"Bella, bantu kakak bawa masuk barang-barang itu?" Nova memanggil adiknya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya di kursi penumpang mobil di samping kursi supir.
"Tunggu sebentar." Dengan cepat Bella menutup semua tab pada ponselnya sebelum memasukkannya ke dalam saku celananya. Bella keluar dan mulai memindahkan dus-dus berisi barang-barang mereka.
"Ngomong-ngomong, kamu tadi lagi baca apa?" ujar Nova sambil menghampiri Bella yang baru saja meletakkan sekotak dus di ruang tamu.
"Oh, hanya artikel-artikel berita. Mereka mencari kita." jawab Bella ringan sambil berjalan kembali ke mobil untuk memindahkan barang yang lain.
Keduanya baru saja pindah ke desa kecil yang jauh dari perkotaan. Mereka ingin mengulang segalanya, memulai hidup baru, meninggalkan dan melupakan masa lalu mereka.
Ya, masa lalu mereka.
Nova dan Bella merupakan sepasang kakak beradik yang menjadi buronan polisi karena telah melakukan berbagai macam tindak kejahatan. Tentu saja mereka tidak melakukan hal tersebut tanpa alasan yang jelas—mereka melakukannya untuk kesenangan. Itu alasan yang jelas dan dapat diterima, bukan?
Ping.
Laptop Nova yang dibiarkan dalam kondisi stand by di atas meja tiba-tiba menyala. Nova segera berjongkok dan mengeceknya.
"Oh iya, Bell," seru Nova tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Ia terlihat sibuk dengan beberapa data. "Kamu bilang ingin sekolah, kan? Aku sudah mendaftarkanmu untuk sekolah di dekat sini. SMA XXX. Besok kamu bisa berangkat."
"Benarkah?!" Tanya Bella kesenangan. Akhirnya kehidupannya yang normal akan segera dimulai!
×××
".....kalian bisa memanggilku Bella." Bella memperkenalkan dirinya di depan kelas yang berisi sekitar 24 kepala. Semua mata tertuju padanya tanpa ada yang mengenalinya sebagai buronan polisi. Mereka semua tersenyum ramah membuat hati Bella yang tadinya berdebar tidak keruan kini menghangat. Sepertinya ia dan kakaknya telah mengambil keputusan yang tepat dengan pindah ke desa kecil ini. Mulai hari ini ia akan menjadi bagian dari kelas yang normal ini.
"Hai, Bella. Kenalin, aku Rika." ujar seseorang sambil mengulurkan tangannya. Bella menatap perempuan berambut panjang bergelombang itu untuk sesaat kemudian menyambut uluran tangannya.
"Dan ini namanya Maya. Ia sedikit pemalu." Rika menarik temannya yang berkacamata. Maya tersenyum ragu-ragu.
"Bella! Katakan, dari mana asalmu?" tiba-tiba saja seorang laki-laki dengan rambutnya yang sedikit agak gondrong. Ia sudah menyandarkan kepalanya di atas meja Bella. Bella kemudian menyebutkan satu nama kota secara asal.
"Mmm..." laki-laki itu hanya manggut-manggut. "Kalau tempat tinggalmu?" tanyanya lagi dengan semangat. "Oh, ya. Namaku Eji. Kamu bisa memanggilku 'sayang'."
BUK.
Rika memukul kepala Eji dengan buku latihan soal yang tebalnya menyaingi kamus Indonesia-Inggris dan menyeretnya ke luar. Samar-samar Bella bisa mendengar omelan Rika.
"Jangan terlalu cepat, dasar bodoh!"
Bella hanya menatap mereka dengan pandangan tidak mengerti. Mereka beradu, tapi senyum dan tawa menghiasi wajah mereka. Apakah itu yang disebut dengan pertemanan? Ia juga ingin...
"Abaikan saja. Eji memang orangnya seperti itu. Dia suka mendekati cewek-cewek cantik sepertimu." jelas Maya sambil geleng-geleng kepala. Tidak seperti tadi, kini gadis bernama Maya itu terlihat lebih santai. Diam-diam Bella mengernyit, merasa aneh akan hal tersebut. Meski begitu, pada akhirnya ia mengedikkan bahu, menganggap normal segalanya.
"Eh, Bella. Boleh gak kita main ke rumahmu?"
Eji dan Rika kembali, dan pertanyaan itu langsung ditodongkan pada Bella.
×××
"Huahh tak kusangka akan turun hujan sederas ini." Eji bersungut-sungut sambil memeras seragam sekolahnya yang kini telah basah kuyup, air segera mengucur dari pakaiannya.
"Masuk dulu, biar kupinjamkan pakaian untuk kalian." Bella membuka pintu kayu besar yang cukup berat karena usianya.
"Kamu tinggal sendiri?" langsung saja Rika bertanya melihat keadaan rumah Bella yang terlihat begitu kosong.
"Tidak. Aku tinggal bersama kakakku." Bella menanggapi sambil menuju ke sebuah kamar. "Eji, kemarilah. Aku akan meminjamkan baju kakakku."
"Kakakmu, ya..." gumam Eji sambil berjalan menyusul Bella. Sebuah senyuman tak teratikan tersungging pada wajahnya yang bisa dibilang cukup rupawan.
Beberapa saat kemudian Bella kembali dan menghampiri Rika dan Maya.
"Maaf, ayo." Bella menarik kedua tangan teman barunya itu dan menuntun mereka menuju kamarnya yang berada di seberang kamar kakaknya.
Di dalam kamar, Rika dan Maya memilih pakaian ganti. Tentu saja mereka hanya meminjamnya.
"Baju-bajumu terlihat begitu mahal. Bolehkah aku memakai ini?" ujar Rika bersemangat sambil memegang sebuah kemeja berwarna biru tua dengan kerah berwarna putih.
"Tentu saja boleh. Itu baju kesukaanku loh." Bella tersenyum sambil memasukkan seragam basahnya ke keranjang di sudut kamar.
"Baiklah, aku akan berhati-hati dengan bajumu ini." ujar Rika tersenyum lebar.
"Maya? Kamu yakin mau memakai baju itu?" Rika menatap Maya dengan setelan baju tidur yang sudah membalut tubuhnya. Maya mengangguk mantap. Rika mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pilihan Maya.
"Kenyamanan itu nomer satu!" seru Maya sambil mengacungkan jempolnya.
"Terserah kamu saja lah." Rika mengedikkan bahu.
"Seragam kalian sini, biar kukeringkan sebentar di mesin cuci." Bella menyodorkan keranjang berisi seragam miliknya.
"Oh, biar kubantu!" dengan tanggap Rika membantu Bella membawa keranjang itu keluar.
"Nah, akhirnya kalian muncul juga. Kalian jahat banget sih. Aku kesepian tahu! Sementara kalian asik bercanda di dalam sana." semprot Eji ketika ketiganya keluar kamar dan mendapati Eji tengah berbaring santai di sofa ruang tamu yang sedikit berdebu.
"Maaf, maaf. Cewe itu kalo ganti baju banyak yang harus dipertimbangkan, tahu." Rika menyatukan kedua telapak tangannya. Maya mengangguk-angguk membenarkan Rika.
"Misalnya?" Eji terkekeh disambut pelototan dari Rika, siap menerjang Eji dan menghujani Eji dengan pukulan agar cowo itu tidak berpikiran yang macam-macam.
"Eji, kamu itu keterlaluan, tahu. Kusumpahi kamu akan jomblo selamanya!" Maya mengatupkan bibirnya dengan kesal.
Bella tertawa melihat ketiga teman barunya yang unik dan menyenangkan ini. Ia sudah bisa membayangkan kehidupan normal yang menyenangkan bersama mereka-—kehidupan yang selalu ia impikan.
"Aku akan mengeringkan seragam. Kemarikan seragammu." Bella mengulurkan kedua tangannya, meminta seragam basah milik Eji untuk ia keringkan bersama milik Rika, Maya, dan juga miliknya. Wajah Eji memerah seketika itu juga. Awalnya Bella tak mengerti namun kemudian wajahnya pun ikut memerah.
"M-maksudku--" Bella mencoba menjelaskan. Walau ia sendiri tak tahu apa yang harus dijelaskan dan diperbaiki--membuatnya semakin salah tingkah.
"Diamlah..." Eji menutup wajahnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain membekap mulut Bella. "Aku akan mengeringkan pakaian sendiri, oke? Kamu tunjukkan saja jalannya." Bella mengangguk-angguk dengan cepat.
"Bella, kunyalakan Tv-nya, ya." tanpa menunggu restu sang empunya, Rika menekan tombol on dan menjatuhkan diri di sofa.
"Rika... Kurasa tadi aku mendengarmu menawarkan bantuan pada Bella. Apa aku salah dengar?" Maya menghela napas. Ia selalu heran dengan kemampuan Rika untuk beradaptasi. Kalau itu dirinya, ia akan duduk diam tak bergerak sesenti pun layaknya sebuah patung jika berada di rumah orang yang baru saja ia kenal. Ia bersyukur bisa mengenal Rika yang sedikit demi sedikit membuatnya nyaman dan mudah untuk beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang lain.
"Itu benar, kamu tidak salah dengar kok." Rika menekan-nekan tombol remot dan mengganti channel dengan cepat, mencari siaran yang tepat. "Tapi ada seseorang yang tidak menginginkan kehadiranku."
"Siapa?" Bella bertanya dengan bingung.
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia?" Maya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi iba membuat Bella semakin tak mengerti.
"Bisakah kalian tidak usah seperti itu? Iya, iya tepat sekali seperti dugaan kalian. Aku ingin pedekate berduaan saja dengan Bella. Puas!?" sembur Eji dengan cepat tanpa memedulikan wajah Bella yang sudah seperti kepiting rebus.
Rika tertawa puas mengiringi kepergian Bella dan Eji menuju belakang untuk melaksanakan tugas.
"Bella! Jika Eji melakukan sesuatu padamu, berteriaklah. Kami akan datang!" samar-samar terdengar teriakan Rika diiringi tawa.
"Bella, maaf ya..." ucap Eji pelan.
"Iya, ngga apa-apa kok." Bella tersenyum manis. Sebuah senyuman yang sangat memesona. Tanpa sadar, Eji mengulurkan tangannya..
"AAAAAHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Jeritan keras itu jelas membuat keduanya terkejut. Eji langsung menarik kembali tangannya dan terdiam dalam ketertegunan. Apa yang baru saja ingin ia lakukan? Seharusnya ia tidak...
Sementara itu Bella berlari menuju ke asal suara. Ruang tamu! Rika! Maya! Pikirannya berkecamuk. Tubuhnya mengginggil ketika membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Semoga tidak terjadi apa—
Bella berdiri dengan syok di ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Ruang tamu yang beberapa saat bersih tanpa noda kini telah dipenuhi cipratan darah. Seseorang yang sangat dikenalnya berdiri di tengah dengan ekspresi yang kosong. Tubuh kedua temannya terkulai lemas bersimbah darah di dekat kaki laki-laki berjaket gelap itu.
"Kakak!" Bella menjerit.
"Bella?" Nova menoleh dan tersenyum, ada sarat kelegaan di wajahnya saat mendapati Bella.
"Apa yang kakak lakukan..?" suara Bella bergetar. Saat ini ia merasa begitu kalut. Nova mengernyit, tak mengerti dengan kekalutan adiknya. "Kenapa kakak membunuh mereka..!? Mereka teman-temanku!!"
"Apakah itu yang mereka katakan padamu?" senyum Nova menghilang tak berbekas, ekspresi wajahnya kembali mendingin. "Mereka itu bukan temanmu!"
"Apa maksud kakak!? Mereka itu—" dua benda serupa jatuh di hadapan Bella dengan posisi terbuka. Benda yang sangat dikenalnya yang menghiasi masa kecilnya. Tangis Bella terhenti. Kini ia mulai tertawa dengan getir. "...polisi, huh!?"
"Sepertinya kepolisian sudah tahu kita akan mengincar desa ini dan mengirimkan orang-orang ini untuk menyergap kita." Nova mencabut pisau yang tertancap di dada Rika dan membersihkannya.
"Kakak..." Bella menghela napas dan menampakkan wajah kesal. Ia mengelap pipinya yang basah karena air mata yang sempat mengalir dengan deras.
"Kenapa kamu kesal seperti itu? Iya, aku minta maaf. Lain kali aku akan membicarakannya denganmu terlebih dahulu sebelum menyingkirkan mereka—"
"Bukan. Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Baju."
"Hah?"
"Baju kesukaanku jadi robek berkat ulahmu."
"Oh, maaf." Nova menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Lain kali akan kubelikan yang lebih bagus, oke? Jadi jangan marah. Kamu tahu kan aku lebih suka mengincar jantung."
"Hm..." gumam Bella sembari bangkit dari duduknya. "...masih ada satu orang lagi."
"Mari kita bereskan?" Nova melempar pisaunya dengan cepat ke arah Bella. Dengan gesit Bella menangkap pisau itu dan dengan gerakan yang cepat pun ia berbalik dan menjatuhkan seseorang yang sedari tadi berdiri tak jauh di belakangnya. Orang itu juga ingin menikam Bella dan menyelesaikan tugasnya, namun sayang, ia kalah cepat oleh kegesitan Bella yang jelas jauh lebih berpengalaman.
"Kuberitahu satu hal padamu, Eji: kamu harus menyembunyikan rasa ingin membunuhmu jika ingin berhasil membunuh seseorang." ujar Bella sambil menyeringai sebelum menikam dada kiri Eji dan menariknya kembali, membiarkan darah segar mengalir deras dari sana.
"Ugh..." erang Eji berusaha memberontak, namun sia-sia, lukanya terlalu dalam.
"Sayang sekali. Kamu itu tipeku, tapi sepertinya kita tidak bisa berpacaran. Selamat tinggal, Eji." Bella tersenyum memandangi Eji yang sudah mulai sekarat.
"Bella, sudah selesai bersenang-senangnya? Kita harus berkemas dan meninggalkan tempat ini. Di sini sudah tidak aman." ujar Nova mengingatkan Bella untuk bergegas.
"Aku tahu." Bella bangkit.
Hari sudah gelap dan hujan masih turun dengan deras menghujami bumi. Deru mobil mereka memecah di antara rintik hujan. Sepasang kakak beradik itu pergi, masih mencari ketenangan dan memulai kehidupan yang baru di tempat yang mereka tuju berikutnya.
×××
Lanjutan: Awal yang Baru Berakhir