Malam itu, bulan bulat bercahaya menerangi penglihatanku dan angin malam bertiupan menyapu wajahku . Dengan raut wajah lelah dan terlihat kebingungan untuk melakukan suatu hal perlahan langkah kakiku tergerak ke ke arah kamar. Hanya air mata yang mampu terkeluarkan untuk menenangkan perasaan dan pikiranku.
Aku siswa yang duduk di bangku kelas 11 SMA. Aku sekolah di salah satu satu sekolah favorit di kota Batu dan di kenal sebagai anak yang rajin dan bertanggung jawab. Aku banyak memiliki teman, karena aku tidak segan untuk menerima siapapun yang ingin berteman denganku.
Di sekolah saat mata pelajaran antropologi berlangsung, guru antropologi memberikan tugas kelompok. Para siswa langsung membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang anggota. Aku langsung di panggil oleh Alena teman sekelasku, ia mengajakku untuk gabung sekelompok dengannya bersamanya dan dengan senang hati aku menerima tawaran tersebut. Setiap kelompok memiliki satu orang pemimpin dan teman-teman kelompokku memilihku menjadi ketua kelompok.
Setelah guru antropologi memaparkan tugas,masing-masing kelompok langsung bersatu dengan teman kelompoknya lalu mengerjakan tugas antropologi. Beberapa saat kemudian bel tanda pulangan berbunyi dan tugas antropologi yang belum sempat diselesaikan di minta oleh guru antropologi untuk di bawa pulang dan diselesaikan bersama kelompok masing-masing. Teman-teman kelompokku memintaku untuk bertanggung jawab dengan kelanjutan tugas antropologi. Tugas yang belum selesai itu pun aku bawa pulang.
Sesampainya di rumah aku mengirimkan pesan melalui whatsapp kepada teman-teman kelompokku, aku mengajak mereka untuk kerja kelompok melanjutkan tugas antropologi. Setelah aku mengirimkan pesan itu aku menunggu mereka untuk merespon pesan yang aku kirimkan,namun 4 jam setelah aku mengirim pesan pun berlalu aku tak kunjung mendapat respon dari teman-teman kelompokku. Aku mulai kesal dengan mereka karena harus mengejar waktu untuk menyelesaikan tugas antropologi dengan berat hati dan air mataku mulai berjatuhan,aku langsung membuka tugas antropologi dan menyelesaikannya sendiri karena aku takut apa bila tugas ini tidak di selesaikan esok hari aku sebagai ketua kelompok akan di marahi oleh guru antropologi.
Keesokan harinya saat mata pelajaran antropologi akan dimulai semua kelompok menyiapkan tugasnya yang sudah selesai, hati mungilku berteriak iri akan kelompok lain yang mampu bekerjasama dengan baik antar sesama. Tak lama bel tanda pembelajaran di mulai berbunyi, guru antropologi memasuki kelas dan ketua kelas menyiapkan siswa untuk menyambut guru.
"Assalamu'alaikum dan selamat pagi Ibu" Sorak siswa dalam kelas dengan antusias.
"Waalaikum salam,selamat pagi dan terima kasih anak-anak hebat, kita lanjut ke tugas yang kemaren ya, masing-masing kelompok segera menyiapkan kelompoknya untuk presentasi, Ibu harap kalian dalam kelompok sudah bekerjasama dengan baik" balas guru antropologi.
"Steffi punya kelompok kamu sudah" tanya Rania kepadaku.
"Sudah Ran, kalau kamu sendiri gimana??".
"Sudah juga dan aku senang banget mereka bisa di ajak kerjasama".
Belum sempat melanjutkan percakapan dengan Rania presentasi tiap kelompok pun di mulai, satu persatu kelompok maju untuk memaparkan hasil karyanya dan tibalah saat kelompokku untuk maju mempresentasikan tugas, dengan perasaan dendam yang masih membara aku maju memimpin presentasi, selama presentasi berlangsung teman kelompokku terlihat kesusahan untuk memaparkan materi yang aku tulis.
"Ini yang kerja hanya satu?atau gimana?" tanya ibu guru.
"Kerja bu, saya paling banya kerja di sini" balas Septya, aku yang mendegar ucapan Septya langsung terkejut.
"Lalu kenapa tulisannya sama semua terus kalian juga susah untuk menjelaskannya kecuali Steffi, ini Steffi saja yang mengerjakan atau bagaimana?" ujar guruku tak percaya dengan ucapan Septya.
"Astaga bu betulan, Steffi tuh kerja mandor bu" sahut Septya
"Woi fitnah bu, itu memang saya yang kerjakan semua" sahutku tak terima dengan ucapan Septya
"Steffi jangan egois deh, kemaren kami sudah bantu, kamu saja yang tidak bersyukur di bantu" ujar Alena teman kelompokku
Setelah mendengar perkataan Alena tiba-tiba air mataku mulai berjatuhan, aku tak kuasa menahan tangis sakit hati atas ucapan teman kelompokku yang tidak tau terima kasih.Ibu guru langsung tertuju ke arah ku dan aku hanya bisa menangis tidak bisa mengungkapkan kata apapun.
"Lebay banget" seru Septya
"Jangan sok tahu bisa tidak? Steffi itu lagi capek dengan tugas sekolah, organisasi, belum lagi kalo dia punya permasalahan dengan orang rumah, kalian itu yang tidak tau cara bersyukur sudah di bantu oleh Steffi tapi kalian ga sadar kalian malah menuduh dan menilai steffi dengan hal yang tidak sesuai" balas Riana tak terima dengan kalimat yang di ucapkan oleh Septya
"Sudah kalian tugas begini saja tidak bisa, mulai besok saya tidak akan memberikan tugas kelompok lagi.Tugas individu, harian dan nilai ulangan yang akan saya masukkan kedalam raport. Untuk kamu Septya dan Alena tolong untuk menyaring setiap lisan yang kalian keluarkan dari mulut kalian!sudah kembali ke tempat duduk masing-masing" Tegas guruku.
Setelah itu Ibu guru mengakhiri jam mata pelajaran antropologi. Riana langsung merangkul dan menenangkan diriku namun berbeda dengan Septya dan Alena, mereka menatap ku sinis seperti menanamkan dendam terhadap diriku.
Selama pembelajaran sekolah berlangsung suasana hatiku sangat kacau hingga saat pulang kerumah akupun langsung masuk kamar tanpa memperdulikan apapun.
"Kenapa sih, kenapa orang-orang seperti mereka harus ada di dalam perjalanan hidupku, aku muak banget ketemu orang seperti mereka" gumamku kesal terhadap hal yang terjadi di sekolah.
(ningnung) suara dering pesan masuk di handphone ku
aku langsung melihat dan saat itu juga aku langsung panik karena notif itu merupakan peringatan pengumpulan tugas organisasi yang sama sekali belum aku kerjakan.
"Ya Tuhan ada aja cobaan hidup, ini.Banya banget aku belum ada bikin materi, belum tugas sekolah, aku belum makan, maag ku uda mulai kambuh tapi semuanya belum selesai" keluhku.
Dengan pikiran yang terasa penuh di otakku akupun berusaha untuk kuat dan mengerjakan segala tugas ku, namun ketika aku sedang mengerjakan tugas tiba-tiba saja aku mendengar ada suara bantingan pintu akupun terkejut dan langsung keluar kamar untuk mengecek apa yang sedang terjadi.
"Kamu itu ga becus jadi istri, aku pergi kerja di bilang selingkuh" "Aku lihat dengan mata kepalaku kamu selingkuh, kamu cium gadis itu mas, kamu masih bisa ngelak kalau kamu ga ngelakuin itu?"
Ternyata suara berisik itu berasal dari perdebatan orang tua ku yang hampir setiap hari terjadi. Aku langsung masuk kedalam kamarku dan menangis akan setiap hal yang terjadi.
"Hummm,padahal besok aku ulang tahun ke 17,tapi kalo semakin hari semakin buruk untuk apa aku hidup? untuk terus di berikan cobaan hidup seperti ini?" kataku yang sudah mulai putus asa.
Melihat ke arah bulan dan bintang di langit, tanpa sadar aku meneteskan air mataku dan tiba-tiba saja penglihatan ku menjadi gelap. Dengan mata yang terpejam aku melihat ada cahaya yang perlahan mendekat ke arah ku dan ia memanggil ku.
"Steffi sayang ini aku Ipu, masih ingat tidak?aku di sini sendirian, aku lihat Steffi dari sini, kamu selalu nangis padahal kamu kan cewe kuat dan hebat kenapa selalu menangis? tapi ingat kamu jangan sampai nyusul aku ya,aku tidak mau jika kamu sampai menyusulku"Kata lelaki yang muncul dari cahaya yang aku lihat.
"Ipu? ipuu aku mau ikut Ipu, aku tidak kuat,aku mau bahagia di sana sama Ipu. Ipu sekarang jemput aku kan? Aku siap kok" Jawab ku dengan tangisan karena aku mulai menyadari siapa sosok lelaki itu.
"Tidak boleh sayang, aku rindu sekali dengan Steffi, jaga kesehatan ya, aku pergi dulu, love you teta" Ucapan terakhir lelaki itu sebelum semuanya menjadi gelap kembali.
Saat aku terbangun aku sudah berada di kasur kamar rumah sakit, aku terbaring lemah dengan infus di pergelangan tangan serta selang bantu nafas yang berada di hidungku dan sosok yang aku lihat di dalam gelap itu hanyalah mimpi. Aku jatuh pingsan saat melihat bulan dan bintang, ibuku yang membuka pintu kamar ku saat pagi terkejut mendapati diriku yang tergeletak di bawah jendela kamar, ia berteriak membangunkan ayahku dan mereka langsung mengantarku ke rumah sakit.
Aku tiba-tiba saja menangis, aku menangis mengingat sosok lelaki yang aku jumpai di dalam alam bawah sadar ku, dia adalah Ipu, Aifu Dwi Seano orang yang paling aku sayang hingga akhir hayatnya,dia kekasih dan teman baikku ia selalu ada untukku hingga pada suatu hari saat ia pergi berliburan ke Malang dia dan senyum manisnya tak kunjung kembali terlihat di depanku,aku menunggu kembalinya dia untuk menemani hari ku namun sepulangnya dari Malang yang tersisa hanya tubuhnya yang bergelimang darah, ia mengalami kecelakaan tragis dalam perjalanan pulang, Ipu meninggal ditempat. Ketika aku mendengar berita itu aku langsung pergi menemui Ipu.Darah yang berlinang di sekujur tubuhnya membuatku tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk menangis akupun tidak bisa, aku selalu terbayang akan hari itu dan hari ketika aku dan Ipu selalu bersama.Semenjak Ipu pergi semua hal yang ada dalam hidupku berubah menjadi perasaan tanpa rasa.
Mengingat sosok Ipu yang datang menghampiri ku membuat diriku semakin ingin kembali, kembali bersama dan menyusulnya di sana, di tempat Ipu sekarang berada.
Aku melihat kearah obat-obatan yang bertumpuk di atas meja dengan sekuat tenanga aku berusaha mengapai obat-obatan itu,tanpa pikir panjang aku langsung meminum 5 obat sekaligus dan beberapa saat kemudian perutku terasa panas, semua isi perutku mulai terkeluar dan akhirnya aku menghembuskan nafas terakhir tanpa ada seorangpun yang melihat kejadian tersebut.
Suster rumah sakit yang datang kekamar rawat inapku untuk mengecek keadaanku terkejut melihat kondisiku,ia langsung menelpon ayah dan ibuku.
"Steffi maafkan ayah sama ibu nak, kami selalu menciptakan api di dalam rumah, maafkan kami sudah mengacuhkan mu, tenang di sana anakku sayang" kata ayah dan ibu.
Berita kepergianku dengan cepat tersebar hingga terdengar oleh Rania, Septya dan Alena.Setelah mendengar kepergianku mereka bergegas kerumah sakit.
"Steffi maafin aku Steffi, maaf aku jahatin kamu Steffi" Ujar Alena.
"Steffi kenapa kamu pergi, katanya kamu mau mengalahkan tinggiku! Kamu bohong Steffi"Kata Riana.
"Septya kamu diem saja? kamu tidak minta maaf pada Steffi? kamu tidak liat Steffi sekarang?" Tegur Riana pada Septya.
"Diam! keluar biar aku bicara sama Steffi" Balas Septya dengan nada tinggi.
Riana dan Alena pun keluar dari ruangan dan mengintip di luar ruangan.
"Steffi, ada hal yang tidak kamu sangka. Aku minta maaf sebelumnya, hari itu aku membuat mentalmu semakin buruk dengan ucapanku yang jahat, maaf Steffi. Kamu tidak tau, aku sudah sejak lama suka kamu tapi aku tidak perna berani mengungkapkan dan kalaupun aku mau ungkapkan selalu saja ada Aifu. Puncaknya adalah ketika aku mendengar berita resminya kalian berpacaran, sejak saat itu aku membenci mu, namun sekarang aku sadar bahwa tidak seharusnya aku membencimu. Tuhan tau segala hal terbaik untuk setiap hamba-Nya dan sekarang semoga kamu tenang dan bahagia, sekarang pasti ada Aifu yang menunggumu. Berlayarnya dirimu sudah terlalu memaksakan laju mesinmu, rest in love Steffi Meriana" Ucapan terakhir Septya yang akhirnya menyesali perbuatannya.