Matahari bersinar terik mengganggu sebuah tidur lelapku pagi itu.sebuah mimpi yang membuatku merasa mengingat kembali atas kejadian yang telah berlalu. Diriku terduduk di atas ranjang empuk sembari melamun mengingat hal yang baru saja terbayang.Sejenak, aku hanya menatap langit-langit kamar. Mataku masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam.
Mengapa?mengapa selalu pria itu yang bermunculan di dalam isi benakku.
Aku menutup kedua telingaku kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air mata bergulir di pipi. Membenamkan wajah ke dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya, aku sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Aku tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringku menuju kegilaan. Hanya karna pria itu yang selalu membuatku dihantui oleh perasaan yang mendalam.
Mataku terasa panas, memutar kembali memori kelam masa itu...
Semua itu berawal dari perasaanku yang terus bermunculan ketika melihat sesosok wajah tampan yang selalu lewat dengan kekurangannya.Matanya yang indah dihiasi bulu mata yang lentik, hidungnya yang menjulang tinggi, kulit yang memiliki hiasan bekas jerawat dan bibir tipis yang hanya bisa tersenyum walau tidak bisa mengeluarkan suara indah.dia bisu...melihatnya sedang membelai sebuah makhluk kecil yang memiliki bulu halus dengan wajah yang dihiasi senyuman sedang terduduk di pinggir jalan. Aku menghampirinya, dia tersenyum sembari dengan sigap mengambil sebuah ponsel nya dan sibuk mengetik untuk sekedar menyapa ku melalui sebuah kalimat yang berarti itu
"Selamat siang rina, bagaimana kabarmu hari ini?"
Aku tersenyum melihat sebuah kalimat yang selalu ia tanyakan di setiap hari- hariku.iya,dia sastra. Seseorang yang selalu membuat hari hariku terasa jauh lebih indah dengan sebuah pertanyaan andalannya
"Cukup baik sastra,bagaimana denganmu?"
Sastra menjawab pertanyaanku dengan perasaan yang sama juga. Tidak lupa dengan ukiran senyum yang selalu terpasang di wajahnya.
Dibalik senyum indahnya, terdapat sebuah pukulan yang selalu memberikan kesan indah yang terukir di punggung lebarnya.kekurangan itu menjadikan suatu hal yang membuatnya terjebak di dalam situasi seperti ini, bentakan demi bentakan selalu terdengar. Dengan kepala menunduk sastra selalu menangis terdiam.
Ia menikmati semua hal yang terjadi karena ia tau bahwa suatu hari akan ada hari yang selalu ia tunggu tunggu kehadirannya.hari dimana ia mengeluarkan isi penatnya, hari dimana ia bisa tersenyum abadi, hari dimana ia tidak harus mendapat sebuah bentakan dan ocehan di tiap harinya.
hari dimana ia menyerah atas apa yang dideritanya...
Laki laki itu menghampiriku dan memberi sebuah buku catatan yang bertuliskan
" 7 hari bersama sastra "
Didalam buku itu,terdapat beberapa kegiatan yang harus mereka lakukan. Ntah apa alasannya, rina tidak curiga atas apa yang dilihatnya dan hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Aku menjawab " iya nanti kita lakukan untuk seminggu kedepannya "
Kubalik lembaran demi lembaran hingga terlihat sebuah kertas terlipat sempurna yang dibawahnya bertuliskan
" kertas ini hanya boleh dibaca setelah 7 hari bersama sastra telah habis dilakukan, baca ketika malam hari selepas hari ke 7 bersama sastra "
Dihari ke 7 sebelum kami benar benar berpisah sastra memelukku erat.Aku memandangi wajahnya tak sedetik pun beralih walau kami berada di tempat umum yang seharusnya bukan tempat kami melepas rasa rindu yang mendalam.seakan takdir kedewasaan ditukar oleh malaikat, Ia menenangkan aku dan terus-menerus menenangkan. Merasa aneh atas apa yang diperbuatnya, perasaanku tiba tiba bergejolak, hatiku seperti diserbu oleh ratusan panah
Ada apa ini?setelah ini akan baik baik saja bukan? Pertanyaan itu terus menyerbu pikiranku bersama dengan pelukkan sastra yang menjadi pelukkan terhangat sekaligus pelukkan terakhir yang akan aku rasakan.
7 hari yang memberikan kesan indah sekaligus tangisan keras yang membuatku tidak mempercayai atas apa yang telah kulihat dengan mata kepalaku sendiri.
From : sastra
To : rina semestaku
Sebelum sastra menyampaikan hal utama disini, kamu harus berjanji untuk tidak menangis. Perlu yang harus kamu ketahui, 1 hal yang akan selalu menjadi 1 kata untuk kamu adalah sastra sayang rina. Setelah ini belajar mandiri ya? Maaf sastra sudah tidak dapat lagi memelukmu disaat kepalamu di isi oleh keributan keributan itu,maaf tidak bisa membahagiakanmu, maaf atas kesalahan kesalahan yang secara sadar maupun tidak sadar telah saya berikan.maaf atas semuanya rina,maaf maaf maaf...maaf telah membuat surat ini.disini sastra hanya ingin menyampaikan isi hati sastra yang sastra pendam selama ini. Maaf menyerah secepat ini, sastra tidak sekuat itu rina untuk menahan semua beban yang ada di punggung sastra. Sakit..ketika selalu dituduh pembunuh oleh seorang pembunuh sebenarnya dan dunia tidak pernah berpihak kepada sastra. Kenapa dunia jahat ya kepada sastra?sastra salah apa sampai sampai tuhan tidak pernah memihak kepada sastra? Boleh kan menyerah secepat ini. Sastra harap dengan kehadiran sastra di kehidupan rina akan menjadi salah satu toko abadi yang akan selalu rina kenang dalam sebuh memori indah. Sastra tau rina tidak ingin semua hal ini akan terjadi...maaf belum pernah jujur atas apa yang telah sastra derita selama ini. Rina cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhir sastra hingga hembusan nafas terakhir.terima kasih atas segalanya semestaku,rina.
Sesak, itu yang kurasakan ketika membaca secarik kertas yang membuat tangisanku akhirnya pecah.tangisan yang tak akan bisa kubendung, teriakan demi teriakan terus terdengar bersama tarikan rambut pada kepala yang helai demi helai berjatuhan dengan air mata.kertas itu kuambil dan kuremas kemudian kubuang pada tong sampah pada ujung kamarku.Aku memandang ke sekeliling, masih dengan perasaan kalut, diriku segera bergegas
mengambil sebuah kunci motor yang akan menjadi kendaraanku menuju pekarangan rumah yaitu tempat yang menjadi neraka bagi sastra. Kugedor pintu rumahnya sambil menyebut namanya
" SASTRA!" Hening, tidak ada seorang pun yang membukakaan pintu untukku ataupun balasan dari salamku.
hilang sudah kesabaranku hingga terdengar sebuah benda seperti kursi jatuh.Aku langsung begegas masuk tidak memperdulikan sopan santun menuju sebuah ruangan yang menjadi ketakutanku
Krekk ( suara pintu terbuka )
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat sekarang, tangan bersimbah darah dengan pisau berlumuran darah jatuh tergeletak begitu saja dan seseorang yang sangat amat kukenali tergantung bebas di atas atap kamarnya.sejenak leherku terasa tercekik, kelumpuhan seakan menyerang seluruh anggota tubuhku. Aku terjatuh di ruangan itu bersama kegelapan yang menjemput
Tempat ini benar-benar memberikan kesan yang sangat indah namun sangat pula mengerikan bagiku, hingga selamanya aku akan membenci diriku sendiri. Malam itu, di hari itu aku selalu dan akan seterusnya merasakan kesedihan yang mendalam. Malam itu yang membuat sosok diriku hilang sepenuhnya karna separuh jiwaku telah habis bersamanya.
Jatuh cinta itu menyakitkan, seluruh cintaku telah habis di dalam dirinya. tidak ada yang bisa kulakukan selain kembali menangis dan menangis mengingat kisah tragisku yang menyadarkan bahwa menyetujui sosok pepatah yang mengatakan bahwa cinta kita telah habis di orang lama.aku sangat menyetujui hal itu...
Cintaku telah habis di sastra, dia yang selalu menemaniku dikala hari hari burukku yang selalu mengurungku di sebuah kegelapan yang pekat. Sembari di kegelapan itu, sastra selalu mengulurkan tangannya dan memelukku erat dihiasi kata kata penenang.
Tidak ada alasanku untuk melanjutkan kehidupan yang keras ini
"Sastra semestaku, namamu akan selalu menjadi ukiran indah di dalam benakku.dikehidupan selanjutnya aku harap kita akan menjadi sepasang kekasih yang memiliki cerita hidup paling indah disepanjang waktu. Rina sayang sastra"
dan surat terakhirku pada catatanku sebelum aku bunuh diri.