Aku punya seorang sahabat. Melebihi seorang sahabat, ia sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Kami selalu bersama, entah siapa yang menempel pada siapa.
Temanku ini, entah kenapa tampaknya selalu menjadi sasaran bullying teman-teman yang lain ketika tidak bersamaku. Namun sebelumnya, aku tidak pernah menyadarinya. Astaga, sahabat macam apa aku ini. Memalukan sekali.
Suatu malam, ketika kami berangkat ke sekolah bersama dengan sepeda masing-masing, tanpa sengaja sahabatku itu terjatuh karena tidak melihat lubang di jalan. Maklum, malam begitu gelap tanpa bantuan lampu-lampu jalan yang memadai. Ditambah, hujan yang baru saja reda telah mengisi penuh lubang-lubang yang ada di jalanan sehingga tak satu pun dari kami menyadari keberadaan lubang tersebut. Saat itu dengan reflek aku tertawa, merasa kejadian itu konyol sekali. Namun dia diam saja, terduduk di kubangan air dengan kepala tertunduk dan tampak murung.
Ketika itu beberapa teman kami melintas. Ikut menghentikan sepeda mereka dan tertawa bersamaku. Tampaknya mereka merasa boleh-boleh saja untuk tertawa karena aku yang merupakan sahabat dekatnya pun menertawakannya. Namun sahabatku itu masih bergeming. Kepalanya bahkan kini semakin tertunduk. Melihatnya seperti itu pun membuatku seketika terdiam karena merasa ada yang janggal. Sementara teman-teman yang lain masih tertawa.
Aku teringat akan seuntaian kalimat yang muncul di beranda sosial mediaku beberapa waktu yang lalu. Kira-kira bunyinya seperti ini:
"Ketika bercanda, tapi hanya kamu yang tertawa. Itu bukan sebuah candaan, tapi sudah termasuk perundungan."
Jadi dengan cepat aku turun dari sepeda dan membantunya berdiri sembari menatap tajam pada mereka. Mendapat peringatan dariku, mereka langsung terdiam dan beranjak pergi dengan cepat.
"Maaf," Ujarku sambil menyeka air mata yang membasahi pipi sahabatku. Ia mengangguk pelan.
Syukurlah ia mau memafkanku.
Mulai saat itu, aku bertekad untuk selalu bersamanya dan menghindarkannya dari segala jenis perundungan.
×××TAMAT×××