Aku melangkah dengan langkah yang berat keluar dari rumahku.Langkah ini begitu berat seolah-olah dunia ini memberatiku lebih dari biasanya.Setiap langkah terasa seperti mengangkat beban yang tak terhingga. Hidupku yang seolah-olah tertutup dalam bayang-bayang kesepian dan keputusasaan, membuatku hampir merasa tak bernyawa.
Suasana kelabu di sekitarku seakan mencerminkan perasaanku yang kacau.Awan mendung meliputi langit, mengaburkan matahari yang seolah tak mampu menembusnya. Begitu juga dengan hatiku, kesedihan dan kebingungan mengaburkan segala harapanku.
Aku berjalan menuju ke kantorku dengan tatapan yang kosong, melewati rekan-rekan kerja tanpa sapaan sepatah kata. Aku menganggap mereka hanyalah orang lewat bukan seorang rekan kerja. Rekan kerja seharusnya menyelesaikan tugas yang di berikan bos bukannya malah meluapkan semua pekerjaannya kepadaku.
Setiap hari aku menjalani rutinitas dalam hidupku yang begitu hampa seperti mayat yang berjalan, tanpa memiliki harapan maupun tujuan. Aku pun terus menyendiri, saat diajak berkumpul oleh rekan kerja pun aku menolak, membuat mereka mencap bahwa aku orang sombong.
Setelah pulang kerja, rasanya begitu melelahkan. Aku beristirahat dengan di temani handphone ku untuk melepas penat. Setiap hari hiburanku hanyalah scrolling media sosial menghasilkan begitu banyak dopamin yang instan, namun kegiatan itu hanya menghiburku sesaat, sesaat setelah itu malah membuatku semakin terpuruk. Hidupku makin tertimbun ke dalam kehidupan yang hampa tak berujung.
Aku selalu berpikir, semenjak kecil aku selalu di beri perspektif jika aku ini adalah anak yang special, tetapi realitanya? Aku hanyalah pecundang yang tidak memiliki keistimewaan sama sekali. Lantas untuk apa kita hidup?, untuk apa kita berjuang? Toh tidak ada hal yang jelas juga untuk aku kejar.
Suatu hari, aku memutuskan untuk mengakhiri semua penderitaan ini. Aku berdiri di atas sebuah jembatan, memandangi danau yang memantulkan cahaya matahari di bawah sana. Aku merasa hampa dan lelah dengan perjuangan hidupku. Apa gunanya hidup jika kita pada akhirnya mati. Apakah layak kita menjalani kehidupan ini jika hanya dirundung rasa sakit. Aku percaya bahwa yang baik akan mengalahkan yang jahat, Aku percaya bahwa ketika kita berbuat baik kita akan mendapatkan hadiah nantinya,namun nyatanya? Nihil!
Aku ingin melepaskan diri dari segala keresahan dan rasa tak pasti yang menghantui.
Aku pun mulai berpikir bahwa tidak ada lagi jalan keluar dan tidak ada lagi jawaban, mungkin ini semua ulah dari alam semesta, tapi mengapa? Padahal aku hanyalah setitik debu bagi alam semesta, jika eksistensiku tidak ada didunia ini, itupun tidak akan berdampak kepada alam semesta, tetapi mengapa semesta membuat hidupku ini seperti tidak mempunyai nilai.
Tapi tiba-tiba, suara lembut memotong keheningan di sekitarku. "Kalau kamu mengakhiri hidupmu sekarang, kamu akan menyesal loh di neraka" kata suara itu. Aku menoleh, dan di sampingku berdiri seorang wanita. Gerakannya mengikuti gerakanku, ia menatap lurus ke bawah danau, kemudian menatapku dengan tajam. Rambutnya hitam lebat menggunakan gaun gelap, ia merentangkan tangannya lentik seolah olah ingin berdansa di atas jembatan.
Aku tertegun. Siapa dia? Apa yang dia tahu tentang penderitaanku? Dengan raut wajah yang tulus, dia mendekatiku. "Apa yang membuatmu begitu putus asa?" tanyanya dengan lembut. Kemudian kami berdua duduk di taman tepi danau.
Aku tak tahu mengapa, tapi entah bagaimana aku merasa nyaman berbicara dengannya. Aku menceritakan semua beban dan kesulitanku, tanpa khawatir tentang penilaian atau cacian. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian, dan aku merasa seperti aku akhirnya memiliki seseorang yang mengerti.
Dalam minggu-minggu berikutnya, kami terus bertemu. Dia memberiku nasihat dan dukungan yang membuatku merasa lebih baik. Aku mulai merasa bahwa ada harapan untukku, bahwa hidupku masih berarti.
Suatu hari, saat kami berjalan jalan menyusuri perkotaan, dia berbicara tentang arti kehidupan. "Tidak semua hal dalam hidup ini datang dengan kemudahan," katanya. "Tapi setiap perjuangan memiliki makna, dan kamu bisa tumbuh dari situ."
Kata-katanya menusuk hatiku seperti sinar matahari yang pertama kali menerobos awan mendung. Aku merasa seperti ada cahaya yang kembali menyinari kehidupanku yang gelap.
Namun, kebahagiaan itu ternyata hanya sebentar. Suatu hari, aku merasa ada yang aneh. Dia terlihat kabur, seolah-olah dia tak nyata. Aku mulai khawatir, apakah ini hanya imajinasi lagi?
Aku berbicara tentang hal ini padanya, tapi dia hanya tersenyum lembut. "Apa yang kamu alami adalah bagian dari perjalananmu sendiri," katanya. "Kamu harus menerima semua sisi dirimu, baik yang terang maupun gelap."
Waktu terus berjalan, dan semakin sering dia muncul dalam hidupku, semakin kuat perasaanku terhadapnya. Aku merasa seperti aku benar-benar menemukan seseorang yang dapat mengisi kekosongan dalam diriku. Namun, ketidakpastian dan keraguan terus mengganggu.
Suatu hari, kami duduk di tempat favorit kami, di bawah pohon rindang di taman. Aku menatapnya dengan hati yang berdebar-debar. "Aku takut," kataku dengan suara gemetar. "Apa yang terjadi padaku? Apa yang sedang aku alami?"
Dia tersenyum dan mendekatiku. "Kamu tengah menemukan jati dirimu, baik sisi terang maupun sisi gelapnya. Kamu tengah merangkai potongan-potongan yang pernah hilang."
Tiba-tiba, dunia di sekitarku berputar. Aku merasa pusing dan tak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan khayalan. Wajahnya mulai kabur, dan suara-suara dalam kepalaku semakin keras.
Lalu, tiba-tiba semuanya menjadi hening. Aku merasa seperti aku berada di dalam gelembung sendiri, terpisah dari dunia luar. Suara-suara dalam kepalaku menjadi satu, membentuk harmoni yang menenangkan.
Ketika aku membuka mata, aku menyadari bahwa dia sudah tidak ada di sampingku. Semuanya berakhir dengan tiba-tiba. Aku merasa seperti aku baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku.
Tapi seiring waktu berlalu, aku mulai memahami. Dia bukanlah orang asing yang tiba-tiba muncul dalam hidupku. Dia adalah bagian dari diriku sendiri, suara dalam kepalaku yang memberiku nasihat dan dukungan.
Aku tidak sendirian. Aku memiliki seseorang yang mengerti dan mendukungku, bahkan dalam kegelapan yang paling dalam. Aku mungkin tidak akan pernah tahu apakah dia nyata atau hanya imajinasi, tapi yang jelas, dia adalah bagian dari perjalanan hidupku yang memberiku kekuatan untuk bangkit.