Di sebuah sudut kecil kota yang tak begitu ramai, hiduplah Alea Gefira, seorang remaja yang menghuni dunia yang semakin gelap. Terlahir dalam keluarga yang tampaknya berada, namun kedalamannya penuh dengan kehampaan. Satu-satunya saudara laki-laki, Alex, menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah keluarga yang retak. Meskipun orang-orang mengira dia beruntung lahir dalam kemewahan, namun kenyataannya, kebahagiaan terasa begitu jauh darinya. Orangtuanya, sebuah pasangan yang berada, terlibat dalam pertengkaran yang tiada henti, menciptakan luka yang mendalam dalam hati Alea.
Suatu hari yang mendung, Alea berbaring di atas tempat tidurnya, berusaha menemukan sedikit kedamaian dalam hening yang sementara. Namun, getaran riuh dari bawah meresahkan ketenangannya. Ia turun dan terperanjat oleh pemandangan orangtuanya yang terlibat dalam pertengkaran brutal. Alea tak berdaya, tak mampu menghentikan perang dingin ini. Yang dapat dilakukannya hanya masuk ke kamarnya, menutup telinganya, dan membiarkan air mata mengalir dalam kesendirian.
Setelah tangisannya mereda, Alea keluar dari kamar dan menyaksikan pemandangan kehancuran di bawah. Semua tercampur aduk, pecahan kaca tersebar di mana-mana, dan sepihak barang-barang berserakan tak beraturan. Di tengah kekacauan itu, bibi Hanum, satu-satunya pembantu di rumah mereka, berusaha membersihkan kekacauan itu sendirian. Alea turun dan menawarkan bantuannya, "Bibi Hanum, bolehkah aku membantu membersihkan ini?"
Bibi Hanum menatap Alea dengan senyuman penuh kebaikan, "Tidak perlu, Nak. Bibi bisa menangani ini sendiri. Kamu hanya istirahat saja."
Alea mencoba meyakinkan bibi, "Tidak apa-apa, Bibi. Aku tidak sibuk, dan selain itu, ini adalah orang tua dan aku yang merusak semuanya, bukan salah Bibi."
Bibi Hanum mengangguk paham, dan Alea pun memulai tugas membersihkan bersama Bibi.
Setelah selesai, Alea berpamitan kepada Bibi Hanum untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Keesokan harinya, seperti biasa, Alea bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Meskipun hidupnya penuh gejolak, Alea berusaha menjalani kehidupannya dengan semangat yang tak pernah padam. Saat tiba di sekolah, ia menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Setelah sekolah, Alea pulang dengan hati yang berat. Sesampai di rumah, dia bertanya kepada Bibi Hanum, "Bibi, di mana Kakak?"
"Bibi tidak tahu, Nak. Kakakmu ada di kamarnya," jawab Bibi Hanum tanpa ekspresi.
Tanpa berpikir panjang, Alea langsung menuju kamar kakaknya. Tiba di depan pintu kamar, ia mengetuk pelan, "Kak, bolehkah aku masuk?"
"sebentar," jawab Alex dari dalam.
Setelah beberapa saat, pintu kamar Alex terbuka, dan Alea masuk ke dalam. Mereka duduk di sana dalam keheningan sejenak, lalu Alea bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar, "Kak, ada yang ingin Kakak sampaikan?"
Alex mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara, "Ibu dan Ayah akan berpisah. Kamu ingin tinggal bersama siapa, Ibu atau Ayah?"
Alea merenung sejenak, memikirkan situasi yang sulit ini. Akhirnya, dia menjawab dengan lembut, "Alea ingin tinggal bersama Kakak, boleh?"
Alex tersenyum penuh pengertian, "Tentu, Alea."
Alea merasa lega mendengar jawaban Kakaknya. "Apakah ada pesan lain yang ingin Kakak sampaikan, Kak?" tanyanya.
Alex berpikir sejenak, lalu berkata, "Besok, Ibu dan Ayah akan menghadiri pengadilan. Besok kita akan pergi bersama-sama, ya?"
Alea mengangguk dengan setuju, "Baik, Kak. Kalau begitu, Alea akan pamit ke kamar dulu."
Malam itu, Alea merenung sendirian di kamarnya, mencerminkan perubahan besar yang sedang terjadi dalam hidupnya. Dia menangis sendirian hingga larut malam.
Keesokan harinya, Alea bangun dan siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, dia menyimpan buku-bukunya dan bersiap untuk pulang. Sesampai di rumah, dia bertanya kepada Bibi Hanum, "Bibi, Kakak ada di kamarnya?"
Bibi Hanum menjawab, "Iya, Nak. Kakak ada di kamarnya."
Alea pun menuju ke kamar kakaknya dan mengetuk pintu. "Kak, bolehkah Alea masuk?"
"Boleh," jawab Alex.
Mereka duduk bersama, dan Alea menanyakan apakah ada pesan yang ingin Kakaknya sampaikan.
Alex berkata, "Besok, setelah sekolah, jemputan bus akan menjemputmu. Kamu harus pulang dengan bus, tidak usah menunggu aku."
Alea merasa sedikit kecewa, tapi dia mencoba untuk memahami. "Baik, Kak."
Esok harinya, Alea pulang dengan bus, merasa kesepian tanpa kehadiran Kakaknya.
Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan, dan hubungan Alea dan Alex mulai terasa berbeda. Alea merasa bahwa Kakaknya semakin menjauh, dan ia tidak lagi berbicara seperti dulu.
Suatu hari, Alea mulai merasakan sakit kepala yang hebat. Dia mencoba mengirim pesan kepada Kakaknya untuk meminta pulang, tetapi Kakaknya tampaknya sangat sibuk.
kepala Alea semakin parah, dan dia merasa pusing yang amat sangat. Darah mulai mengalir dari hidungnya, dan dengan lemah, dia merosot ke lantai yang dingin dan terbaring disana.
Pagi berikutnya di kediaman Alex, suasana menjadi tegang. Alex duduk di depan televisi, melihat berita dengan mata yang penuh kekhawatiran. "Tidak mungkin, ini mustahil," gumamnya dalam hati. Ia segera mengambil kunci motor dan berlari menuju apartemennya.
Sesampainya di apartemen, Alex disambut oleh garis polisi dan kerumunan orang. Dia mencari-cari tahu apa yang terjadi, kemudian mendengar bahwa ada seorang remaja yang ditemukan tewas di apartemennya. Dengan ketakutan di hatinya, dia segera mengikuti mobil ambulans yang membawa jasad tersebut.
Di rumah sakit, dia mendekati petugas dan bertanya tentang identitas korban. "Maaf, siapa nama korban?" tanyanya.
Petugas medis itu memeriksa catatan dan menjawab, "Korban bernama Alea Gefira, Pak."
Alex merasa seakan dunia ini runtuh. Ia tahu bahwa Alea adalah adiknya, dan tak ada kata yang dapat menggambarkan perasaannya saat itu. Ia meminta izin untuk melihat jenazahnya.
Di depan jenazah Alea, Alex berkata dengan mata berlinang air, "Alea, maafkan aku. Maafkan karena aku tidak pernah ada untukmu, karena aku tidak mendengarkanmu saat kau sakit. Maafkan aku karena segala kesalahanku."
Proses pemakaman Alea berlangsung dengan sedih. Keluarga dan teman-teman yang hadir mendoakan kepergian Alea. Hanya Alex, bibi Hanum, dan orangtuanya yang tersisa setelah pemakaman.
Alex merasa kehilangan yang begitu besar. Dia menyesal karena tidak pernah benar-benar mendengar Alea, dan ini akan menjadi beban yang akan dia bawa sepanjang hidupnya. Namun, dia tahu bahwa dia harus bangkit dari kehancurannya. Dia mulai mencoba menjalani hidupnya lagi, menerima kenyataan bahwa Alea telah pergi.
"Waktu yang tak bisa terulang. Semua yang bisa kita lakukan adalah belajar dari masa lalu dan mencoba menjadi lebih baik," pikir Alex.
Hari-hari berlalu, dan dia berjuang untuk menjalani kehidupannya tanpa Alea. Namun, kenangan dan pelajaran dari adiknya tetap membimbingnya. Ia berusaha menjadi lebih baik, lebih pengertian, dan selalu siap mendengarkan orang-orang yang dicintainya. Alea mungkin telah pergi, tetapi dia akan selalu hidup dalam hati Alex sebagai pengingat akan arti sejati dari kebersamaan dan mendengarkan.
Seiring waktu berlalu, Alex melihat bahwa hidup terus berjalan, dan dia harus bergerak maju dengan kenangan dan cintanya untuk Alea dalam hatinya.