Namaku Jun, aku adalah seorang remaja lelaki yang menjadi idola bagi teman sebayaku di bangku SMA. Mengapa tidak, aku memiliki kepribadian ceria, menyenangkan dan ramah kepada siapa saja. Tidak hanya itu, aku juga merupakan siswa yang berprestasi. Namun, tidak ada yang mengira bahwa kehidupan sekolahku berbanding terbalik dengan kehidupan pribadiku.
Kedua orang tuaku bercerai saat aku masih berumur 9 tahun, sejak saat itu aku hidup bersama ayahku yang kasar, tegas dan berambisi kuat untuk menjadikanku anak yang pintar seperti dirinya. Alasan mereka berpisah adalah karena ibuku menyukai seni, menurut ayah, bakat ibu sangat tidak berguna dan tidak memiliki masa depan, sementara ayahku adalah seorang dokter ternama di kota tempat kami tinggal. Itu juga merupakan alasan mengapa ayah menuntutku untuk tidak menjadi seperti ibu. Ia menuntutku menjadi anak yang serba bisa dan harus meraih peringkat 1 di sekolahku. Sejak kecil makanan sehari hari ku adalah buku pelajaran, saat aku ketahuan menggambar dan bermain musik ayahku tidak segan memukuli ku dan berkata bahwa aku akan merusak hidupnya jika tidak belajar.
Hari demi hari, aku semakin tertekan dengan tuntutan belajar yang ayah berikan. Rasanya seperti tidak ada sedetikpun aku bernafas dan beristirahat. Setiap hari ayah menyita waktu istirahatku untuk terus menerus belajar. Bahkan aku tidak dapat mengunjungi ibuku yang tinggal terpisah denganku. Aku tidak bisa, aku lelah, aku sudah muak. Entah apa yang salah dengan ini semua. Hanya saja aku merasa muak, menjalani hari demi hari adalah pekerjaan berat.
Aku tidak ingin tumbuh begitu cepat, itu membuatku terlalu kesepian. Semua orang bertanya padaku apakah aku baik baik saja, kebohongan yang paling sering kukatakan adalah "Aku baik baik saja..". Hatiku tidak pernah sekalipun merasa tenang. Aku selalu merasa gelisah di tempat sepi maupun ramai. Kenapa aku tidak bisa tersenyum tulus seperti orang lain? Kenapa aku selalu merasa sedih? Kenapa semuanya membosankan?
Semakin hari aku semakin merasa lelah dengan semua ini. Puncaknya adalah saat ayah memukuliku karena aku tidak belajar tetapi malah tertidur di atas meja sembari cucuran darah keluar dari hidungku karena kelelahan. Hariku saat itu sudah sangat melelahkan, ditambah dengan perkataan ayah yang mengutukku karena dianggap sebagai perusak kehidupannya yang terlihat sempurna. Ya.. saat itu juga aku memutuskan untuk pergi ke tepi jembatan sungai han. Aku merasa tidak bisa menahan segalanya lagi, aku tidak ingin melakukan apapun. Aku hanya ingin menghilang, seolah olah aku tidak pernah ada. Hidupku sangat sengsara dan tidak bahagia, dunia berakhir beginipun tidak apa apa..
Saat itu aku mengingat perkataan ibuku saat aku menginjak usia 14 tahun. Ia berkata "Yang tahu seberapa menderitanya kita hanyalah diri kita sendiri. Setiap kau lelah, ingatlah betapa sulit kau memulainya." aku mengurungkan niatku untuk bunuh diri.
Jika terlalu sulit, pikirkan saja kebahagiaanmu. Aku hanya akan berusaha demi diriku, karena hanya aku yang tahu usahaku. Hidup yang sesuai belum tentu hidup yang berhasil, sebelum membuat orang sekitar bahagia, carilah dahulu kebahagiaanmu sendiri. Menjadi egois tak selalu buruk. Jika terlalu sulit, pikrikan saja kebahagiaanmu. Impianku saat ini adalah melakukan apa yang ku mau.
Sejak saat itu aku memutuskan keluar dari rumah ayah dan hidup bersama ibu. Tentu saja ayah marah besar atas keputusanku, namun kehidupanku adalah milikku, bukan milik ayah.