aku adalah seorang anak yang bersemangat yang hidup didesa dekat gunung terlarang.
kakek ku berkata sambil menunjuk gunung:"jangan pernah mendekati gunung itu karena disana sangat berbahaya".
aku pun penasaran dan dengan wajah bingung bertanya pada kakekku:"ada bahaya apa kek, kenapa saya tidak boleh mendekati gunung?" .
kakekku melihat ku dengan tatapan tersenyum tipis dan menggelengkan kepala, lalu ia berdiri dari bangku dan menghadap kearah gunung dan berkata:"aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi aku peringatkan jangan pernah mendekati gunung".
aku berdiri dibelakang kakek dan mendengarnya berkata seperti itu, aku pun mengungguk:"baik kakek aku tidak akan mendekati gunung apapun yang terjadi".
~
10 tahun berlalu saat ini aku adalah seorang pendekar didesa yang memburu hewan buas dari hutan didekat desa.
saat ini ada seekor singa datang dan mengacau di dekat pintu masuk desa dan aku ditugaskan untuk mengalahkan singa itu oleh ketua desa.
aku keluar dari desa dengan membawa sebuah pedang besi dan berjalan ke arah singa yang sedang sibuk mengejar hewan ternak yang lepas dari kandang penduduk desa.
melihat ku berjalan keluar singa itu berhenti mengejar hewan ternak ia melirikku dengan waspada dan mengaum.
"mengaum"
aku dengan hati² mengangkat pedang di tangan ku dan berpose siap menebas.
singa melihat ku mengeluarkan pedang dan ia berpose siap menyerang, singa melompat dan menerkam kearahku.
aku dengan cepat menebas pedang dan langsung membidik kepalanya.
singa itu mengayunkan cakar nya dan memblokir pedangku, aku dengan cepat melompat kesamping dan menebas lagi kearah leher singa.
singa itu menghindari serangan pedang ku lagi dan ia melompat mundur, ia mengaum dan berpose siap menerkam.
ia melompat lagi dan menerkam kearahku, akupun menghindarinya dan menebasnya dileher.
singa itu dengan paksa menghindari tebasan ku dan ia terluka di dekat leher, luka yang dangkal.
singa itu dengan marah mengaum kearahku.
aku pun berpose menusuk dan saat singa itu hendak menerkam lagi.
aku pun menusuk keleher dari bawah kepalanya.
"craasss"
darah mengalir dari tusukan dileher singa, tusukan itu sangat dalam sampai tembus ke bagian atas leher singa.
singa itu roboh dan mati, aku melepaskan pedangku yang tertajak di leher singa dan menyapu darah dengan kain kasar.
setelah melihat ini penduduk desa keluar dari desa dan mengangkut mayat singa.
para penduduk desa banyak memuji ku tapi aku dengan acuh mengabaikan mereka dan berjalan kepintu masuk desa.
tapi tiba-tiba seorang penduduk desa muda berlari dan berteriak kepadaku:"tuan pendekar!...tuan pendekar!, adikmu dikejar sekelompok serigala dan berlari memasuki gunung!".
aku yang sedang berjalan kepintu masuk desa berhenti dan menoleh kearah suara, aku melihat pemuda yang adalah teman adikku.
akupun bertanya dengan gugup pada pemuda itu:"apa yang terjadi?".
pemuda itu berhenti didepan ku dengan terengah² ia menyesuaikan nafasnya dan berkata dengan panik:"tuan pendekar, adik perempuan anda berlari kegunung, ia dikejar sekelompok serigala".ia berkata dengan terengah² dan wajahnya sangat panik.
alisku menyerit aku dengan panik menyuruhnya:"dimana dia, cepat tuntun aku kesana".
pemuda itu mengungguk dan ia berlari menuntunku sambil terengah².
melihat pemuda itu kelelahan aku pun dengan tidak sabar mengangkatnya dengan satu tangan tanpa mengucapkan apapun.
pemuda itu terkejut tapi dengan cepat pulih ia menunjukkan jalan padaku sambil diangkat.
setelah 2 menit berlari aku sudah mencapai kaki gunung, aku dengan singkat mengingat pesan kakekku, tapi saat ini adikku ada digunung.
aku dengan cepat melepaskan pemuda itu dan menyuruhnya pulang kedesa, tanpa melihat pemuda itu aku langsung berlari kearah gunung.
aku dengan cermat berlari sambil melihat jejak kaki yang ditinggalkan serigala.
setelah beberapa saat aku melihat seorang gadis yang bersadar dibatu besar dengan wajah panik ia terkepung sekelompok serigala.
aku menghirup nafas dan tanpa menunda waktu mengangkat pedang dan berlari kearah serigala.
serigala yang lagi fokus mengepung gadis itu tidak menyadari kedatanganku, aku dengan cepat menebas serigala paling dekat.
serigala itu tertebas dileher tanpa ia sadari, setelah itu aku melompat dan menebas serigala terdekat lagi.
sekelompok serigala yang mendengar suara dibelakang mereka menoleh satu demi satu.
gadis itu juga menoleh kearah ku, seperti hari yang menjelang fajar, wajahnya yang putus asa digantikan dengan senyum kebahagiaan.
"KAKAK"gadis itu berteriak dengan suara yang merdu.
aku tidak menjawabnya tapi aku fokus dengan sekelempok serigala mereka melirik serigala yang kutebas lalu menatapku dengan ganas.
aku dengan hati hati berpose dan melirik sekelompok serigala dengan waspada.
aku melihat dua serigala langsung menerkam kearahku, aku langsung melompat menghindari salah satu serigala dan langsung menebas serigala yang satunya.
serigala itu tertebas aku dengan cepat mencabut pedangku dari tubuh serigala, setelah itu dengan kasar menebas serigala yang menerkam tadi.
"woo"
serigala itu berteriak kesakitan, dan serigala yang menonton pun ikut menerkam.
aku yang dikelilingi 7 serigala sekaligus tidak panik, aku menghirup nafas dengan tenang dan menghindari serangan satu per satu dan menebas saat ada kesempatan.
2 menit berlalu dan hanya satu serigala saja yang tersisa, serigala itu juga terluka cukup parah dan berhalan mundur saat melihat ku mendekat.
aku menebas serigala terakhir dan aku dengan cepat duduk ditanah, aku terengah² saat ini kondisi ku cukup baik hanya tergigit oleh serigala di lengan kiri dan kelelahan.
gadis yang berdiri sejak tadi disamping batu besar berlari kearahku dengan khawatir dan membantu ku berdiri, ia membantuku berjalan dan menyandarkanku kebatu yang tadi ia sandari.
setelah aku duduk bersandar dibatu, gadis itu memelukku dan menangis:"hiks..hiks....untung saja kakak datang kalau tidak...kalau tidak-"
aku menyelanya dan membalas pelukannya:"tidak apa²...tidak apa²... kakak ada disini jangan takut, kakak akan melindungi mu"
setelah menangis 5 menit gadis itu menyapu air matanya dan mengangkat wajahnya ia tersenyum kearahku tanpa mengatakan sepatah katapun.
aku tersenyum kearahnya, aku tiba² mengingat pesan kakekku dan berdiri aku dengan cepat menggandeng tangannya dan berkata dengan wajah gelap:"cepat berdiri...kita harus keluar dari gunung segera"
gadis itu dengan bingung nenatapku tapi ia tetap mengungguk kearahku.
aku pun menggandeng tangannya dan berlari turun gunung dengan tergesa gesa.
saat aku dan adikku sudah dekat dengan kaki gunung, aku merasakan getaran dan getaran itu semakin kuat dibawah kakiku.
aku dengan cepat mengangkat adikku dan melompat mundur, aku melihat tanah tempat aku berdiri sebelumnya itu retak dan retakan itu semakin melebar.
saat retakan itu semakin besar tanah runtuh, aku menoleh bayangan hitam besar keluar dari tanah itu, aku pun terkejut dan dengan panik menjauh dari area itu sambil menggendong adikku.
aku menoleh dan melihat setengah dari tubuh ular yang sangat besar keluar dari tanah, ular itu berwarna hitam pekat dan sisik yang besar dan berduri², ia juga memiliki tanduk kecil atas matanya.
ular itu mendesis dan menjelurkan lidahnya, ia melirikku dengan tatapan melihatku seperti mangsa.
aku dengan hati² menurunkan adikku dan dengan waspada berpose dan mengarahkan pedangku kearah ular itu.
aku berbisik keadikku:"kau bersiap² lari keluar gunung saat ada kesempatan, kakak akan membantu mengulurkan waktu"
gadis itu sangat ketakutan dan mengungguk tanpa sadar.