Namaku Senja anak pertama dari keluarga sederhana dan umurku sudah 20 tahun. Aku bekerja di supermarket sebagai kasir di daerah Bandung, Jawa Barat.
Selain itu aku memiliki kekasih namanya Langit dan kita berpacaran 3 tahun yang lalu. Dia pemilik cafe yang lumayan terkenal di Jakarta. Iya, kami LDR dia asli Jakarta dan umurnya pun sudah 25 tahun tapi kamu tidak mempermasalahkan perihal itu.
Menjalin hubungan LDR terkadang membuatku takut akan resiko kegagalan dalam hubungan ini, tapi dia selalu memenangkanku dan meyakinkan jika dia akan selalu setia. Kami juga sudah bertemu dengan keluarga satu sama lain.
Orangtuaku sangat menyukainya, berharap jika kita dapat ke jenjang yang lebih serius, sedangkan keluarga langit sangat tidak menyukaiku alasannya cukup jelas, aku yang berasal dari keluarga miskin dan dia keluarga kaya.
Hari ini adalah hari jadian kita dimana tanggal 1 November, kami sudah berencana akan bertemu dan merayakan hari jadian yang ke tiga, dan aku merasa senang atas itu.
Disini sekarang, aku duduk di taman yang lumayan ramai, tempatnya tak jauh dari tempatku bekerja. Aku menunggu dengan sedikit was-was karena ini sudah dua jam berlalu tapi dia tak kunjung terlihat.
Aku membuka ponsel Android yang layarnya sedikit pecah, mengirim pesan singkat yang juga tidak dibaca olehnya 'kamu dimana mas?'
Sekali lagi dua jam berlalu dan sekarang tepat pukul 23.00 meski taman masih ramai karena memang ini hari Minggu, tapi ia tetep gelisah, rasa kecewa mulai memupuk hatinya. Apa mungkin dia benar-benar lupa dengan hari ini?.
"Dek," panggil seseorang dari belakangku, aku menoleh dapat kulihat dia adalah langit. Mas Langitku tidak lupa dengan janjinya.
"Kenapa kamu lama Mas?" Aku berdiri menghampirinya dan memeluknya. Rasa kecewa yang tadi sempat hinggap kini mulai hilang hanya dengan sebuah pelukan.
"Saya ada sedikit urusan tadi," jawab mas Langit setelah pelukan terurai. Aku menatapnya dari ujung sepatu sampai rambut. Pakaian dia sangat formal seperti bos pengusaha besar yang hendak meeting.
Setelah itu hening tidak ada percakapan apapun diantara kita 1 menit, 5 menit tetap hening, hingga pertanyaan dari mas Langit membuatku terdiam.
"Bagaimana dengan hubungan kita, Dek?" Tanyanya sambil menatapku.
"Orangtuaku sudah menanyakan keseriusan mu, Mas." Aku menjawab dengan menatap lurus ke depan.
"Kamu tau, kan kalau keluarga saya tidak merestui kita. Saya tidak ingin menikah tanpa restu orangtuaku, Dek," ungkap mas Langit yang masih menatapku.
"Lalu apa mau mu, Mas?" Tanyaku lagi.
Mas Langit tidak menjawab pertanyaan ku, ia mengambil sesuatu dari balik jaz nya dan menyodorkan sebuah kertas seperti undangan kepadaku.
Undangan itu terlihat elegan dengan warna putih yang dipadukan dengan warna biru muda dan sebuah pita yang menjadi tali undangan memberikan kesan mewah.
Setelah aku membaca isi dari undangan itu, mataku memanas, jantung terasa dicengkeram dengan erat. Sungguh ini adalah hal yang ku takuti selama ini dan kini benar-benar terjadi dalam hubungan asmaraku.
Pacarku sendiri memberikan undangan pernikahan dengan wanita lain tepat dihari jadian kami. Aku tidak dapat membendung air mata ku.
"Maaf dek, saya tidak dapat menolak perjodohan yang telah diatur oleh orangtuaku dengan rekan bisnisnya," tampak ada sesal di matanya, tapi tidak ku hidaukan.
Aku berdiri bersiap untuk pulang, namun sebelum itu aku berkata "Menikahlah dengannya dan semoga kamu bahagia bersama pilihan orangtuamu Mas."
Untuk hal ini aku ikhlas mungkin mas Langit memang bukan jodohku dan aku mengerti jika aku tidak boleh egois dengan mempertahankan hubungan yang memang sudah ditentang sejak awal.
Aku mencintainya dan demi kebahagiaan serta ketenangannya aku rela melepaskan diriku darinya. Biarlah luka ini sembuh dengan waktu yang berjalan.