🌿Eunchae pov.
Lo pernah gak sih ada di posisi, dimana lo mencintai orang tapi orang itu tidak pernah memandang elo sedikit pun?.
Ini tuh kaya, rasanya sakit banget gak sih?.
Dan lebih menyakitkan lagi, orang yang lo cinta itu bucin akut ke sahabat lo sendiri. "Gi gue cantik gak sih?" Rengek Choyeon pada Mingi.
Meskipun gue tau sendiri akan persahabatan mereka yang terbilang lebih lama sebelum kenal gue. Rasa sakit yang ada itu kaya sama saja bahkan lebih, kek lebih sakit gitu.
Iyah, gue sadar mungkin gue gak tahu diri, karena ya mau bagaimana lagi? perasaan itu muncul tiba-tiba, tanpa gue undang dan tanpa gue minta, perasaan itu datang dengan sendiri dengan kurang ajarnya.
Tapi balik lagi ke rasa itu sendiri yang gak bisa di ganggu gugat dan di prediksi sebelumnya.
"Cantik."
"Ih liat dulu sini igi" rengek Choyeon, oh ayolah, gue makin bete liat interaksi keduanya.
Lagian siapa sih yang mau di permainkan sama perasaan bodoh dan membuat lo bertahan buat mencintai orang yang gak lirik lo sama sekali?.
Gak ada yang mau berada di posisi seperti ini, semua orang pun gak ada yang mau termasuk gue.
Gak ada yang mau, karena rasanya sakit, banget.
"Bentar."
"Ih, bagus gak?"
"Hmmm."
"Kok hmmm doang iih?" Pekik Choyeon sedikit kesal.
Mingi sama sekali tak menanggapi Choyeon. Dia masih saja sibuk menulis, menyalin materi pelajaran yang tertinggal karena selama 2 hari kemarin Mingi tidak masuk sekolah.
Do'i sih sakit katanya, setelah pulang dari jalan-jalan bareng Choyron waktu itu.
Eh paginya Mingi langsung meriang gitu, Choyeon sendiri yang cerita semua itu ke gue. Plusnya sambil nangis-nangis juga karena merasa bersalah udah bikin Mingi sakit.
Sumpah najis banget, tapi sialnya dia sahabat terbaik gue, tapi kalau liat interaksi dia sama Mingi yang berlebihan. Gue rasa pengen banget nyembelih Choyeon saat itu juga, tck gue cemburu.
"Igiiii."
"Hmmmm"
Lagi, Mingi cuma dehem seadanya, yang kadang bikin gue juga pusing kalau cuma denger Mingi begitu. Entah kenapa__
"Mingiiii" rengek Choyeon, kali ini gue liat dia menggoyangkan lengan Mingi.
Kaya dari abis liat itu gue cuma bisa nguatin diri sendiri terus bilang, 'sabar' meskipun sebenarnya isi hati gue yang lain terus saja berontak sampai-sampai pingin teriak 'anjir lepasin tangan elo dari Mingi ku'.
Sayangnya gue gak bisa begitu, gua bukan cewek kaya begitu. Gue masih tau diri dengan posisi gue dan kehadiran gue di kehidupan si jangkung.
Dan sehabis ini, kalian tau apa yang bikin gue makin sakit hati berada di antara mereka berdua?.
Iyah, kebucinan Mingi pada Choyeon, itu yang bikin gue makin kesel plus sakit yang teramat sangat. Gila ya, hal itu beneran bikin gue jadi manusia yang iri dengki sama sahabat gue sendiri.
'Gue juga pengen banget ada di posisi itu, gue pengen di bucinin sama si Song kampret Mingi ini'
"Bentaran dulu baby, ini lagi nulis aku-nya yah" kata Mingi seraya mengusap puncak kepala Choyeon.
Yang entah kenapa gue lihat si Choyeon ini langsung menepis tangan Mingi dengan kasar dan menatapnya datar. Cih, munafik banget si Choyeon, gue tau banget sih pasti dia kesenengan abis sebenernya tuh.
Dan dengan tololnya, si gue di sini berusaha menguatkan hati, menjadi diri gue sendiri yang bahkan berbaur dengan situasi saat ini.
"Idiiihhh jijik gue dengernya Gi Gi" kata gue seraya bergidik geli.
"Tau, bucin banget lo berdua. Kapan sih jadiannya kok kagak bilang-bilang?" Tanya Rainie yang kini duduk di sebelah gue.
Gue langsung nunduk seraya berusaha untuk lebih memperkuat tembok pertahanan gue. Gue kesel tapi jangan sampai terlihat begitu jelas karena gemuruh dalam dada gue.
Gue juga cemburu tapi jangan juga di perlihatkan dengan jelas di hadapan mereka bertiga, jangan.
"Kita kagak jadian, lo tau kan kita?" kata Mingi dengan tegas.
"Friendzone teros, bosen gue liatnya" timpal Rainie, yang jujur bikin gue pingin banget sumpel mulut ini cewek nyebelin pake sepatunya kak Seonghwa.
"Tau nih, lama-lama gue pacarin deh Mingi-nya. Gemes gue sama elo" celetuk gue begitu keras.
Kadung kesel dan cemburu yang semakin membara. Jadilah gue berkata demikian, yang sudah pasti dapat respon kurang menyenangkan dari Sehun.
"Lo aja bosen apalagi gue" kata Mingi.
Dia langsung natap gue tersenyum ngasih liat senyum sinisnya "eh tapi Chae, gue cintainya cuma sama Kim Choyeon" kata Mingi lagi, dengan tiba-tiba dia langsung menutup bukunya.
Gue mendecih kecil, demi tuhan gue pengen ngegiling Si Song ini sampe rata kayak triplek.
"Waduh, udah berani terang-terangan nih bocah. Dulu aja ogah-ogahan, Iyah gak?" Senggol Rainie di lengan gue.
Gak tau lah, gue cuma bisa iyain aja sambil senyum seadanya. Gue udah kelewat gedek, males nanggepin mereka berdua.
Kalau mereka bakalan jadi juga, pokoknya sekarang gue bodo amat, gak peduli.
🌿Eunchae pov end.
🌿
Sementara itu ketika Eunchae dengan kentara menunjukkan ekspresi tak sukanya, diam-diam Mingi menyunggingkan sebuah senyuman.
Sangat tipis sekali, mungkin hanya orang yang memiliki fokus tingkat tinggi yang dapat menangkap senyuman Mingi tersebut.
"Chae pulang bareng gue mau?" Tawar Mingi.
Eunchae yang sepertinya tengah sibuk menggerutu dalam hatinya itu pun langsung di buat terkejut oleh ajakan Mingi, dia mendongak untuk menatap pria Song itu dengan tatapan bertanya.
Mingi terkekeh kecil seraya mengusap puncak kepala Eunchae.
Sebenarnya Mingi tak begitu dekat dengan perempuan bermarga Son itu, hanya saja setelah mendengar bisik-bisik tetangga yang mengatakan kalau perempuan itu menyukai dirinya.
Hal itu membuat Mingi sedikit tertarik, tertarik untuk mendekati Eunchae.
"Choyeon gimana?" Tanya Eunchae.
"Gue pulang bareng kak Hongjoong kok, santai aja."
"Gimana?" Tanya Mingi.
Eunchae tampak berpikir, entah berpikir untuk meminang kembali tawaran Mingi atau berpikir untuk mencari alasan dalam menolak ajakan Mingi.
Entahlah, hanya Eunchae yang tau mengenai isi kepalanya sendiri.
"Aku ada janji sama kak Hwa" kata Eunchae seraya menyunggingkan senyuman manisnya.
Namun, hal itu tak di sukai Mingi hingga membuat pria Song itu langsung menunjukkan ekspresi dinginnya, ketika Mingi sadar kalau Eunchae berusaha menghindar dari dirinya.
"Rai" panggil Mingi.
"Hmmm?"
"Kak Hwa bukannya ada latihan padus yaa?"
"Iyah ada sampe sore bareng gue" jawab Rainie.
"Lo gak ada alasan yang lebih baik lagi gitu Chae?"
Eunchae tampak memejamkan kedua matanya seraya menghembuskan nafas beratnya dengan perlahan.
🌿
Dan setelah tiba saatnya pulang sekolah, Eunchae benar-benar di antar pulang oleh Mingi menggunakan motor matic milik Mingi.
Ya, kalian bayangin aja dah orang jangkung pake motor matic terus boncengin Eunchae si manusia paling mungil seantero sekolahan.
"Elo selalu aja ngehindar dari gue akhir-akhir ini, kenapa sih?" Tanya Mingi tiba-tiba.
Eunchae hanya terdiam di belakang, bukannya tak dengar, Eunchae sangat mendengar perkataan Mingi dengan jelas. Namun dia bingung harus menjawab apa, jadi ya dia pura-pura gak denger aja.
Toh ini posisinya lagi di perjalanan, jadi ada banyak alasan kenapa Eunchae gak perhatiin kata-kata Mingi.
Eunchae merasa dirinya sudah sangat aman sebelum pada akhirnya, si Song ini berhentiin motornya di salah satu kedai kopi di pinggir jalan.
"Kok berhenti?"
"Kita perlu bicara dan ngopi juga" kata Mingi.
"Gue gak suka minum Kopi Gi" kata Eunchae.
"Tapi gue-nya suka Chae, jadi gimana dong?"
"Tau gitu mending gue pulang sendiri" sewot Eunchae, dia mengembalikan helm milik Mingi lalu pergi.
Namun sebelum jauh Mingi tahan tangan Eunchae "gue mau bahas sesuatu sama elo, ini penting pake b-g-t" kata Mingi.
"Bahas apaan sih, tumbenan!"
"Yaa, soal perasaan elo" kata Mingi.
"Astaga Mingi" erang Eunchae, dia memejamkan matanya sejenak.
"Serius ya, gak ada yang perlu di bahas soal perasaan gue, gue udah cukup tau diri kok buat gak ganggu hubungan elo sama Choyeon. Jadi lo gak usah kasih peringatan apapun dan nyuruh gue berhenti buat suka sama elo Gi" cerocos Eunchae tak tertahankan.
Mingi jelas dibuat sedikit terkejut tentunya, tapi hal itu tak menyurutkan niat Mingi dalam menahan keberadaan Eunchae. Si Song itu menyunggingkan senyuman manisnya di hadapan Eunchae hingga membuatnya keheranan sendiri.
Terlebih dahulu Mingi membawa Eunchae duduk di meja terdekat dalam kedai itu, memesan makan dan minum untuk dirinya juga Eunchae.
"Gue gak akan nyuruh elo buat berhenti suka sama gue kok Chae, tenang aja. Malahan yang ada gue seneng" kata Mingi membuat Eunchae langsung mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Seneng gimana? M-maksudnya apa nih?"
"Ya seneng lah, soalnya gue juga suka sama elo!" Kata Mingi.
Mendengar itu Eunchae hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali, tak begitu percaya akan apa yang Mingi katakan padanya.
Jadi, Mingi juga menyukainya?.
"Mustahal!" Gumam Eunchae.
"Mustahil Chae" kata Mingi terdengar datar.
"Eh iya itu maksudnya. Tapi tunggu, kok bisa Lo suka sama gue?"
"Ya bisa lah, dan karena lo juga suka gue. Jadi, bagaimana bisa gue nyuruh elo berhenti sedangkan gue juga suka sama elo Son Eunchae, itu konyol" jelas Mingi.
"Tapi Choyeon bagaimana?"
"Tck, apa sih kok malah bahas Choyeon?" Kata Mingi di iringi decakan kesalnya.
"Karena elo masih suka sama Choyeon meskipun Choyeon udah sama kak Hongjoong Gi. Itu masalahnya!!" Pekik Eunchae.
"Kata siapa gue masih suka sama Choyeon, gue udah move on dari lama kali, kemana aja lo?!" Balas Mingi seraya memekik dengan tak kalah kerasnya dari Eunchae, jelas Mingi tak terima dikata demikian oleh Eunchae.
"Boong banget, tadi aja lo masih bucinin dia tuh. Pake segala manggil baby lagi, sumpah ngeselin" cerocos Eunchae.
Melihat itu hati Mingi semakin menghangat, dia menopang dagunya seraya menatap gemas perempuan mungil yang saat ini tengah mengerucutkan bibirnya di hadapan Mingi.
"Ya yang tadi itu kan sengaja."
"Sengaja apa?" Pekik Eunchae.
"Sengaja buat manasin elo, biar makin ngebul pala elo Chae. Sumpah yaa tadi tuh lo lucu banget, apalagi kalau lagi merah gitu mukanya, kek apa yaa? Kek pantat monyet gak sih?"
"Apa lo bilang?!" Pekik Eunchae terdengar semakin marah dan hal itu tentu mengundang gelak tawa bahagia dari si pria Song.
"Bercanda sayang!"
Eunchae memanyunkan bibirnya "elo tuh sebenernya beneran suka gue gak sih?" Kata Eunchae.
"Ya beneran lah, masa boongan, gak percaya? Apa perlu gue belah dada gue buat nunjukin kalau dihati gue cuma ada nama elo?"
"Song Mingi!!!" Rengek Eunchae, malu rasanya, Song Mingi benar memalukan.
Eunchae jadi bingung, apa dia benar menyukainya apa rasa itu hanya sesaat dan saat ini sudah menghilang?.
"Ehehehe, jangan belah-belag dada deh, sakit! Mending belah duren aja yaa"
"Serah elo deh, cape gue."
"Tapi sumpah, cemburunya seorang Son Eunchae ternyata gemesin gini, gue jadi makin suka sama elo deh."
"A-apaan!! Harus banget lanjut bahas yang tadi?"
"Yaudah bahas yang lain aja. Jadi, mending kita pacaran yuu, kebetulan banget gue suka sama cewek imut semodelan elo gini chae" kata Mingi.
Bughhh...
"Mingi!! Sumpah demi sempak pink-nya si yunho, elo ngeselin banget" pekik Eunchae seakan tak peduli ringisan Mingi setelah ia pukul perutnya.
"Shh, anjir chae, tenaga lo bukan komedi."
"Dasar babi, mending anter gue pulang sebelum gue bener-bener emosi dan makan elo."
"Jawab dulu, gue nembak elo heh nyet" kata Mingi.
Eunchae malah merasa malu karena Mingi yang mengatakan itu dengan suara yang cukup keras hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung kedai yang lain.
"Gak mau jawab."
"Yaudah kalau gitu, gak mau anter ah. Pulang aja sono sendiri, udah mah gue di pukul, minta anter lagi. Bener gada adab banget jadi manusia" cibir Mingi.
"Song Mingi" rengek Eunchae.
"Buruan jawab dulu sebelum gue tembak elo lagi pake pistol beneran" kata Mingi.
"Apa sih kok jahat?" cicit Eunchae seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ampun makin gemesin, yaudah gak perlu jawab deh, mulai sekarang kita pacaran."
"Apa banget!!" Pekik Eunchae lagi.
"Bukan apa-apa, hanya saja seorang Song Mingi tak bisa menerima penolakan dalam bentuk apapun."
"Dih pemaksaan."
"Bodo amat, pokoknya kita resmi pacaran mulai sekarang."
🌿S e l e s a i . . . 🌿