Bagi sebagian orang hujan bisa membuat seseorang mengenang kenangan, baik itu yang indah atau pun yang menguras emosional. Apalagi jika didukung oleh suasana malam yang sunyi, termasuk diriku. Perkenalkan aku YAYA, seorang anak perempuan yang sedang merantau jauh dari keluarga maupun sanak saudara.
Saat ini aku sedang berada didepan pintu kamar kost-ku, duduk di lantai yang dingin dengan menyilangkan kaki, tak lupa ditemani secangkir coklat panas yang tergeletak di lantai.
Tanpa memperdulikan dinginnya angin malam yang menerpa kulitku, aku tetap memperhatikan air hujan yang jatuh dari atap dengan pikiran yang melayang-layang. Mengingat dirinya, mengingat kembali cita-cita yang direlakan, memikirkan untuk kedepannya apa yang harus dicoba tentunya tanpa melupakan resiko yang harus dihadapi nantinya, dan tanpa disengaja aku teringat keluargaku yang jauh disana.
Beberapa tahun silam menurutku keluarga adalah salah satu penyebab seorang anak depresi, pematah semangat seorang anak, dan bahkan bisa menjadi trauma tersendiri bagi seorang anak. Namun sekarang aku sadar, hukuman dan bentakan kecil yang diberikan mama, bapak, serta kakak bukan karena tak sayang padaku, melainkan pembelajaran dan latihan kecil untuk menghadapi dunia yang bahkan jauh lebih keras daripada yang sering kupikirkan saat kecil dulu bahwa menjadi dewasa adalah hal yang menyenangkan, namun nyatanya menjadi dewasa tak sesimpel yang aku pikirkan dulu.
Setahun tak pulang membuatku teramat rindu pada keluarga, terutama mama dan bapak. Meskipun sering berkomunikasi menggunakan handphone, namun Rindu yang kurasakan tak bisa terobati sepenuhnya sebab handphone yang digunakan mama hanyalah handphone bermerek Nokia dan tak mau jika android, jadi hanya bisa mendengar suara tanpa bisa melihat wajah keduanya (mama dan bapak), sedangkan bapak pun tak memiliki handphone, entahlah aku pun tak tahu alasan tak ingin mempunyai handphone karena kenapa. Walaupun demikian, aku legah setidaknya mama dan bapak tak akan terobsesi dengan yang namanya medsos.
Aku sungguh merindukan mama bapak, namun apalah daya ingin pulang tapi belum waktunya cuti ataupun libur panjang saat lebaran maupun tahun baru yang bahkan masih beberapa bulan lagi. Bahkan ini merupakan rantauan pertama bagiku, jadi senang maupun sedihnya sangat berpengaruh terhadap diriku.
Rindu yang kurasakan sungguh menyesakkan dada. Rindu bercanda tawa bersama mama bapak, rindu masakan mama, rindu omelan-omelan kecilnya, rindu memeluknya, rindu dibangunkan saat bangun kesiangan, serta rindu makan bersama sedangkan sekarang aku hanya bisa makan sendirian.
Dulu aku tak suka jika lihat mama atau bapak hanya duduk seorang diri, kalaupun itu terjadi biasanya akan ku hampiri walau hanya duduk berdiam diri disampingnya, setidaknya dengan yang aku lakukan tersebut bisa menyamarkan segala bebannya yang tertampak yang tak pernah ia bagi ke anak-anaknya. Namun lagi-lagi sekarang aku tak bisa lakukan hal yang sama saat mama ataupun bapak sedang duduk sendirian.
Memikirkan mama bapak tak terasa airmataku jatuh ke pipi dengan bahu yang bergetar pertanda bahwa aku sedang menangis. Mengembuskan napas perlahan seraya menghapus airmata, lalu tanganku kembali meraih cangkirku yang isinya tinggal setengah dan telah mendingin lalu segera ku seruput hingga tandas.
Perlahan aku pun masuk ke kost-ku sembari memegang cangkir serta ponsel kemudian mengunci pintu, kembali seperti malam-malam sebelumnya dengan membawa rasa rindu yang membara namun tetap terpendam tak tersalurkan.
Teruntuk kalian yang masih tinggal bersama orang tua, yang masih punya banyak waktu untuk menengok orang tua, maka gunakanlah sebaik-baiknya sebelum jarak dan waktu yang menghalangi untuk melihat tawa lepas keduanya.
Hei kamu, orang yang selalu beranggapan orang tuamu tak menyayangimu..
Hei kamu, orang yang selalu mengatakan orang tuamu pilih kasih terhadapmu..
Hei kamu, orang yang selalu memaksa apa yang kamu inginkan terpenuhi oleh ayah dan ibumu..
Hei kamu, orang yang mengecewakan orang tuamu yang telah berjuang untukmu dan berharap penuh padamu..
Lihatlah ayah ibumu saat mereka terlelap dalam tidurnya, lihatlah!!
Tak sayang kah dirimu pada mereka yang merelakan kebahagiaannya demimu?
Tega kah dirimu menjatuhkan air mata pada wajahnya yang setenang itu?
Sebegitu keraskah hatimu hingga tak merasakan kasih sayang mereka??
Ingatlah, setulus-tulusnya kasih sayang adalah kasih sayang dari ayah dan ibumu.