Aku kira kembali ke masa lalu hanya lah fantasi belakang, ternyata itu bukan hanya fantasi saja, awalnya aku tidak percaya aku kembali ke masa SMA dimana semuanya itu belum terjadi
Aku menangis di depan makam anakku dengan derasnya hujan ketika itu hari di mana aku harus kehilangan calon anak yang aku kandung, aku tak menyangka ternyata dia yang meracuni ku dan membuat anak ku mati, betapa hancur nya hati ku saat mengetahuinya
Kenapa dia begitu tega membunuh darah daging nya sendiri, anak yang tidak bersalah apalagi dia belum lahir ke dunia.
" Maaf"
" Maaf kan mamah sayang, hik.. hik.."
" Ini semua salah mamah"
" Andai saja mamah tidak meminum nya"aku menangis dan terus saja meminta maaf di depan Nissan anaku.
aku sangat menyesalinya, kenapa aku begitu bodoh mencintai nya, andai saja aku tidak melakukan hal bodoh itu dan aku memohon kepada Tuhan untuk aku bisa kembali ke masa lalu agar aku bisa memperbaiki ini semua
Hujan terus turun mulai membasahi tubuh ku bersamaan dengan suara isak tangis ku
Aku tau kesalahanku karena aku
menjebak dia untuk bisa tidur dengan ku seorang laki laki yang aku cintai dan obsesi ku kepadanya, karena aku yakin dia pasti akan bertanggung jawab dan juga akan mulai mencintai ku
dia memang menikahi ku dan sekarang 2 tahun pernikahan kami dan selama 2 tahun pernikahan, aku pun mengandung tentu saja aku bahagia dengan kabar ini tapi tidak dengan Aksa, dia tetap saja mengacuhkan ku dan juga bersikap dingin kepada ku, kini usia kandungan ku sudah 7 bulan aku sangat tidak sabar menunggu dia terlahir kedunia tapi semua itu hanya lah hayalan ku saja kini anak ku sudah tidak ada.
"Hik..hik.. maaf"
" Maaf.."
"Nona"
"Bangun nona"
Aku terbangun dari pingsan ku
" Hah..hah.... Hah ...." Aku atur nafas ku
"Nona anda tidak apa apakan?"
Ketika aku sedang mengatur nafasku, aku terkejut melihat pembantu ku yang berada di samping ku dia melihat ku dengan khawatir aku bertanya tanya kenapa bi dela ada di sini setau ku dia berhenti dari pekerjaannya setelah aku sudah
menikah dengan Aksa karena kondisi bi dela yang sudah berumur anak anaknya yang menjemput bi dela tapi kenapa dia ada di sini dan bi dela terlihat sehat
" Bi de..l.a" ucap ku kaget
" Iya nona, apa nona mimpi buruk?"
" Kenapa nona tadi menangis?" dia terus menanyakan ke adaan ku sedangkan aku hanya diam, aku tidak menjawabnya sama sekali aku hanya pokus dengan kejadian yang tidak masuk akal ini
dan kulihat sekeliling ku aku terpaku ketika melihat kamar yang persis seperti kama ku dulu
*apa aku kembali ke masa lalu* batin ku
* Apakah tuhan mengabul kan doa ku!*
*Atau ini hanya mimpi ku saja*
* Kalo ini mimpi suguh aku tidak ingin bangun* aku terus berperang dengan pikiran ku,
"Nona apa anda baik baik saja?" aku tersadar dari lamunan ku ketika bi dela mengusap rambut ku dan menanyakan keadaan ku, ku alih kan pandangan ku, dan aku lihat wajahnya yang mengawatirkan ku
Aku pun tiba tiba menangis dan memeluknya aku merasakan bi dela yang tegang karena ku peluk dia tiba tiba tapi kemudian dia pun memeluk ku balik dan mengusap ku aku pun menangis dalam pelukan bi dela
" Hik.. hik... bi.bi. Hik.." ucap ku bergetar aku sangat merindukan bi dela, dia sangat baik dan tulus menyangiku
" Nona kenaapa, cerita sama bibi" ucap nya sambil mengelus rambut ku
" Enggk aku tadi hanya mimpi buruk bi" Ucup ku sambil tersenyum
" Owaalah bibi kira kenapa, non ini bikin bibi khawatir tau enggak"
"Maaf bi"
"Bi mau nanya dong sekarang tahun berapa bi?"
" Sekarang tahun 2010 non kenapa emang?"
" Enggk bi cuman nanya doang"
" Yaudah bibi mau ke bawah dulu ya non"
"Oke bi"
Kemudian bi dela keluar dari kamar ku
Ini sungguh aneh bukankah aku sedang menangis di kuburan anakku tapi kenapa aku bisa kembali ke masa lalu
"Apakah ini sungguh, aku kembali" ucap ku menangis kembali
aku berjanji aku tidak akan lagi melakukan hal bodoh seperti kehidupan pertama ku
" Hik .. hik. Terima kasih Tuhan, aku janji tidak akan mengulangi kembali kesalahan ku"ucap ku sambil menangis
" Dan untuk kamu Aksa, sungguh aku sangat membencinya, tapi itu juga ke salahan ku karena obsesiku" ucap ku
sendu ku sambil ku usap perut rata ku
"Maaf " hanya itu yang bisa ku ucap kan
" Dan aku tidak menyangka aska kamu tega membunuh anak mu sendiri
Dan semua itu kecerobohan ku dan juga andai saja aku tidak meminum itu mungkin anak ku baik baik saja
Flashback
" Sehat sehat ya anak mamah" ucap ku dan aku elus perut yang sudah besar ini aku yang sedang mengelus dan tiba tiba pelayan menghampiri ku
"Nyonya ini susu yang harus anda minum"
" Susu dari siapa?" Ucap ku bingung
" Tuan menyuruh saya agar anda meminum nya nyonya" ucap
Aku sangat senang ternyata Aksa perhatian sekali aku pun tak pikir panjang langsung meminum tanpa ada curiga sedikitpun
Tiba tiba perut ku terasa sakit dan perlahan mata ku pun mulai terpejam
Aku terbangun dari pingsan ku, ternyata aku ada di rumah sakit, Kuraba perut ku
"Hah kenapa perut ku kempes, dokter" aku trus histeris dan berteriak
" Nyonya tenang nyonya"
" Dokter dimana anak ku, kenapa perut ku kempes dok" aku terus bertanya sungguh aku takut
"Maaf nyonya kami terpaksa melakukan operasi karena anda terkena racun jadi kami tidak ada jalan selain melakukan sesar dalam usia janin anda 7 bulan dan kamu juga harus mengangkat rahim anda "
aku sungguh terkejut dokter mengatakan aku terkena racun dan rahim ku di angkat tapi aku tidak peduli karena yang aku khawatirkan yaitu anak yang aku kandungan
"trus di mana anak saya dokter"
"Dan saya juga minta maaf anak anda tidak bisa terselamatkan"
Deg
"Anda bohong kan"
" Maaf kan saya nyonya, anda harus mengiklasakan nya"
"Enggak, enggak... Ini bohong kan"
" Hik.. hik.. hik.. anak ku "
.....
Aku menghela nafas ketika mengingat aku harus ke hilangan permata ku dan semangat ku terutama rahim ku yang harus di angkat sungguh saat itu aku sangat sedihh
Perlahan aku turun dari tempat tidurku dan melangkah kedepan cermin ku lihat wajah ku seperti waktu SMA kulit yang halus tidak ada sedikit pun jerawat sangat cantik
Aku langkah kan kaki keluar dari kamar dan ku lihat bi dela yang sedang memasak
" Bi"
" Eh non kenapa, non Celsi menginginkan sesuatu"
"Enggak cuman aneh aja rumah Ko sepi sih bi? Mama papa ke mana"
" Ouh itu nyonya Rara sama tuan bara lagi ke acara kantor paling bentar lagi juga pulang"
"Tumben non nanyain nyonya sama tuan"
"Kangen" gumam ku
Bi dela melihat ku dan mengusap ku sambil tersenyum ku
"Kami pulang"
"Jangan teriak mah"
"Apan sih pa mama gk teriak ko"
Ku dengar suara mama dari ruang tengah kaki ku melangkah meninggal kan bi dela di dapur
Setalah sampai aku lihat mamah dan papa tidak terasa air mata ku keluar jujur aku sangat merindukan kedua orang tua ku
Karena ke egoisan ku aku harus kehilangan mereka berdua di saat aku sudah menikah dengan Aksa
" Iya papa yang salah"
"Loh Celsi sayang kenapa kamu ko berdiri di situ" ucap papa
Aku pun menghampiri mereka dan memeluk papa dan mama aku menangis dan terisak di pelukan mama dan papa
" Sayang kamu kenapa ko nangis, hmm" ucap papa
" Iya kenapa anak mama ini nangis"
Aku tidak menjawab aku terus menangis meluapkan kesedihanku dan rindu
" Kenapa anak papa nangis hmm" papa mengusap ku
" Maaf" hanya kata itu yang bisa aku ucapkan Aku terus mengucpa kan kata maaf
" Iya sayang papa maaf kan walaupun kamu itu gak buat salah" ucap papa
Aku pun melepas kan pelukan ku papa bertanya kepada ku kenapa aku menangisa dan meminta maaf tapi hanya memberikan senyuman ku saja aku tidak bisa
mengeluarkan suara ku rasanya kalo aku mengatakan satu kata pasti aku akan menangisa kembali
Aku pun mulai pamit untuk ke kamar mungkin papa dan mama merasakan ke anehan di diriku ini tapi aku tidak peduli aku akan memperbaiki segala ke salahan ku
Aku rebah kan tubuhku di atas ranjang ku lihat Langit malam aku masih tidak percaya aku kembali ke masa ini sungguh aku rasa nya takut untuk memejam kan mata ku
Aku terus berperang dengan pikiran ku dan tak ku sadari aku mulai memejam kan mata ku dan mulai tertidur aku berharap ini bukan mimpi
"Non Celsi bangun non"
Mata ku perlahan terbuka dan melihat BI dela yang membangunkan ku dan mengguncang tubuh ku
" Iya bi aku ini bangun" setelah itu BI dela keluar dari kamarku
" Ah.. ternyata ini bukan mimpi " ucap ku tersenyum aku pun mulai bangun dari tempat tidurku dan melangkah menuju kamar mandi
Kini aku melihat diri ku di depan cermin dengan balutan seragam setelah selesai aKu langkah kan kaki ku keluar kamar dan ku lihat kedua orang tua ku yang sudah ada di meja makan menggun ku
"Pagi ma pa"
"Pagi"
"Aku berangkat "
" Hati hati di jalan"
.....
Sekolahan
Aku menghela nafas panjang sungguh aku kembali menjadi anak remaja
Kaki ku melangkah menuju kelas, ku lihat rombongan anak laki laki melihat ku
Aku tau itu adalah teman teman Aksa tapi aku tidak memperdulikan itu semua tujuan ku di sini aku ingin memperbaiki ke salahan ku dan juga aku akan pokus dengan masa depan ku
Ku langkahkan kaki ku dan ku lewati mereka semua tanpa aku menoleh sedikitpun ku lihat keterkejutan dari muka mereka yang melihatku hanya melewati mereka dan tidak menoleh sedikitpun
"Wihh itu serius si Celsi ko beda sih"
" Iya bener, as lu gak di lirik dong"
" Apa jangan jangan dia marah lagi sama elu"
Aska nya diam dia juga merasa aneh kenapa Celsi tidak meliriknya apalagi menyapanya
"Cabut"
Aku melangkah masuk ke kelas kemudian ku langkahkan kembali kaki ku ke tempat duduk dan ku lepaskan tas ku kini aku sudah duduk di tempat ku
Kring kring kring bel masuk pun berbunyi
Skip
" Gininih kalo gak punya temen" aku menghela nafas ku rasanya aku sangat menyesal karena tidak memiliki teman
Karena bosan aku pun pergi dari kelas ku langkahkan kaki ku menuju perpustakaan karena aku malas haru bertemu dengan Aksa
"Sunyi"gumam ku, aku melangkah masuk menuju buku buku di sana
Ku lihat buku itu aku merasa tertarik dengan sampul nya aku berniat mengambil nya tapi itu terlalu tinggi
Ketika aku berusaha mengambilnya tiba tiba ada seseorang yang membantu ku mengambilkannya aku pun berbalik dan ingin mencupa kan terimakasih
Degh
*Aksa* ku kepalkan tangan ku sungguh aku tidak ingin melihat nya ingatan ingatan kehidupan pertama ku terus melintas di kepalaku
Aku membencinya tapi aku tidak ingin dia curiga atau merasakan ke anehan dari diriku
Ku ambil buku di tangan nya dan aku ucap kan terimakasih sambil tersenyum paksa
Aku tau dia menyadari senyuman terpaksa ku itu tapi aku tidak peduli setelah itu aku pun melangkah meninggal kan dia
Aksa tau senyuman yang di tampilkan perempuan yang selalu mengejar nya itu palsu dan dia juga lihat perempuan itu mengepalkan tangannya dan menatap dirinya dengan tatapan benci walaupun hanya beberapa detik tapi dia sadar atas perubahan dari perempuan 1 Minggu lebih yang lalu selalu mengejarnya mencari perhatiannya tapi 2 hari perempuan itu tidak sekolah dan hari ini masuk dia merasa ada ke anehan dari gadis itu
Kini sudah satu Minggu aku terus menghindar dari nya tapi kenapa semua berbeda dengan kehidupan ku yang dulu kenapa dia malah mendekati ku dan bersikap menjadi orang yang berbeda
Rasa cinta ini memang masih ada tapi rasa sakit dan juga benci ku lebih melekat dari pada rasa cinta itu
" Sepertinya aku harus pindah" gumamku aku beranjak dari kamar dan melangkah ke luar
Ku hampiri mama dan papa
" Mama papa"
" Iya kenapa syang"
" Celsi pengen pindah sekolah"
"Lah kenapa mau pindah kan sayang kamu udah kelas 11"
"Mah pah plis Celsi pokonya pengen pindah, dan haru secepatnya"
" Iya iya papa usahakan hari Senin kamu mulai ke sekolah baru mu"
"Sayang papa"
"Iya sayang "
"Tapi Celsi pengen Sekolah di luar negeri"
"Kamu mau ninggalin papa sama mama"
"Ih mama mah bukan, tapi Celsi pengen mandiri "
"Boleh kan"
"Iya boleh dong sayang asal kamu jaga diri ya di sana "
"Ah makasih papa" awal nya mama Rara ingin protes tapi melihat anaknya yang bahagia iya pun mengurung kan niat nya
" Tapi kamu harus jaga diri ya"
" Iya mama sayang"
Ke esokan paginya
" Hik .. kamu gak mau gitu berubah pikiran sayang"
" Jangan nangis ma Celsi gak suka, Celsi jaji nanti setiap hari Celsi kabarin oke" ku peluk mama dan papa rasanya berat tapi ini sudah jadi keputusan ku Untuk memulai hidup baru
"Bay mah pah" aku melambaikan tanganku
Aku tidak akan menyesal dengan keputusan ku dan aku tidak akan mengecawkan mama dan papa akan Kan ku wujud kan semua impian ku selama ini
-----
Aku memang membencinya tapi aku tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan balas dendam karena itu pun berawal dari diriku yang terlalu terobsesi dan memaksanya untuk bersama ku .....