Setangkai demi setangkai mawar putih terbalut rapi kertas tipis, awan pun menahan air yang akan jatuh membasahi pipi. Hari ini tepat tanggal 22 Desember ku datang kembali tersenyum melihat nisan ibu masih indah, rapi dan bersih, ayah memang sibuk namun pasti akan selalu mengunjugi ibu. waktu menunjukkan pukul 17:07
“Happy mothers day” ucapku lirih.
Tepat sewindu lalu ibu memelukku diusiaku yang ke 8 tahun. Masih ku ingat tempat kesukaan ibu di rumah, aroma kopi buatan ibu. Aku berlari kecil di halaman rumah kami, diantara pagar kayu tumbuh ilalang liar semaunya. Aku mendatangi ibu yang duduk di kursi rotan “ hari senin gaby ulang tahun, ibuuu ibuu aku mau kue ulang tahun warna pink harus ada boneka nya ya, gaby mau ada pesta, gaby mau semua orang datang kerumah, bolehhh ya bu??” kataku memohon pada ibu
Dengan tatapan teduh ibu mengusap rambutku “kan masih 2 hari lagi, iya ibu adakan pesta, kita undang semua orang ya”. Mendengar ibu mengucapkan hal itu aku bahagia, aku memeluk ibu dan tidak sabar mengadakan pesta.
Pagi berganti siang, siang berganti malam. Aku menatap jam dinding kayu usang yang menunjukkan pukul 20.47 kebingungan menyelimuti pikiran ku, aku melihat sekeliling rumah mencari sosok ibu, bahkan didapur tidak ada makanan yang dihidangkan sedangkan pukul sembilan nanti ayah pulang. Saat sedang kebingungan aku menuju kamar ibu mengetuk pintu dengan tangan kecilku dan berharap ibu mendengar dan membukakan pintu. Tanganku terasa sakit dan degup kencang dada membuatku semakin panik “ bu, ibuuu, buka pintunya gaby diluarr!” teriakku dari luar
Aku menangis ketakutan Karna ibu tak kunjung membuka pintu bahkan pintu terkunci dari dalam, naluri anak kecil polos yang takut sendiri serta keheningan rumah membuat ku tidak tau berbuat apa. Ayah datang dari arah pintu dan melihatku menggedor pintu sambil menangis dan mulai mendobrak pintu. Pintu terbuka dan aku melihat ibuku tertidur dengan wajah cantik dan tenang namun pucat, ada sedikit lega dalam diri ternyata ibu hanya tidur dan mungkin tidak mendengar tangisanku.
Ayah berlari kearah Ibu dan membangunkan ibu dengan lembut, tak bergeming, ibu tak merespon, ayah semakin panik melihat ayah menangis membuat ku semakin tak mengerti situasi apa yang terjadi, ku melihat ayah menelepon orang dan meminta bantuan. Apa yang terjadi? Ada apa dengan ibu? Kenapa ayah nangis? Pikir ku penuh tanya. Ayah menggendongku selama perjalanan menyusuri koridor rumah sakit, yang ku ingat aku hanya menangis dan memanggil ibu, aku tak tau apa yang terjadi namun semua situasi menggambarkan bahwa ini bukan hal baik. Ibu di rawat di rumah sakit suasana putih dan bunyi alat alat rumah sakit menambah kerisauan pada malam itu, aku melihat ayah memegang erat tangan ibu yang sedang tertidur dengan selang di seluruh tubuh.
“ayah, ibu kapan bangun?, kita kapan pulang?” tanyaku menghampiri ayah. Dengan mata sembab ayah meyakinkan ku bahwa ibu baik baik saja dan besok kita akan pulang dan menyiapkan perayaan ulang tahun ku yang ke 8, tak butuh waktu lama aku dan ayah terlelap dan berharap ibu akan menyapa kami dengan senyumannya kembali.
Sinar mentari yang menjadi sihir musim semi seluruh kota menjadi bercahaya dan kehangatannya membawa semua orang pada kebahagiaan, namun tidak dengan kami keadaan ibu sepertinya semakin tidak baik, ayah sudah tidak ada di ruangan ibu dan aku hanya bisa mengusap pipi ibu dengan lembut dan terus berdoa agar tuhan memberikan yang terbaik dan jangan sampai apa pun menyakiti ibu. Selanjutnya tak bisa ku ingat dengan jelas intinya aku tau ibu mengalami kanker rahim, aku melihat dunia ayahku hancur, cinta pertama ayahku pergi, dan aku tak pernah melihat ayahku se runtuh waktu itu. Aku melihat semua orang menangis dalam ruangan, aku merasa dunia ku berputar. Kulihat semua orang mencoba memenangkan ayah aku tidak tau kenapa aku tak menangis. Perlahan langkah kecilku menuju ranjang ibu ku pandang wajah ibu yang pucat ku genggam tangan ibu yang dingin.
Tepat di usiaku yang ke 8 tahun semua orang berkunjung kerumah namun bukan untuk berbahagia tapi penuh air mata. Kusaksikan segala rangkaian peristiwa pemakaman ibu hingga di tempat ini tempat ibu sekarang. Saat aku kecil aku merasa ibu jahat karna tidak menepati janji aku merasa tuhan jahat telah mengambil ibu dari kami, namun setelah aku beranjak dewasa aku mulai paham ibu lebih baik bersama tuhan, setelah semua kesakitan yang dialami ibu sudah sembuh sekarang. Ibu doaku akan terus bersamamu dan aku janji gaby kecil mu akan sukses dan membuat ibu bangga, gaby tau ibu tidak suka saat saat gaby nangis oleh sebab itu gaby akan selalu bahagia, tebar kebahagiaan dan hidup bahagia selamanya.
“Gaby, ayo pulang” kata ayah menyadarkan lamunanku. Mendung menghiasi langit perlahan berganti menjadi senja teduh pelita. Aku dan ayah berpamitan dengan ibu, sedikit candaan dan tawa riang menghiasi perjalanan pulang kami. Segala hal yang terjadi adalah tahap pendewasaan dan perjalanan indah menuju masa depan, saat ini biarkan aku menggapai impianku dengan selalu di iringi doa dan restu ibu.