Aroma dari air hujan yang jatuh ke tanah, membuat diriku mengenang kembali saat-saat bersama dirinya.
Memang benar kata orang-orang … kalau hujan bisa membuat kita merindukan seseorang, dan saat ini aku merindukan seseorang yang pernah menjadi teman dekatku.
Gadis yang memiliki penampilan rambut pendek dan cantik di wajahnya tanpa menggunakan riasan, serta matanya yang bersinar seperti cahaya bintang, di tambah dengan kepribadiannya yang ceria … membuat diriku tidak bisa menolak setiap permintaan darinya.
Namun, dia begitu egois … meninggalkan diriku sendirian, meninggalkan kenangan yang tak pernah bisa kulupakan, dan dia bahkan meninggalkan diriku sebelum aku mengungkapkan perasaanku.
Amelia Agustine, kematiannya yang mendadak itu membuat orang-orang yang berada di dekatnya tak percaya akan kabar kematiannya, termasuk juga diriku.
Gadis yang pernah menjadi teman dekatku itu tutup usia di umurnya yang baru saja menginjak delapan belas tahun.
Dia meninggalkan dunia ini dua hari yang lalu, akibat insiden kecelakaan yang melibatkan dirinya.
Aku merasa iri pada dirinya, di hari pemakamannya banyak sekali air mata yang membanjiri wajah orang-orang yang belum bisa menerima kehilangan dirinya—bahkan langitpun ikut menangisi kepergiannya.
Dan saat ini, tepat dua hari setelah kematiannya, aku hanya bisa meringkuk di kasur kamar tidurku … membaca sebuah novel yang pernah dia pinjamkan padaku.
Ah, tiba-tiba saja mataku berair. Air mata ini bukan karena aku menangisi kepergiannya … tapi, mungkin ini karena aku terlalu menghayati novel drama yang sedang ku baca saat ini. Mungkin, dia akan marah jika melihatku bersedih.
Aku menutup buku novel yang kubaca, beranjak dari kasur, lalu berjalan untuk mengambil ponsel yang dari tadi berada di meja belajarku. Aku membuka aplikasi pesan di ponselku.
[Jum'at
Aku
Kamu dimana? Aku udah sampai nih
15:25
Amelia
Tunggu disana, aku masih dandan.
15:28
Aku
Dandan lama amat?
16:00
Ga jadi ketemuan ya?
16:34
Batalin aja aku mau pulang, kamu kelamaan soalnya.
17:26]
Itu adalah obrolan terakhir kami di ponsel. Hari itu aku berencana mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi apalah dayaku, kasih sayang yang Tuhan berikan, lebih besar daripada rasa cintaku padanya.
Jika diberi kesempatan, ingin sekali aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya … dan mengucapkan salam perpisahanku padanya.
Aku merebahkan diriku ke kasur di kamar tidurku. Mungkin dengan tertidur aku dapat bermimpi bertemu dengannya—mungkin…