Suatu sore, hujan turun deras sehingga halaman rumah sangat basah. Rita mulai merasa bosan dan berharap bisa bermain sesuatu. Untunglah Ibu mengerti kalau Rita sedang bosan.
“Ayo, bantu Ibu bikin wedang ronde! Kan, enak diminum saat udara dingin begini,” ajak Ibunya.
“Ayo, Bu!” seru Rita girang.
Tak ada yang lebih menyenang-kan dibanding dapur yang nyaman dan hangat. Rita suka sekali mencium aroma gula merah dan jahe. Kebetulan, kedua bahan itu pasti ada dalam pembuatan wedang ronde.
Ibu menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat wedang ronde. Serai, jahe, gula merah, tepung ketan, kacang tanah, roti tawar, kolang kaling, dan agar-agar. Semua bahan diletakkan di meja makan. Rita terbelalak melihat semua bahan yang lengkap itu.
“Wah, Ibu memang sudah niat bikin wedang ronde, ya? Semua bahan sudah ada di rumah. Rita tidak perlu ke warung ya..” tanya Rita.
Ibu tersenyum. “Minggu ini, kan, hampir setiap hari turn hujan. Ibu sudah rencana mau bikin wedang ronde sejak minggu lalu. Tapi lbu kerepotan kalau harus bikin sendiri.”
Rita tersenyum lebar. “Tenang, Bu! Sekarang, Ibu tidak bakal kerepotan. Kan ada Rita. Bagi tugas saja sama Rita..
Ibu mengangkat kedua jempolnya.
“bu memang beruntung punya anak seperti Rita!”
Rita tersipu dipuji ibunya.
Namun, ia buru-buru memasang telinga saat ibunya menjelaskan apa tugas-tugasnya.
“Rita tolong takar ya, semua bahan wedang ini sesuai catatan Ibu. Sementara, Ibu mau menguleni tepung ketan,” kata Ibu sambil meminjamkan buku kecilnya yang berisi berbagai macam resep camilan sore. Buku kecil itu sebetulnya milik Nenek yang diberikan pada Ibu. Itu sebabnya, buku itu berisi tulisan Nenek.
Rita melihat ibunya menimbang 100 gram tepung ketan. Lalu dicampur dengan segelas air panas. Ibu kemudian menguleni adonan itu. Rita juga segera mengerjakan tugasnya. Sambil membaca catatan resep, Rita menyiapkan dua batang serai. la juga menyiapkan 8 potong jahe, mengupas dan memotongnya kecil-kecil.
Rita lalu mengambil 10 lembar roti tawar dan memotongnya kotak-kotak. 50 gram kolang kaling juga ia bersihkan dan potong-potong. Di atas meja, sudah tersedia kacang tanah yang sudah disangrai. Sesuai resep, Rita segera mengulek kacang hati-hati, menghaluskannya. Lalu mencampurnya dengan gula pasir.
Pada saat Rita selesai mengulek kacang, adonan Ibu juga sudah jadi. Ibu membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil seperti bakso. Itulah yang disebut dengan ronde. Ibu kemudian merebus air.
“Ayo, bantu Ibu isi ronde dengan kacang campur gula buatanmu!” kata Ibu.
Rita memerhatikan saat Ibu memberi contoh. Jari Ibu tampak mencolok bulatan ronde sehingga membentuk ceruk. Lalu mengisi bagian ceruk dengan kacang gula. Jari Ibu dengan cekatan lalu menutup adonan ronde sehingga kacang gula halus kini berada di dalamnya.
Mula-mula, jari Rita sangat kaku saat mengisi kacang gula ke dalam bulatan ronde. Namun lama-lama ia bisa melakukannya dengan baik. Kacang gula bisa masuk rapi dan tidak tumpah-tumpah ke meja.
Setelah semua bulatan ronde selesai diisi, Ibu merebusnya di air yang tadi Ibu didihkan.
“Ibu mau siapkan kuah wedangnya. Rita bisa kan, bantu mengangkat ronde yang sudah matang. Letakkan di wadah yang sudah Ibu siapkan,” kata Ibu.
“Bagaimana Rita tahu, kalau ronde sudah matang, Bu?” tanya Rita.
“Kalau sudah mengambang di permukaan air, itu tandanya sudah matang.”
“Oo, Rita baru tahu.”
Sementara itu, Ibu merebus air di tungku lain. Ibu memasukkan larutan gula, jahe dan serai yang sudah digeprek ke dalam rebusan air. Ibu lalu menutup pancinya.
“Nah, sekarang tinggal menunggu tercium aroma segar dari jahe yang sudah menyatu,” kata Ibu. Tiba-tiba, mata Ibu mendelik, ia berlari ke lemari pendingin.”Astaga, bu hampir lupa. Agar-agarnya belum dipotong-potong!”
Ibu mengeluarkan wadah berisi agar-agar yang sudah mengeras. Pasti Ibu bikin tadi pagi-pagi sekali, pikir Rita. Ibu lalu memotong agar-agar itu berbentuk kotak-kotak kecil seperti potongan roti Rita tadi.
“Rita tolong letakkan lima mangkok kecil, ya, di meja tamu!” kata Ibu lagi.
“Siap Bu!” seru Rita bersemangat. la mengeluarkan lima mangkok dari lemari piring. Lalu mengaturnya rapi di meja tamu. Sambil meletakkan, Rita berpikir, apakah Ibu akan kedatangan tamu?
Baru saja Rita akan bertanya, tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Rita bergegas membukanya.
“Neneeek, Tante Nia!” seru Rita girang sambil memeluk mereka.
“Wedang ronde buatan Rita sudah jadi ya?” tanya Nenek.
Wah, Rita heran, karena Ibu sempat-sempatnya menelepon Nenek memberitahu kegiatan mereka berdua hari itu.
“Ibu, dik Nia, ayooo cicipi wedang ronde Rita,” seru Ibu yang muncul dari dapur. Ibu membawa nampan berisi wadah besar berisi kuah wedang. Juga wadah-wadah kecil berisi kolang kaling, potongan agar-agar, dan roti tawar. Rita berlari ke dapur mengambil satu wadah lagi berisi ronde rebus.
Kini, bahan-bahan wedang ronde sudah lengkap di meja tamu. Rita, Ibu, Nenek dan Tante Nia menikmatinya. Mereka mengisi mangkok kecil masing-masing dengan ronde, kolang kaling, potongan agar-agar dan roti. Lalu menyiraminya dengan kuah wedang.
“Hangat dan enaaak..” seru Rita, kagum sendiri dengan hasil pekerjaannya bersama Ibu.
Tak lama, Ayah pulang dari kantor dan ikut menikmati wedang ronde Rita. Rita tak menduga, hujan di sore hari tadi, betul-betul bermanfaat baginya.