Hari ini sore pukul 05.35, aku masih menunggu antrian pemanggilan di ruang tunggu. Sembari melihat sekitar, suasana rumah sakit yang semakin sunyi. Keramaian sedikit berkurang dan hanya menyisakan kesunyian. Ya, aku duduk sendirian di ruang tunggu ini.
"Hah, aku mendapatkan antrian terakhir, sungguh sial," gumamku.
Di setiap jadwal kerjaku yang padat, memberiku waktu sore untuk pengambilan obat penenang. Sudah sewajarnya aku pulang tidak terlalu larut, kadang aku juga takut akan kegelapan di luar sana. Mereka memanggilku Ana, gadis berusia 19 tahun yang ditimpa sejarah kelam di masa lalu.
Itu terjadi di tidak lama saat aku masih duduk di bangku Sekolah menengah kejuruan.
Seorang pria dengan badan tinggi memaksa membuka kamarku yang hanya di ikat seutas tali untuk mengunci. Tak disangka setelah ku buka pintu, sudah tersiapkan sebilah pisau di tangan pria itu. Ia seakan siap membunuh, menunjam dan mungkin juga akan mengancam ku dengan berbagai kenyataan.
"Mundur!" perintahnya.
"Jika tidak menurut, aku akan membunuh ibumu, jika kamu teriak aku akan membunuhmu!" ancam pria yang kusebut ayah tiriku.
Pria yang selalu ku anggap ayah, meski aku tak dekat dengannya. Namun aku tak percaya hal itu terjadi. Aku mundur dan hanya diam sembari menanyakan pertanyaan kecil yang hingga sekarang masih berupa tanda tanya besar.
"Aku ada salah apa? Apa salahku?"
Kata-kata itu mengukir banyak tanda tanya besar, membuatku menangis dan ketakutan setiap malam hingga susah tidur. Salahkah jika aku melawan untuk kewarasan ku sebagai manusia? Saat itu aku merasa dunia tidak adil. Jika aku mati sebagai orang yang tak memiliki pasangan, apakah aku akan beruntung nanti saat di surga?
"Ana Fitriani" panggil seseorang di balik pintu ruangan yang tak jauh dari tempat dudukku.
Aku berdiri dengan pelan, memastikan pendengaram bahwa itu benar-benar diriku. Ingatan dan pendengaran ku yang semakin berkurang di usia muda membuatku merasa sudah lebih tua, aku adalah keras kepala.
"Iya kamu yang disana, silakan masuk!" perintah seorang dokter.
"Baik, terimakasih," ucapku menanggapi panggilan dan segera menuju depan ruangan.
Disana aku disapa oleh beberapa dokter dan psikolog. Mereka berharap bisa menyembuhkan keluhan yang terdapat pada wanita seperti ku.
"Apa keluhanmu?" tanyanya.
Ketika aku telah duduk dan di periksa. Aku menghela napas panjang. Ringan dan hampa itulah yang kurasakan diruangan berchat putih dan dikelilingi oleh tirai hijau.
"Aku jarang makan,"ucapku datar.
Mereka hanya mengangguk. Trauma ini bukan salah ayah tiriku jikapun ia telah sadar atau meminta maaf. Hanya saja rasa percayaku pada orang sekitar semakin kecil bentuknya. Semakin sulit untuk berkata bahwa ini tidak mengangguku beraktivitas.
Kesulitan konsentrasi,terasa hampa, lupa dengan banyak hal, banyak yang menimpa di usiaku ini. Tidak heran, aku sedikit syok dengan kenyataan. Hal yang paling menganggu adalah pikiranku yang tidak berhenti berbicara dan berpikir, ia seakan menghantuiku, juga memaksaku. Aku mulai tidak sadar melakukan suatu hal dan sering berbohong tanpa kusadari bahwa orang akan marah dengan perlakuan ku. Aku membenci cinta karena ku pikir akulah yang tidak merasakannya.
Setelah menjalani perbincangan singkat dengan dokter jiwa aku keluar dari ruangan dengan nomor antrian lagi. Kali ini untuk mengambil obat di ruangan farmasi. Obat khusus yang diracik untuk kami orang-orang yang sakit. Aku ingin sembuh tapi beberapa orang hanya mengatakan, ",itu adalah hal biasa, seharusnya kau lebih kuat." Itulah yang tidak bisa ku lakukan.
Setelah kakak dan ayahku meninggal hanya diam dan memendam kesedihan itulah yang membuatku menjadi orang lain. Kuat atau tidak aku tak akan periksa jika ini tidak semakin parah dan mengganggu. Aku pikir aku akan kuat mengatasinya sendiri.
Setiap langkah di lantai putih, seperti kisah pilu ku selama ini. Namun aku mendapati keanehan yang nyata saat aku melihat sosok itu, dia adalah Naro.
"Sudahlah jangan sedih kamu akan baik-baik saja, percayalah padaku Ana." Dia tersenyum.
"Terimakasih Naro."
Dia menatapku dengan dekat, "Saatnya mengambil obat ya? Cepat sembuh ya!"
Aku terdiam melihatnya melangkah pelan menggiringku ke ruang farmasi. Sekilas takut menimpaku, aku kembali menatap Naro yang membuatku berhenti melanjutkan langkahku.
"Ada apa?" tanyanya.
Aku menunduk sedih dan bertanya, "Bagaimana jika nanti aku akan kehilanganmu? Bagaimana nanti jika kita tidak akan bertemu lagi?"
"Aku akan selalu bersamamu." Naro tersenyum sekali lagi dan menarikku kedalam pelukannya yang hangat. Dia adalah orang yang paling aku butuhkan dan yang paling mengerti tentang diriku.
Ruang Jiwa yang kutinggalkan, menyisakan kesunyian yang entah apa namanya. Begitu dingin seakan membuatku terlelap.
Obat dan obat, seperti harapan untuk menyembuhkan rasa takut dan khawatir. Aku tidak gila, begitulah yang ku pikirkan. Namun orang mengira aku menjalani kegilaan ini dengan mental yang lemah.
Padahal....
Di sana Naro masih menungguku. Menunggu orang-orang yang membutuhkannya. Sekalipun ia sebenarnya telah tiada.