Dibalik ekspresi bahagia ada kesedihan yang menyelimuti hati, dengan kekosongan yang hampa membekap seluruh jiwa dan raga ku. Namaku Ahmad dan kebiasaanku hanya tersenyum dan mengaplikasikan kegiatan positif untuk membuat orang lain berpikir bahwasanya aku sedang baik-baik saja, walaupun sebenarnya hati ini masih menyimpan rasa hampa akan tetapi Tuhan tahu dan mengerti akan perasaanku saat itu
Hari-hari ku hanya dihabiskan untuk belajar di SMK tempat jenjang ku berada, karena di sana aku lebih fokus pada hand skill dari pada teori-teori membosankan. Tapi setelah ku lihat lagi ternyata mindset orang-orang berbeda dari apa yang ku kira
Karena setiap anak SMK tidak ada yang benar-benar fokus dalam mata pembelajaran justru mereka hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main, seperti anak SMP. Itulah yang terbesit dalam benakku
Tapi usut punya usut akhirnya aku naik tingkat, dimana sekarang aku sudah ada di kelas 11 yang mana merupakan cikal-bakal dari persiapan aku menghadapi momen magang atau seringkali disebut PKL
Di saat itu seperti biasa hari-hariku hanya dilalui dengan senyuman yang aku sendiri tidak tahu apakah itu benar-benar asli atau hanya kepalsuan semata
Tapi pada hari dimana kami melakukan praktek. Aku bersama temanku, sebut saja Beny. Dia adalah orang yang introvert walaupun begitu dia adalah orang yang cinta sosialisasi dan mudah bergaul berbeda dengan introvert tulen yang biasanya
Karena Beny adalah teman akrabku sejak awal masuk SMK mungkin tanpa dia hari-hariku hanya akan menjadi suatu suasana yang membosankan di sekolah
"Mad.. Kamu sudah tahu belum, kalau kita bakal praktek sama kelas sepuluh?"
"Beneran?"
"Yah.. Katanya sih gitu, tapi kalau mau, nanti setelah bersih-bersih kelas kita temui pak zay!?"
"Boleh, ya sudah mari cepetan karena bentar lagi bel pulang bakal berbunyi"
Benar, seperti yang kalian bayangkan bahwasanya saat itu aku bersama sahabatku piket kelas di hari jum'at, walau sebenarnya kami piket pada hari senin tetapi kami memutuskan untuk piket sebelum bel pulang, supaya nanti di hari H tidak begitu kelabakan
Setelah beres kami menanyakan kembali apa yang sebelumnya kami bahas yaitu mengenai praktek bersama dengan adik kelas, dan disaat itu kami berdua mendapat jawabannya
"Benarkan kataku!!" tegas sahabatku, Beny ketika kami usai bertanya kepada guru pembina. "Kalau gitu nanti kita bakal kerja sama dengan adik kelas"
"Mungkin i don't know" ujarnya sembari mengangkat bahu sebelum kami pulang ke rumah masing-masing
Entah apa yang kami lakukan tetapi pada hari sabtu kami libur dengan keadaan kami masih harus menyambut hari praktek, sebab kami akan praktek selama 3 hari berturut-turut dan itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng
Karena yang kalian tahu praktek sangatlah melelahkan apalagi dengan jurusan kami yaitu Aphp, jika kalian tidak tahu jurusan apa itu, akan saya beri tahu, Aphp atau nama kepanjangannya (Agribisnis pengolahan hasil pertanian)
Adalah jurusan berbasis pengolahan yang mana kami mengolah bahan nabati atau hewani menjadi suatu produk, sejenis tata boga hanya saja berbeda pada pembelajaran agribisnis karena kami ada hal untuk memahami sistematis bisnis itulah mengapa aku sebut berbeda
Tapi intinya semua hal yang berbau praktek sangatlah melelahkan, walaupun begitu aku tidak boleh menyerah, karena aku anak pertama yang digadang-gadang menjadi harapan orang tua dimasa depan kelak, jadi apapun itu aku pantang untuk menyerah.
***
Hari senin tiba dimana hari kami kembali masuk ke sekolah hanya saja ada hal yang berbeda yaitu dimana kami praktek untuk seharian. Aku dan Beny saat itu sedang mengenakan seragam praktek setelah upacara bersama dengan teman-teman pria lainnya
"Kita bakal buat apa nanti?" tanya temanku yang bernama Faqih. "Buat manisan nanas dan salak katanya" jawab Beny
"Dua produk, njir"
"Entahlah,.. Memang kita ini udah kaya pekerja romusha" clutak Beni. "Tapi kita nanti bisa lihat adek kelas, ben" sambung ku
"Lalu?"
"Kalau ada yang cocok kan bisa kamu jadiin pacar, haha.."
"Dasar, kamu aja masih jomblo"
"Asu lah" gumam ku yang diiringi tawa ringan dari Beny dan Faqih
Begitulah kami bertiga walaupun kadang akrab tapi masing-masing orang memiliki tujuan dan ambisinya sendiri, Beny yang sangat terobsesi dengan kekuatan dan kemampuan. Faqih dengan mimpinya dan aku yang hanya sibuk memikirkan jati diriku sendiri
Karena selama ini senyum yang merekah hanya sebuah kedok di depan umum. Pada jam 9 pagi kami mendapatkan arahan dari pembina dari kegiatan praktikum tersebut.
Aku dan beny menyimaknya seksama sampainya kami berhasil ke tahap pembentukan kelompok, awalnya aku bingung harus pilih siapa anggota kelompok tapi Beni mengajakku satu kelompok
"Mat.. Satu kelompok?" ujarnya sembari menatapku.
"Oke" balasku. Disusul dengan suara dari kursi belakang. "Aku gabung ben" sahut Faqih.
"Gas.." balas beny sembari memancarkan tatapan membara. "Tapi katanya satu kelompok diisi 5 orang, dan sekarang kita hanya ada 3 orang, jadi masih kurang 2 orang lagi" sambungku
"Yasudah tinggal tambahkan mereka aja, apa susahnya?"
"Kamu gak lihat mereka sudah dapat kelompok masing-masing"
"Hmm.. Benar juga yah"
Saat itu Beni melihat seisi ruangan dan siswanya yang sekitar 20 orangan sebelum sepasang matanya melirik ke arah dua wanita yang tengah duduk
"Dek.. Kamu ikut kami aja" ajak Beni membuat kedua wanita itu sontak terkejut dan hanya mengangguk paham
"Bagus.. Siapa nama kalian?"
"Aku Sisca dan dia Rika" balas salah satu wanita yang mewakili temannya.
Akhirnya kami berhasil membentuk kelompok dengan diketuai oleh Beni lalu anggotanya aku, Faqih, Sisca dan Rika. Yang mana kedua wanita itu notabene adalah adik kelas
Perlu kalian ketahui jikalau membuat manisan nanas bukanlah sesuatu yang mudah sebab kami pun masih membagi tim menjadi dua regu dimana aku dan beny akan membuat sirup dan Faqih, sisca dan Rika akan menyiapkan nanas
Target kita ketika nanas sudah siap maka sirup pun ikut siap sehingga tidak terlalu membuang waktu.
Awalnya kekompakan kami berjalan dengan lancar sebelum akhirnya aku mencari sesuatu di rak perkakas. Ya sudah jelas untuk mengambil sebuah wadah atau baskom yang bisa digunakan untuk wadah air.
Ketika itu aku hendak mengambil baskom, akan tetapi entah bagaimana ada satu tangan yang kala itu tak kalah cepat untuk mengambilnya, aku cukup terkejut sebelum akhirnya menoleh melihat ke arah siapa orang yang muncul secara mengejutkan itu
"Kamu..?"
"Bang ahmad?"
"Kamu tahu namaku?" ujar ku sedikit kebingungan. "Kan kita satu kelompok, masa bang ahmad gak kenal aku!!"
"Aku lupa namamu"
"Aku Rika temannya sisca, tadi aku belum terlalu kenal jadi gak ngomong apa-apa ketika di lobi"
"Begitu yah"
"Yah.. Lalu bang ahmad sendiri, mau ambil baskom ini juga?" tanya Rika
"Iyah untuk wadah sirup"
"Kalau gitu nih ambil saja" ujar Rika sembari memberikan baskom dihadapan ahmad. "Makasih"
Ahmad pergi dari ruangan perkakas menuju dapur sementara Rika kembali mencari baskom yang belum dipakai kelompok lain.
Semenjak kejadian itu aku mulai melirik ke arah Rika selama kami praktek, entah bagaimana tapi ada rasa ketertarikan antara aku dan dia, ya seperti cinta monyet
"Mat..napa melamun, ini pegangin baskomnya!!" cerca Beni yang sedang mengangkat panci berisikan sirup panas. "Ah.. Sorry"
"Jangan melamun nanti kesambet"
Usut punya usut akhirnya kami selesai mengakhiri pembuatan manisan nanas dengan hasil yang cukup memuaskan, walaupun bayarannya adalah butir keringat
"Capek banget, woi" keluh beny disampingku ketika kami sedang duduk di kursi dapur. "Namanya juga kerja"
"Iyalah tuh"
Ketika kami sedang beristirahat datang Sisca dan Rika ke arah kami sembari membawa baskom yang sebelumnya kami pakai
"Kalian mau cuci alat-alatnya?" tanya beni melirik mereka berdua. "Iyah,.. Bang kotor banget" jawab Sisca.
"Tapi kamu tinggal disini"
"Eh.. Kenapa?" bingung Sisca. "Bantu aku kemasin manisan nanas di cup"
"Lalu gimana Rika, masa dia nyuci sendirian" ujar Rika.
"Mat.. Bantu Rika, gih"
"Loh kok.. Aku?" ketika itu aku kebingungan karena secara mengejutkan ditunjuk oleh beny untuk menemani Rika. "Iya.. Memangnya siapa lagi, soalnya Faqih lagi keluar jadi kamu aja yang nemenin, mau gak?"
Sesaat aku berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk ke beni, karena mau bagaimana pun beni adalah ketua kelompok, dan lagian aku hanya perlu menemani Rika, jadi tidak perlu sampai mencuci alat
Itulah yang ada di batinku sebelum aku mengikuti langkah Rika meninggalkan dapur menuju wastafel yang tidak jauh dari dapur produksi. Sesampainya di sana aku melihat Rika sibuk berkutat dengan alat-alat kotor
Aku yang merasa bosan menunggu, akhirnya bergerak untuk membantunya, sehingga disaat itu kami berdua mencuci dengan kondisi bersebelahan
"Bang ahmad, makasih yah udah mau bantu aku"
"Gak masalah, lagian ini karena beni yang suruh aku untuk menemanimu, jadi yah sekalian aja bantu supaya cepat selesai
"Bang beni itu teman abang ya?"
"Iyah, bisa dibilang teman dekat, karena kami sudah bersama sejak awal masuk sekolah, bahkan ketika masa MPLS saja kita sudah akrab satu sama lain
"Owh.."
"Ngomong-ngomong kamu sendiri, kenapa masuk sekolah disini, apa karena teman?" Tanya ku
"Yah.. Salah satunya karena teman"
"Begitu yah"
Sesingkat itu perbincangan diantara kami sebelum akhirnya agenda kami berakhir. Namun entah bagaimana suasana hati kami mulai ada sesuatu bergejolak, entah apa itu tetapi seperti ada yang aneh
Waktu berlalu hingga praktek pada hari ini pun usai, akan tetapi semua itu belum berakhir sebab praktek gabungan ini berlangsung selama 3 hari berturut-turut jadinya aku dan Rika masih bisa bertemu di hari esok.
Di lobi tepat kami berkumpul sebelum pulang, aku bersama ketua dan anggota yang lain berkumpul dan melakukan presentasi hasil analisis dan proses pembuatan produk yang saat itu diwakilkan oleh satu orang yang antara lain beni sebagai ketua kelompok
Karena memang beni adalah tipikal orang yang mudah berbicara di depan orang lain, walaupun secara garis besar masih butuh latihan karena terkadang kata-kata dan kalimatnya masih berantakan
Namun karena kemampuan yang dimilikinya akhirnya dia dipercaya menjadi ketua kelompok maupun ketua kelas, tentu dia juga berkecimpung dalam organisasi Osis. Sehingga tiap saat aku bingung, apakah aku bisa mengejar temanku?
Selesai presentasi kami memutuskan pulang dari sekolah untuk ke rumah masing-masing. Namun sebelum itu didepan lab beni berkata.
"Makasih.. Untuk kekompakan dan kerja samanya yah teman-teman" seruan Beni ketika kami masih berkumpul di depan laboratorium
"Sama-sama bang Beni" ujar Sisca dengan antusias
"Asalkan kita semua kompak pasti hasilnya bagus, ben" ujar Faqih yang mengikuti alur pembicaraan. "Hahaha.. Kamu benar, kih"
"Yasudah aku mau pulang lah ben, capek" seruku.
"Sekalian aja kita sama-sama ke parkiran" ujar sisca. "Yowes ayo" ucapku akhirnya kami ke parkiran dan pulang ke rumah masing-masing
Di rumah aku mulai mengingat pandangan Rika yang sempat terngiang-ngiang di kepala bahkan ketika itu aku sempat menghabiskan malam untuk memikirkannya, entah bagaimana tapi memang itu yang kurasakan semalaman
Malam pun berganti akhirnya aku bersama yang lain ke sekolah untuk melakukan praktek campuran, ya.. Disaat itu aku datang sedikit telat namun sudah datang sebelum 5 menit berkumpul di lobi
"Mat.. Tumben telat" ujar beny.
"Yah.. Tadi agak kesiangan, gimana sudah dipanggil untuk kumpul belum kita?"
"Belum, Owh... Iyah tadi kamu dicariin rika?"
"Masa? Untuk apa?"
"Kurang tahu, yah masa aku bohong, mungkin naksir dia sama kamu"
"Sembarangan" umpat ku meninggalkan beni untuk meletakkan tas di loker dalam ruang praktek sekaligus mengganti baju jurusan.
Waktu pun berlalu aku bersama yang lain berkumpul di lobi untuk menerima arahan dari pembina untuk hari kedua, yang memang setiap hari produk yang dibuat selalu berubah-ubah
Dan ketika itu kami membuat jamur crispy yang menggunakan bahan baku jamur dan tepung. Terdengar asing untukku, karena memang itu adalah produk yang pertama kali aku dengar
Tapi semua bisa dihadapi dengan mudah jika kita mengikuti resep yang sudah diberi tahu.
Selama membuat aku lebih aktif pada pencucian jamur, Sisca menyiapkan alat sekaligus masak air dan Beni dan faqih, mereka menentukan bumbu yang digunakan untuk menambah cita rasa
Walaupun mencuci bahan sedikit jauh dari dapur tapi aku tidak sendiri, karena saat itu Rika ada disisi ku membantu melakukan sortasi
"Rik, tadi kata beni kamu cari aku yah?" Tanya ahmad membuat Rika langsung terdiam seribu bahasa sebelum menjawab namun dengan wajah tersipu. "Yah.. Hanya sedikit bingung, kenapa bang ahmad belum datang, sementara jam praktek mau dimulai"
"Oh.. Begitu yah, aku kira ada apa"
"Iyah, ha..Ha.. Hah" terlihat Rika cukup khawatir dengan ucapannya
Semakin lama aku sering melirik ke arahnya dan memang dari dekat wajah Rika membuatku canggung untuk pertama kalinya. Entah bagaimana perasaanku menjadi resah dan arah pikiran mulai tak menentu
"Oh.. Iyah, Rika, boleh tanya?!"
"Silahkan!!" Ujarnya
"Kamu sudah punya pacar~"
Bagaikan petir disiang bolong mau itu aku ataupun Rika kami sama-sama malu, terutama untuk aku yang secara pribadi tidak menyangka jika aku bakal mengeluarkan kalimat tersebut kepada wanita yang baru ku kenal
"Ah.. Maaf aku tadi hanya asal mengucap, jadi gak usah di masukan kedalam hati ya" ucap Ahmad yang kala itu merasakan malu hingga ke tulang sumsum tapi beruntung Rika hanya mengangguk paham dan tidak banyak bicara.
Akan tetapi semua belum selesai karena setelah kejadian itu aku dengan Rika semakin canggung untuk memulai obrolan, bahkan Beny sampai bingung dengan diriku yang duduk bersebelahan dengan Rika
Dengan wajah yang berpaling. "Kamu kenapa?" Tanya beni. "Gak apa-apa kok" jawab ku dengan senyum kedut
"Aku pikir kenapa, tadi aku hampir berprasangka kalau kamu sakit, kan repot kalau aku sampai membawamu ke puskesmas"
"Heh.. Aku gak kenapa-napa, jadi aman aja" aku berusaha menyakinkan Beny tetapi matanya menoleh ke arah Rika yang tengah ngobrol dengan sisca
"Ya Sudah.. Nanti setelah selesai rebus jamurnya kamu sama Rika langsung cuci kuali nya yah" ujar Beny
"Kenapa aku?"
"Lalu?"
"Ya.. Kamu suruh Faqih atau nggak sisca aja, kan mereka belum pernah mencuci alat" bantah ku
"Gak usah coment, mereka harus tetap stay disini untuk aku suruh jika butuh bantuan"
"Tapi"
"Gak usah bantah!!" Tekan beni sembari menatap tajam ke arah ku
"Yah.. Oke deh" jawabku dengan pasrah. "Nah jadi anak itu harus nurut dong"
"Sialan" batinku ketika itu secara sekilas melihat senyum terukir di buah bibir beni
Akhirnya mau gak mau aku pun kembali berinteraksi dengan Rika, ya mau gimana lagi, ketika beny sudah menyuruh aku sudah tidak bisa membantah sama sekali, jadi saat itu aku dan Rika hanya bisa saling berdiam diri tanpa mengucapkan satu kalimat pun
"Bang Ahmad, kalau misalnya aku masih jomblo gimana?"
Seketika aku langsung mematung tanpa bisa berkata apapun, karena yang ada di hati hanya rasa senang. "Ah.. Baguslah"
"Kok bagus sih!!"
"Lah kenapa?" Ahmad bingung. "Bang Ahmad gak tau aja kalau di kelas, aku sering diomongin terus karena gak punya pacar"
"Masa sih?"
"Iyah" ucap Rika yang menggembungkan pipi sembari memasang wajah cemberut
"Hahaha,.." Tawa Ahmad.
"Ih.. Kok ketawa!!"
"Nggak kok, aku hanya sedikit lucu sama sikapmu yang tadi"
"Bang Ahmad jahat"
"Maaf, maaf deh lain kali gak aku ulangi lagi" ujar ku yang memamerkan double peace
Sumpah hari itu adalah hari yang membahagiakan untukku, sebab akhirnya hati yang kosong selama 16 tahun mulai diisi oleh seorang wanita imut, yang disebut Rika
Namun walaupun begitu pada malam harinya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena selama semalam aku tidak bisa menghilangkan bayangan Rika dari benakku. Ya seperti aku sudah hampir gila karena wajah cewe -_-
Keesokan harinya adalah hari ke-3 dari masa praktek campuran sekaligus untuk mengakhiri praktek tersebut
Dan di hari itu aku mulai lebih akrab dengan Rika bahkan kami terkadang ada kalanya bercanda seperti pada pembuatan jamur crispy. Kami saling menaburkan tepung satu sama lain
Tentu saja, kami berdua sering mendapat teguran dari Beny untuk tidak bermain-main disaat sedang bekerja
Tapi bukannya jerah kami malah semakin iseng untuk membuat beny kesal. Sampai akhirnya satu harian kami saling bertukar cerita dan bekerja walaupun untuk kerjaan hanya 30% dan sisanya diserahkan kepada Beny
Begitulah akhirnya aku dan Rika saling akrab dan memulai hubungan, secara garis besar kami adalah teman tetapi dibalik itu kami sudah menyimpan rasa suka dan ketertarikan satu sama lain
Dan diakhir cerita kami berjalan berdua sembari menyanggah tas untuk pulang ke rumah sama-sama. Berdua, karena anggota lain masih sibuk dengan urusannya masing-masing
"Akhirnya... selama tiga hari berturut-turut selesai juga praktek kita, sungguh melelahkan" ujarku sembari merentangkan kedua tangan
"Yah.. Melelahkan, walaupun tidak terlalu buruk"
"Kenapa?"
"Karena aku mendapat 2 keberuntungan disini, yaitu ilmu dan satu lagi rahasia" ucap Rika membuatku bingung
"Kok rahasia?"
"Abang mau tahu?" Tawar Rika dengan menunjukkan wajah menggoda. "Iyah, mau tahu"
"Jawabannya, R-A-H-A-S-I-A" mendengar Rika mengeja kata itu akhirnya, aku pun membalasnya dengan sebuah cubitan kecil
"Ah.. Sakit" rintih Rika. "Haha.. Kapok, salah siapa buat orang kesal" ucapku berlari lebih dahulu meninggalkan Rika.
"Ih.. Abang Ahmad!!" Teriak Rika berseru seraya memperhatikan Ahmad sudah berlari kecil meninggalkannya lebih dahulu.
Akan tetapi dari kejauhan sudah ada sepasang mata yang memperhatikan kami sembari tersenyum tipis, siapakah dia?
TAMAT…
Note: Ini adalah cerpen series yang akan dilanjutkan dengan cerita berbeda, tokoh berbeda dan tema berbeda, tetapi semua masih berkesinambungan satu dengan yang lain, hanya saja akan menciptakan sesuatu imajinasi yang berbeda. Dan lanjutannya berjudul. Tersandung Cinta Fase 2, 3 Dan seterusnya.
(Kalau ada yang baca & like, kemungkinan akan dilanjutkan, tetapi jika tidak akan tetap lanjut)