Seorang perempuan terlihat khusuk dalam sujudnya. Di atas sajadah yang panjang terbentang, tubuhnya bergetar diiringi Isak yang tertahan. Begitu lama dia bertahan dalam posisi itu.
Siang hari ba'da sholat Dhuhur, seorang pria datang bertamu ke rumah ibu Jumi.
"Maaf sebelumnya, jika kedatangan saya mengganggu waktu ibu.." pria asing itu mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
"Perkenalkan, saya Siswoyo. Saya dari desa S." Bu Jumi hanya mendengarkan dalam diam.
"Maksud kedatangan saya.. saya ingin menyampaikan informasi tentang suami ibu.." Bu Jumi sedikit terkejut dan cemas.
"Ma'af .. ada apa ya? Langsung saja pada inti persoalan." Bu Jumi pun tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.
"Begini, Bu. Suami ibu ada main dengan pacar saya.." Bu Jumi sungguh terpukul mendengar kabar itu. Tidak ingin percaya, tapi..
"Saya tidak berbohong ataupun mengarang cerita. Ini yang sebenarnya terjadi. Mereka berhubungan sudah cukup lama. Semenjak suami ibu mengerjakan proyek di pasar N.."
Tak ingin menyela, Bu Jumi membiarkan orang itu menceritakan semua. Dalam keadaan hati yang tergoncang, dia tetap mendengarkan hingga orang itu akhirnya berpamitan.
Mencoba menguatkan diri. Bu Jumi berjalan lunglai menuju kamar mandi. Mengambil wudlu, berharap bisa mengurangi gundah di hati.
Setelah hatinya sedikit tenang, Bu Jumi melangkah menuju kamarnya. Mengambil mukena dan sajadah. Sajadah dibentangkan, mukena pun sudah dikenakan. Tak lupa membaca niat dalam hati.
Di sinilah dia sekarang. Setelah merasa cukup dalam sujud panjangnya. Bu Jumi masih setia berlama-lama dalam dzikirnya. Airmata tak bisa lagi dia bendung. Rasanya dia ingin menjerit, tapi tak kuasa. Tak ingin orang lain tahu apa yang tengah menimpa. Biarlah dia menanggung derita itu sendiri.
Terdengar langkah kaki mendekat.
"Ceklekk.." seseorang berdiri terpaku menatap ke arah Bu Jumi.
"Bu.." tak ada jawaban.
Seorang gadis muda berjalan ke arah Bu Jumi. Langkahnya terhenti tepat di belakang Bu Jumi. Masih dalam posisi berdiri, gadis itu menatap heran.
"Bu..ibu.."
Air matanya kembali luruh. Bu Jumi teringat kembali tentang kabar kurang mengenakkan yang dibawa oleh tamu tak diundang siang tadi.
Bagaimana dia harus menyampaikan berita itu kepada anak-anaknya? Pikirannya berkecamuk. Kebingungan melanda. Bagaimana masa depan anak-anaknya? Apakah sebaiknya dia menyimpan semua lebih dulu?
"Bu..ada apa?" Dinda akhirnya duduk seraya memeluk ibunya.
Bu Jumi masih terdiam. Namun tangisnya kembali pecah. Dua perempuan beda generasi itu saling memeluk. Larut dalam suasana pilu. Hanya terdengar isakan dari keduanya.
"Bu.. cerita sama Dinda pliss.." Dinda bertanya lagi. Pelukan pun perlahan terurai.
"Bismillah.. ibu akan bicara. Tapi tidak sekarang. Nanti ya..tunggu kakakmu pulang." Bu Jumi berusaha kuat menahan air matanya. Demi kedua buah hatinya, dia harus kuat. Begitulah tekad Bu Jumi.
"Baiklah, Bu. Tapi..ibu baik-baik saja kan?" Dinda begitu mencemaskan ibunya.
"Insya Allah..ibu tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja." Bu Jumi sambil mengusap tangan putrinya.
"Kalau gitu Dinda ke kamar dulu ya, Bu.." Dinda beranjak setelah memastikan keadaan ibunya. Perasaannya tak menentu. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Ada apa ya? Hufffttt.. sudahlah. Lebih baik aku sholat."
Sesaat setelah menyelesaikan aktifitasnya di kamar. Terdengar suara motor sang kakak. Dinda pun keluar menemui kakak semata wayangnya.
"Sudah pulang, kak? Tumben cepet?" Dinda menyambut sang kakak tak lupa mencium tangannya dengan takzim.
"Tumben? Memangnya kenapa? Gak boleh ya?" Dandi membalas perlakuan manis sang adik dengan jitakan di kepala.
"Iihhh...kakak. Sakit tauu!" Dinda sambil mencebik tak terima.
"Hillihh..gitu doang. Dasar cemen.." menerima komplain dari adiknya, justru membuat Dandi melanjutkan aksi julidnya.
"Ish..dasar kakak dur jana! Adik aduin ke ibu kapokk!" Jurus andalan pun menjadi senjata pamungkas Dinda.
"Heh,heh,heh.. ngapain?" Dandi pun dibuat tak berkutik. Merasa tak aman, Dandi berusaha mengajak damai. Tapi bukan Dinda namanya kalau tidak bisa membalas kejulidan Dandi.
Dandi seorang ketua geng motor. Dia sangat disegani. Sebab kepribadiannya yang tidak menyukai kekerasan dalam bentuk apapun. Bahkan di kalangan anak-anak geng motor, yang dulunya memusuhinya akhirnya berbalik menjadi teman.
"Kabooorrrr...wlekk!" Dinda berlari menuju kamar Bu Jumi.
"Asem tuh anak! Hahaha" meskipun kesal dengan tingkah adiknya, tak membuat berkurang rasa sayangnya. Dandi akan selalu menjaga adiknya. Itulah tanggungjawabnya sebagai anak tertua. Harus bisa menggantikan tugas ayahnya kapanpun.
Setelah sholat isya dan makan malam. Bu Jumi mengajak Dinda dan Dandi berbicara. Mereka berada di ruang keluarga saat ini. Bu Jumi mencoba menata hati dan pikiran. Berusaha tetap tegar dan tabah.
"Dinda .. Dandi. Ayahmu.. curang. " menghela nafas sejenak, Hanya kalimat itu yang terucap dari lisan Bu Jumi. Tapi sukses membawa angannya memikirkan sang kepala keluarga.
Dinda dan Dandi saling menatap dalam kebingungan masing-masing. Tak percaya dengan semua yang ibunya katakan.
"Dari mana ibu tahu?" Dandi yang lebih dulu bertanya. Sedangkan Dinda masih diam. Tak ingin percaya ataupun menyanggah.
"Tadi siang ada tamu. Dia mengaku pacar dari selingkuhan ayah. Dia sudah menceritakan semuanya." Bu Jumi pun menyampaikan dari awal sampai akhir tanpa dikurangi ataupun ditambah-tambahi.
"Astaghfirullah..hiks hiks" Dinda akhirnya angkat bicara. Air matanya meluncur bebas. Berharap semua kabar tentang ayahnya itu tidak benar.
Malam itu waktu terasa berjalan sangat lambat. Bu Jumi dan kedua anaknya mendadak terserang insomnia. Hingga berkumandang adzan subuh dari masjid yang tak jauh dari rumah.
Kicau burung bersaut-sautan menyambut terbitnya sang fajar di ufuk timur. Seolah ingin menyampaikan kabar gembira. Suara ayam berkokok seakan tak mau kalah, ikut meramaikan suasana pagi yang cerah.
Sebaliknya dengan suasana rumah Bu Jumi. Nampak lengang dan sepi. Sebab akhir pekan Dinda dan Dandi libur sekolah. Tak seperti biasanya, hari Sabtu kali ini suami Bu Jumi belum di rumah.
"Ayah kok belum sampai rumah?" Bu Jumi bergumam dalam hati. Terbersit dalam pikirannya, "apakah kabar tadi siang itu memang benar?"
Saat tengah fokus pada kegiatan masaknya. Bu Jumi mendengar suara mobil berhenti. Namun tak kunjung ada yang masuk ke dalam rumah. Akhirnya Bu Jumi memilih mengalah. Demi menuntaskan rasa ingin tahunya, Bu Jumi memilih meninggalkan area dapur.
Langkah kaki Bu Jumi terhenti saat matanya menangkap sosok perempuan yang ada di samping sang suami. Nampak keduanya saling melempar senyum.
"Apa-apaan ini?" Bu Jumi tak terima suaminya berbuat seperti itu di depannya.
"Jadi ini perempuan kegatelan itu?" Dada Bu Jumi naik turun. Nafasnya memburu..
"Jawab, yah!!!" Ingin rasanya Bu Jumi kembali ke dapur untuk mengambil pisau.
"Ayah bisa jelaskan semuanya, Bu." Pak Joko berusaha menetralkan emosi sang istri.
"Kenalkan, Bu. Ini Sri." Si perempuan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Senyum yang membuat hati Bu Jumi kian mencelos.
Sejak kedatangan perempuan itu, pak Joko kian jarang pulang. Yang biasanya seminggu sekali, belakangan jadi sebulan sekali. Bahkan rumah sudah ibarat persinggahan.
Sore itu pak Joko ingin menyampaikan niatnya untuk menikah lagi. Sudah pasti calon istrinya adalah perempuan yang dulu dikenalkannya pada Bu Jumi.
Semua anggota keluarga sudah lengkap berkumpul di ruang keluarga. Bu Jumi, Dinda, Dandi, dan pak Joko sendiri.
"Ayah.. harus menikahi dik Sri. Dia hamil sudah 3 bulan." Ucapan pak Joko sukses membuat ketiga manusia di hadapannya terkejut sekaligus sakit.
"Kenapa, ayah? Kenapa haaahhhh?" Dinda menatap manik mata sang ayah. Berusaha mencari sisa kasih untuknya di sana.
"Ma'af.. maafkan ayah.." hanya itu jawaban pak Joko.
Bu Jumi menatap nanar ke arah sang suami. Orang yang dahulu memintanya pada orangtuanya. Orang yang datang dengan sejuta janji manisnya. Berjanji selalu akan membersamai hingga tua nanti. Apakah ini maksudnya?
"Ayah membuatku muak! Aku kecewa sama ayah! Ayah sekarang pilih kami atau perempuan ja Lang itu?!" Dandi ingin semuanya diperjelas. Dia tak mau lagi berlama-lama dalam kegamangan.
"Dandi...ayah tidak bisa lari dari tanggung jawab. Ada calon adikmu yang tidak mungkin ayah korbankan." enteng sekali pak Joko bilang begitu.
"Oh..hebat ya? Prokk prokk prokk" Dandi tersenyum sinis sambil menatap tajam ke arah sang ayah.
"Berarti sudah jelas kan? Ayah lebih memilih mengorbankan kami demi dia yang bukan siapa-siapa!" sakit bagai tergores pisau belati Dandi mengucapkan itu.
"Maafkan ayah..ayah harus pergi.." pak Joko menatap sekilas ke arah Bu Jumi. Dengan langkah pasti dia meninggalkan keluarganya.
Sorry gajebo🤤
Kentang bin buntu😔
,