Nama gue Ryan Aditya Pratama,gue anak tunggal, umur gue 17 tahun. Gue anak yang cukup berada, rumah gue lumayan besar. Tapi jujur, gue bosan hidup seperti ini, gue sendiri karena kedua orang tua gue pergi.
Gue penderita leukemia stadium akhir, gue di fonis leukemia diumur 10 tahun. Dua tahun awal gue semangat banget kemo karna gue pengen sembuh, mama papa adalah alasan terbesar kenapa gue mau sembuh. Tapi semuanya berubah setelah kepergian papa, ya papa tidur selamanya.
Sejak kepergian papa mama sangat terpukul, dan semenjak itu sifat mama berubah. Mama menjadi pendiam, dingin, bahkan tubuhnya menjadi kurus. Mama sampai lupa jadwal kemo gue, yang mengakibatkan gue drop dan tingkat stadium gue meningkatkan. Dan bodohnya, gue memaklumi itu dengan alasan mama butuh waktu. Tapi ternyata gue salah, tepat 1 tahun papa pergi mama juga pergi.
Kehancuran hidup gue dimulai dari situ, bayangkan anak umur 12 tahun yang seharusnya masa pertumbuhannya didampingi oleh orang tua, harus mandiri dan dipaksa dewasa oleh keadaan.
Hati dan pikiran sedang kalut “gue ga kuat” air mata Ryan jatuh ia tak sanggup menanggung semuanya lagi. Darah segar kembali keluar dari hidung cowo itu. Ryan membiarkannya hilang bersama air mata. “Tuhan kalo memang sudah saatnya saya rela, bawa saya ke mama sama papa tuhan. Ryan cape, Ryan pengen istirahat aja sama papa mama disana” pupus harapan Ryan untuk sembuh.
Tokkk tokkk tokkk
“Ryan!” lamunan Ryan buyar karna ketukan pintu dan suara seseorang. Ryan segera menghapus air matanya dan darah yang berceceran lalu membuka pintu rumah.
Dia Kenzo, sahabat sekaligus keluarga bagi Ryan. Cuma dia orang yang Ryan punya dan dia juga orang yang selama ini selalu ada buat Ryan.
“kenapa lo?” tanya Ken,
“gapapa, ngapain lo kerumah gue?”
“ada makanan ga?laper nih gue” kurang ajar memang, tapi Ryan tak pernah merasa keberatan.
“ada tuh didapur ayam kecap ambil aja habisin kalo perlu” jawab Ryan
“yuhuu makan enak lagi” sorak Ken sambil berlari ke dapur.
Kenzo datang dengan piring ditangannya, “lo ga makan yan?” tanya Ken. Ryan menggeleng sebagai jawaban, akhir-akhir ini penyakit Ryan kambuh. Ryan tak pernah mengeluh kepada orang lain atas apa yang ia derita selama ini, bahkan Kenzo saja tidak tau jika sahabatnya ini menderita sakit keras.
“kok gue perhatiin lo kurusan yan” Kenzo merasa ada yang aneh dari sahabatnya tak biasanya dia diam seperti ini.
“mata lo kali yang rusak” Ryan menjawabnya dengan kekehan.
Karna sudah larut Kenzo memutuskan untuk menginap dan menemani Ryan ntah perasaannya sedang gundah.
Esok pagi saat sarapan Ryan terlihat tidak baik, pucat dan tak bertenaga. Tak berselang lama..
UHUK UHUK..
Ryan melihat tangannya yang panuh darah, ia mendongak menatap Kenzo yang juga menatapnya.
“gue gapapa” jawab Ryan yang mengerti arti tatapan Ken.
“gapapa lo bilang, Itu berdarah Ryan! Ayo kerumah sakit sekarang” Kenzo sangat panik karna ia tak tau apa yang terjadi pada Ryan.
“gue gapapa Ken, gue cuma kecapean”. Ryan terjatuh dan hampir kehilangan kesadarannya.
Kenzo mengangkat sahabatnya itu kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
“MANAAA DOKTERNYA, WOII TOLONGIN TEMAN GUEE!!” Kenzo menjadi pusat perhatian, dia benar-benar khawatir saat ini.
“silahkan tunggu diluar” ucap suster.
“lo kenapa si Ryan kenapa lo ga pernah cerita ke gue” Ken merasa menyesal, dia merasa ini salahnya karna tidak memperhatikan sahabatnya.
ceklek...
“dok gimana keadaan temen saya dok”. Dokter mengajaknya berbicara di ruangannya.
“jadi Ryan menderita leukemia stadium 4, 2 tahun terakhir ini Ryan jarang melakukan kemoterapi. Apa kamu tau?” jelas Arga selaku dokter yang menangani Ryan.
“sejak kapan dok?” tanya Ken yang masih tak percaya.
“sejak Ryan berumur 10 tahun. Dulu Ryan sangat semangat melakukan kemoterapi, tapi setelah kedua orang tuanya pergi dia seperti tak ingin melanjutkan hidupnya” dokter Arga sangat prihatin atas apa yang anak itu alami.
Kenzo berlari keluar dan meluapkan semuanya dengan memukul tembok “AH BRENGSEK GA GUNA!! GUE GAGAL!!”
Dokter membantu menenangkan Ken, menjelaskan bahwa Ryan butuh semangat dari Ken, tidak ada gunanya juga marah.
Kenzo membuka pintu kamar Ryan dan langsung disuguhkan oleh pemandangan sahabatnya yang terbaring lemah dengan berbagai alat terpasang ditubuhnya.
“kenapa lo ga pernah cerita sih, apa lo ga nganggap gue HAH?!!” hancur perasaan Ken.
”m-maaf gue ga maksud, gue cuma ga mau ngebebanin lo, gue ga mau ngerepotin lo”
“lo anggap gue apa si, sampe masih ga enak, gue merasa gagal yan jadi sahabat lo, bisa-bisanya gue happy bahagia dan ga tau ternyata sahabat gue sakit parah. Gue merasa jahat banget yan” dengan air mata yang tak terbendung Kenzo meluapkan isi hatinya setelah mengetahui semuanya.
“lo harus bertahan yan, demi gue nanti gue yang nemenin lo kemo”
“ga perlu ken bentar lagi gue nyusul mama, jadi lo ga perlu repot-repot nemenin gue kemo” Ryan tersenyum dia merasa sangat beruntung karna masih memiliki Kenzo.
“ken..nanti kalo gue ga ada lo harus bahagia yaa, percaya dehh pasti gue juga bahagia, gue ga sakit lagi ken dan bisa ketemu mama sama papah, lo tau kan itu cita-cita gue” Ryan menjeda ucapannya.
“jaga nyokap bokap lo yaa, sayangi mereka selagi mereka masih ada disisi lo. Satu lagi jangan pernah ngerasa bersalah karena ini bukan salah lo” lanjut Ryan
Kenzo semakin menangis karna perkataan Ryan “ kalo lo cape, lo boleh istirahat yan, gue tau lo pasti lelah kan”
“lepas gue yaa Ken, biarin gue pulang. Iklasin gue, gue mau istirahat” Ken tak sanggup menjawab pertanyaan sahabatnya.
“lo pasti bisa Ken, gue bener-bener cape, gue ga sanggup dunia terlalu jahat buat gue” Ryan menangis.
“gue iklas yan,iklas” dengan berat hati Kenzo melepaskan Ryan.
Sebelum dia menutup matanya ia berkata “gue pulang Ken, semoga bahagia”. Ryan pergi menyusui kedua orang tuanya dengan senyuman manis.
Tepat ditanggal 29-10-2020,jam 20.46 Ryan Aditya Pratama dinyatakan meninggal dunia.
Pagi ini Kenzo mengantarkan sahabatnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. “lo Uda ga sakit lagi kan, Uda ketemu mama papa ya? Gue iklas yan, tenang disana yaa.
Gue ga akan lupa sma lo. Selamat jalan teman” Ken menyeka air matanya dan meninggal pemakaman.
“gue pamit yan, pasti gue sering jengukin lo kok” batinny
Ryan sudah damai, Ryan tak sakit lagi, tak lagi kesepian, dan Ryan sudah mencapai cita-citanya.
Selamat jalan kisah yang menginspirasi, kisah mu takkan terlupakan