmu! Sekarang kau pergi masuk ke kamar!."
Zoya segera berlari menuju kamar dan menangis terisak-isak. Tak lama ia mendengar teriakan Alen memanggil namanya di luar jendela kemudian ia menemuinya, Zoya menceritakan semuanya hingga Alen nekat menemui orangtua Zoya pada malam itu juga.
"Apa yang kau punya hingga kau berani meminta kesempatan seperti itu?."
"Saya tidak mempunyai harta, tapi cinta saya pada Zoya seluas samudera. Kami tidak bisa di pisahkan oleh siapapun."
"Huh, siapa bilang tidak bisa? Zoya akan menikah dalam 2 hari lagi, sebaiknya kamu pergi dari kehidupan Zoya selamanya."
"Sekarang pergi kau dari sini!."
Kedua orangtua Zoya mengusir Alen, ia merasa gagal mendapatkan kesempatan menikahi cintanya.
Zoya segera turun dan membentak kedua orangtuanya.
"Anak gak tahu di untung! Demi lelaki kotor itu kau berani melawan ibumu? Sini kau akan aku beri pelajaran."
Zoya di hukum tak boleh keluar kamar hingga hari pernikahan tiba, ia berniat kabur namun pintu telah di gembok Sena dan tak memungkinkan untuk ia kabur melalui jendela dari lantai 2.
Selama terkurung di kamar Zoya hanya bisa menangis sambil mengingat kembali kenangan yang selama ini ia lalui bersama Alen.
Malam berganti pagi seperti biasa Alen datang memanggil Zoya dengan membawa sebuah buket bunga.
"Hai sweetie, are you okay?."
"Everything okay handsome."
"Hmm,, aku bawa buket nih, tangkap yah?."
Alen segera melemparkan buket lalu Zoya menangkapnya. Alen berusaha memasang senyuman di bibir Zoya agar tetap indah.
Ketika Alen berjalan pulang ia diikuti 2 orang asing yang membawa pisau tajam, tanpa aba-aba Alen langsung ditusuk dari belakang, setelahnya jasad Alen dibuang di Hutan yang tak jauh dari rumah Zoya.
Hari pernikahan telah tiba, dengan perasaan tak ikhlas Zoya memakai gaun pernikahannya, ia berjalan menuruni tangga didampingi Sena.
Tanpa sengaja ketika melewati para tamu undangan Zoya mendengar kabar ada mayat yang tergeletak di Hutan belakang rumahnya, usut punya usut mayat itu adalah Alen yang telah di bunuh oleh suruhan Agra, Ayah Zoya.
Seketika Zoya hilang akal dan mengambil sebuah pisau di atas meja makan.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?!."
"Aku? Gila? Ayah adalah orang gila yang aku tahu, kenapa kau membunuh Alen? Apa salah dia?."
"Dia adalah hama, seekor tikus harus di bunuh agar tidak menggangu hasil panen."
"Aku tak menyangka Ayah dan Ibuku akan menjadi monster yang rela merusak kebahagiaan anaknya sendiri, aku pikir aku adalah putri kecil kalian, ternyata aku hanya alat penambah kekayaan."
"Sudah cukup, apa kau tidak malu semua orang menatapmu?."
"Aku tidak malu sama sekali, aku hanya malu jika terus bertahan memiliki orangtua yang kejam seperti kalian, lebih baik aku pergi."
Zoya melepaskan tangannya mengiris urat nadinya, seketika darah bercucuran dimana-mana dan Zoya mulai terbaring lemah. Melik yang baru saja tiba di halaman rumah segera berlari dan memeluk tubuh Zoya seraya menangis, Sena dan Agra juga tertunduk menangis histeris ketika Zoya memberikan senyuman terakhir untuk ketiganya.
Sena dan Agra mengaku menyesal di depan jasad putrinya karena telah membiarkan ego mereka memisahkan Zoya dari Alen
Zoya dan Alen di makamkan bersebelahan, mereka telah membuktikan cinta sejati di dunia tidak ada yang mustahil jika ada kesetiaan. Seperti kata pepatah.
If u die, i will die