"Aku menyukaimu Vin!" ucap Shasya yang membuat Vina membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, padahal Shasya adalah sahabat dekatnya, benak Vina bertanya-tanya. Hatinya merasa dikhianati.
"Tapi aku ini cewe Sya! dan kamu tahu kan aku juga sedang pacaran sama Candra!" Vina mengernyitkan dahinya.
Shasya terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya. Vina yang merasa kesal membalikkan badan dan berjalan perlahan menjauh dari sahabatnya.
"Aku nggak bisa!" Shasya berteriak dan menghentikan langkah kaki Vina.
"Aku nggak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta!" ungkap Shasya matanya mulai berkaca-kaca. Vina menatap Shasya yang sudah mulai berlinang air mata, karena dia tak pernah melihatnya menangis sebelumnya.
"Ini perasaan yang salah Sya! aku nggak bisa!" ucap Vina dengan nada tinggi lalu beranjak pergi meninggalkan Shasya.
***
Keesokan harinya, Vina akan berangkat sekolah. Saat dia keluar dari rumah, Vina memilih berangkat ke sekolah sendirian. Padahal biasanya dia selalu berangkat bersama Shasya yang rumahnya tepat berada di seberang jalan.
Di sekolah Vina berusaha menjauh dari Shasya sebisa mungkin. Bahkan dia rela duduk di belakang agar tidak sebangku dengan sahabatnya itu.
Candra mencondongkan kepala ke dalam kelas, dia tersenyum lebar ketika melihat kekasihnya Vina. Vina pun segera berjalan mendekati Candra, wajah mereka terlihat tersipu malu.
Wushh!
Shasya melingus begitu saja dari Candra dan Vina yang ada di depan pintu. Vina meliriknya dengan sinis, dia tidak percaya sahabatnya yang dulu selalu bersamanya sekarang sudah menjadi musuhnya.
"Vin, nanti malam kita ke mall yuk!" ajak Candra.
"Mmm. . . Bisa aja, nanti jemput aku ya!" balas Vina pelan.
"Ya iyalah! masa cewe yang jemput cowo, ada-ada aja kamu," ucap Candra sambil cekikikan.
Shasya yang melihatnya hanya menampakkan wajah datar dan sendu. Dia tampak kelelahan dengan kantong mata di wajahnya.
***
Jam 7 malam Vina sudah menunggu Candra di depan rumahnya. Sesekali dia memainkan ponselnya agar tidak bosan.
"Sudah! aku nggak sudi lagi tinggal di sini!" suara lelaki yang terdengar marah.
"Pergi saja sana!! aku nggak peduli!" suara wanita diiringi isak tangis.
Vina kaget dan langsung melepaskan ponselnya untuk mencari tahu dua orang yang sedang bertengkar itu.
Ternyata itu adalah ibu dan ayahnya Shasya yang sedang bertengkar. Ayah Shasya terlihat membawa tas besar dan masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Ibu Shasya terlihat menangis sambil memarahi suaminya. Vina berusaha melihat ke segala sisi rumah tersebut tapi dia tidak melihat sama sekali keberadaan sang sahabat.
Keesokan harinya, pada saat Vina akan berangkat sekolah, dia terdiam menatap rumah Shasya. Pikiran Vina berkecamuk memikirkan apakah dia harus melihat keadaan Shasya atau membiarkannya saja.
Posisi matahari mulai bertambah naik menandakan Vina sudah kehabisan waktu untuk pergi ke sekolah, dia pun segera berlari menuju sekolah sendirian.
"Mungkin dia sudah berangkat lebih dulu," Vina bergumam memikirkan sahabatnya.
Saat di sekolah Vina juga tidak melihat Shasya dimanapun, semakin membuatnya khawatir. Mungkin selama ini sahabatnya itu sedang mengalami masalah yang sulit.
Pulang sekolah, Vina kembali menatap rumah Shasya namun dia masih merasa ragu untuk menemuinya. Dia terlalu takut Shasya akan salah paham. Rumah itu pun juga terlihat sangat sepi.
Hari selanjutnya di sekolah, Vina masih tidak melihat Shasya hadir. Tapi dia masih berusaha berpikir positif, bahwa tidak ada hal yang terjadi pada sahabatnya itu. Sebab dimata Vina, Shasya adalah orang yang kuat, dia selalu tampak bahagia dan ceria.
Di hari yang selanjutnya, Shasya juga tidak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan, para guru mulai menanyakan kebaradaannya, karena dia sudah 3 hari absen tanpa alasan yang jelas.
Vina yang rumahnya dekat dengan Shasya menjadi sasaran para guru bahkan teman-temannya untuk menanyakan keberadaan gadis itu. Vina hanya menjawab bahwa Shasya sedang mengalami masa yang sulit saat ini. Namun, Vina masih bersikeras tidak ingin menemui Shasya, karena pengakuan Shasya padanya beberapa hari yang lalu, benar-benar membuat dia trauma untuk berdekatan dengannya.
***
Satu minggu berlalu, keberadaan Shasya masih tidak terlihat. Akhirnya para guru berinisiatif untuk melihat keadaan gadis tersebut ke rumah.
"Vin, Shasya nya ada di rumah kan?" tanya Bu Sinta yang merupakan wali kelasnya Vina dan Shasya.
"Aku nggak yakin Bu, akhir-akhir ini aku nggak ada lihat dia," jawab Vina pelan.
"Kenapa kamu nggak cek dia ke rumahnya, kan jaraknya cuman beberapa langkah dari rumahmu toh!" ucap Bu Sinta santai. Vina hanya tersenyum untuk meresponnya.
"Ya sudah Bu Sinta ayo kita berangkat sekarang!" ajak Bu Wanti yang merupakan guru Bimbingan Konseling di sekolah itu.
***
Vina pulang dari sekolah, kali ini dia di antar oleh Candra dengan motor. Saat sampai di depan rumahnya, Vina dibuat kaget melihat banyak orang berkerumun ditambah ada mobil polisi dan ambulan tepat di depan rumah Shasya.
Vina segera turun dari motor Candra dan berlari ke rumah Shasya.
"Vin!" Candra berteriak karena melihat Vina yang tiba-tiba turun.
"Tunggu, ada yang harus kuperiksa kau pulang dulu saja ya!" ucap Vina yang membuat Candra menghela nafas panjang, mendengar rencana kencannya ke taman bermain dibatalkan.
Dengan ekspresi wajah yang takut dan penasaran, Vina melewati orang-orang berkerumun di tempat itu.
"Vina, Shasya!" tegur Ibunya Vina sambil menangis.
"Ada apa Mah? Shasya kenapa?" tanya Vina penasaran.
"Dia udah nggak ada!" ucap Ibunya Vina sambil memeluk putrinya yang saat ita sangat kaget mendengar kabar itu.
"Nggak mungkin! ini nggak mungkin!" Vina merasa tidak percaya.
Polisi yang keluar dari rumah Shasya, menarik perhatian Vina. Dia pun mengejar dua polisi yang sedang menggotong mayat itu, untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Ibunya tidak benar.
Dia membuka kantong mayat itu dengan tergesak-gesak. Setelah melihat mayat itu Vina langsung mundur dan terduduk di tanah, tatapannya terlihat kosong karena sangat kaget dengan apa yang dia lihat dengan matanya sendiri. Iya, Vina melihat mayat Shasya yang sudah terbaring tak bernyawa dengan bekas sayatan di urat nadi tangannya.
Vina langsung menangis sejadi-jadinya. Semua orang berusaha menenangkannya. Namun apalah daya, penyesalan Vina sudah tidak berarti sekarang.
~TAMAT~