Namaku Amara putri biasanya orang-orang memanggil ku Mara.
ibuku pernah bilang jika orang yang kamu cintai mencintai yang lain maka lepaskanlah. karena itu hanya akan menyakiti hatimu.
aku melakukannya, melepaskan cintaku daripada mempertahankannya.
siang hari di waktu istirahat sekolah, ada banyak hal yang bisa dilakukan saat jam istirahat contohnya saja para siswa yang saat ini memilih bermain basket di lapangan dan ada juga siswi-siswi yang sedang berkumpul duduk di pinggir lapangan.
aku sendiri memilih untuk ke kantin. duduk dengan teman-teman yang asik mengobrol dan jangan lupakan jajanan yang tadi kami beli.
ada banyak hal yang kami bicarakan dari topik pelajaran sampai gosip sekolah.
rasanya menyenangkan mendengar mereka menceritakan apa yang mereka tau. aku suka melihat ekspresi mereka.
sepertinya setelah lulus aku akan sangat merindukan momen ini.
pagi senin
kalian tau kan hari yang paling tidak disukai para siswa/i tentu saja hari senin. walaupun tidak menyukai nya aku tetap berangkat lebih awal di hari senin.
alasannya tidak lain karena piket. aku yang biasanya berangkat siang yang penting gak telat harus berangkat pagi buat piket.
baru juga ingin istirahat setelah piket sudah ada devon si ketua osis di sekolahku memanggil.
berjalan ke arahnya dengan wajah masam. saat sampai di hadapannya langsung saja devon mengatakan keperluannya tanpa menunggu aku bertanya dulu.
"Ada anak baru hari ini tolong gantiin gw buat ngajak dia keliling sekalian nganterin ke kelasnya."
"Kenapa gw? suruh yang lain ajalah lagi males gw." hendak kembali masuk ke kelas devon mencegah ku.
"Gak ada waktu buat nyari yang lain keburu telat ntar."
dengan amat terpaksa aku mengangguk dia terlihat senang setelah mengatakan kelasnya anak baru dimana devon langsung pergi meninggalkan aku dengan anak baru berdua.
kenapa berdua dan dimana yang lain? yang lain belum banyak yang datang apalagi anak-anak di kelas ku mereka selalu datang di waktu mepet telat.
canggung itulah suasana saat ini, lagi pula devon belum memperkenalkan kami sebelum dia pergi.
menutupi suasana canggu aku beranikan diri berbicara lebih dulu.
"gimana kalo gw tunjukin kantin dulu?" dia tidak menjawab dengan suara melainkan gestur tubuh. kepalanya mengangguk pelan tanda setuju.
aku langsung berjalan kearah kantin dengan anak baru yang mengikuti di sampingku.
selain ke kantin aku juga menunjukkan lapangan, taman dan jangan lupa toilet bagian paling penting.
setelah berkeliling sekolah aku mengantar nya ke kelas. hanya sebentar kami berkeliling karena memang sekolah tidak terlalu besar.
setelah sampai di kelasnya aku pamit pergi kembali ke kelas ku namun baru berbalik aku mendapati sebuah tangan yang memegang tanganku saat berbalik dan melihat pemilik tangan tersebut aku mengerutkan kening.
bingung apa yang membuat anak baru menahanku. masih dengan acara tatap menatap dia terlihat enggan melepas tanganku dan aku juga tidak tau harus mengatakan apa.
sampai sebuah suara Menginterupsi membuatnya melepaskan pegangan nya pada tanganku.
dia beralih melihat sumber suara begitupun aku yang ikut memandang sumber suara.
dan orang itu ternyata belian, dia tetangga ku yang suka bergosip dengan ibu-ibu dikomplek kami.
melihat dari tatapannya sudah pasti gadis ini akan menjadikan hal ini sebagai gosip nanti.
belian kembali mengeluarkan suara batuk yang dibuat-buat seperti tadi saat mengiterupsi aku dan murid baru.
setelah itu tanpa mengatakan apapun gadis itu masuk kedalam kelasnya.
matanya tetap saja mengarah kepadaku dari tatapan nya dapat diartikan dia akan menggangguku nanti untuk meminta penjelasan
"lo kenal dia?" pertanyaan dari murid baru di hadapanku membuatku mengalihkan perhatian ke arahnya.
"dia teman gw sekaligus tetangga, btw lo butuh sesuatu?" untuk menghidari suasana canggung yang mungkin akan terjadi lagi aku bertanya padanya.
"gw cuma mau tau nama lo aja." mendengar ucapanya aku baru sadar sedari tadi kami berkeliling tidak satupun yang menyebutkan nama baik aku maupun dia.
padahal nama penting untuk disebutkan saat bertemu orang baru tetapi aku malah melupakannya.
"panggil aja Mara."
"gw liam, lain kali gw boleh hubungin lo lagi?"
"boleh itu terserah lo, gw pergi dulu bentar lagi upacara."
aku bergegas mengambil topi dikelas.
setelah aku menemani liam melihat-lihat sekolah kami menjadi dekat. dia sering menghubungi entah tentang tugas maupun tentang ke sehariannya dikelas.
%%%
pagi ini aku berangkat sekolah lebih awal karena liam yang meminta untuk bertemu, katanya sih mau minta tolong.
sesampainya di sekolah aku langsung melihat liam yang sedang berdiri bersandar di gerbang sekolah. aku segera berpamitan pada ayah dan turun dari mobil lalu berjalan ke arahnya.
dia melambaikan tangan ke arahku saat menyadari kedatangan ku.
"kenapa ngajak ketemu sepagi ini?"
dia tersenyum sebelum menjawab, aku bisa melihat dengan jelas raut wajahnya yang tampak senang. membuatku bertanya dalam hati apa liam menjadi gila.
namun jawaban yang di untarkannya membuatku menghilangkan pemikiran konyol tentang liam yang kemungkinan gila sebaliknya aku tertegun dengan jawabannya.
"Mara gw lagi jatuh cinta sama zora anak ips 2." hatiku terasa mencelos saat itu juga.
dia terlihat sangat bahagia saat mengatakannya membuatku sakit mengetahui kebahagiaan itu karena orang lain.
seperti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga belum cukup fakta liam yang menyukai orang lain aku juga dihadapkan dengan permohonan nya yang ingin dibantu untuk menyatakan cinta.
"gw mau lo bantuin gw nembak dia nanti pas istirahat pertama."
hatiku sakit rasanya dunia begitu jahat. dia mempertemukan ku dengan seseorang dan membuatku jatuh cinta saat cinta itu hadir aku malah dipaksa melepaskan.
"tentu gw bakal bantuin lo, btw tugas gw apa?" kupaksakan untuk tersenyum kepadanya.
jika boleh jujur aku ingin menolak untuk membantu nya namun membuatnya sedih bukanlah hal yang ku inginkan.
"nanti gw kan bakal nembak dia, tugas pegang ni cincin kalo gw diterima nanti lo maju ngasih cincinnya." aku menatap cincin yang sebutkan terlihat biasa namun saat mataku menyelidik lebih terdapat ukiran mawar pada bagian dalam cincinya.
merasa iri pada zora yang akan menerima cincin tersebut.
tiba-tiba terlintas di pikiranku bagaimana jika gadis itu menolak?.
"kalo ditolak gimana?"
"ya lo gak perlu maju, pergi aja nanti." wajahnya yang tadi tersenyum berubah sendu menjawab dengan lirih.
aku benar-benar berharap zora tidak menerimanya karena aku masih belum bisa melepaskan liam.
aku berencana untuk menghibur liam jika saja gadis itu menolaknya mungkin dengan begitu liam akan membuka hati padaku.
aku tau tidak seharusnya memiliki pemikiran yang begini namun aku juga tidak mau membohongi hati yang menginginkannya.
%%%
seperti yang dijanjikan tadi pagi sekarang aku dan liam sedang berada di kantin sekolah.
liam berjalan mendekat kemeja yang ditempati zora dan teman-temannya. sesekali liam melihat ke belakang tempatku berdiri.
aku memberinya semangat melalui gestur tubuh. terlihat dia juga menggumamkan kata yang penyemangat. hal itu dapat kulihat dari gerakan bibirnya.
semakin dekat dia dengan zora semakin aku takut. jantung ku berdebar kencang perasaan sedih, takut dan cemas menjadi satu.
saat melihatnya berlutut dihadapan zora dengan gadis itu yang menatapnya dengan tatapan mendamba membuatku tersadar ini sudah berakhir. lupakan tentang menghibur liam karena yang butuh hiburan disini adalah aku.
zora menerima liam bodohnya aku yang berpikir gadis itu mungkin menolaknya melupakan tentang siapa liam.
pemuda tampan dengan prestasi ditambah dia juga kaya jadi siapa yang akan menolaknya. hanya orang bodoh yang akan menolak liam.
aku mendekat kearah mereka menyerahkan cincin yang sebelumnya dititipkan padaku.
tak lama cincin itu sudah melingkar indah di jari manis zora. senyum mereka di bibir zora dan liam peelukan yang seolah tidak akan pernah dilepaskan semakin menambah kesan romantis.
para siswa/i bersorak atas hubungan mereka berdua. liam bahkan mengatakan akan mentraktir semua orang karena dia terima oleh zora.
tidak tahan dengan semua kebahagiaan mereka aku memutuskan pergi secara diam-diam.
%%%
bel sekolah berbunyi tiga kali menandakan waktu belajar yang telah selesai.
semua siswa/i bersorak senang karena akan pulang.
biasanya liam akan menjemput ku di kelas mengajak ku untuk pulang bersama namun berbeda hari ini dia tidak akan menjemput ku melainkan zora.
saat melangkah keluar kelas aku mendapati liam dan zora mereka berjalan bergandengan ke arahku.
liam melambaikan tangan menyapaku dia menyampaikan bahwa mulai sekarang dia akan mengantar zora pulang setelahnya liam langsung pergi dengan zora yang masih dia gandeng.
meninggalkan aku yang memendam perasaan cinta sendirian.
tidak ingin berlama-lama di sekolah aku memutuskan untuk pulang.
meninggalkan sekolah yang menjadi tempat dimana aku bertemu cinta pertama ku walau hanya berakhir sebatas teman.
Memang sulit untuk melepaskannya namun setidaknya tidak akan lebih sakit daripada mencintai sendirian.