Bau lembab dari daun ivy serta bau bekas air hujan yang menempel di setiap jendela kamar rumah susun, suara keras radio tetangga rumah, bayi yang menangis, serta desis dari api kompor gas rumahnya.
Semua seakan terasa dekat dengan telinganya, bau-bauan juga sangat menyengat hidungnya, hal yang wajar bagi tunanetra seperti Fitri. Gadis tunanetra dengan mata biru dan rambut panjang sebahu.
"Fit, jangan lupa kunci pintu kalau kamu mau keluar, jangan lupakan juga kartu pengenal difabel mu," suara tua terdengar sangat hangat membuat Fitri enggan menoleh dari jendela.
"Fit," panggilnya lagi, memastikan Fitri mendengar semua pesannya.
"Ya, Nek," jawabnya sembari menyungging senyum .
"Baiklah, Nenek, berangkat kerja."
"Em, hati-hati, Nek."
Suara langkah kaki Nenek menuju pintu di lanjutkan dengan derit pintu tertutup. Fitri melangkah pelan menuju kamarnya, ia harus keluar untuk bertemu teman tunanetranya yang mengajar musik untuk sesama tunanetra di sebuah sanggar.
Meski sebelumnya Fitri adalah guru tari di sanggar itu, kini ia hanya mencoba untuk beradaptasi dengan musik, untuk menari ia akan pikirkan setelahnya.
"Setelahnya? Kapan?" keluhnya. Ia meraba tembok lalu handle pintu, "ah, Nenek, kenapa tidak membawa kuncinya?" gumamnya begitu merasakan kunci rumahnya tergantung, ia menarik dan memasukannyan kedalam totebag.
Begitu pintu terbuka, angin dingin sehabis hujan dan bau lembab jalanan menyeruak. Ia menghentikan langkah, begitu mendengar seseorang berjalan di depannya.
"Bau anyir, juga wangi bunga yang bercampur," batinya sembari menutup pintu dan meraba nomer pintu rumahnya.
"370," suara ramah memberi tahunya.
"Oh, terimakasih. Aku hanya memastikan ingatan ku. Karena aku."
"Ya."
Blam. Suara pintu di tutup tepat di samping pintu rumahnya.
Fitri meraba pintu lift dengan tongkatnya, lalu kembali meraba tombol lift menuju lantai lobi. Butuh satu tahun ia beradaptasi dengan kondisinya terlebih Nenek memintanya untuk mandiri.
Pada awalnya, Fitri sangat kesal dengan Nenek saat memintanya untuk melakukan hal apapun sendiri, mulai makan, mencari pakaian, membedakan uang kertas juga harus sensitif terhadap bau dan indra lainnya. Menurutnya, itu tidak adil sebab, setelah kecelakannya saat menari hingga mengakibatkan buta, kenapa ia juga harus mengurus dirinya sendiri dengan indra yang paling penting tidak lagi berfungsi.
Tetapi, sekarang ia beruntung Nenek tidak memanjakannya, Fitri mulai terbiasa dengan rumah susun ini dan jalan-jalan menuju perpustakaan, toko roti, cafe kopi. Ya, dia bisa membedakan semua toko dengan indra penciumannya.
"Ya, dunia hitam putih ku tidak terlalu buruk," pikirnya.
"Kak, Fitri!"
Teriak seseorang dari arah kanannya, sontak ia memutar seluruh badan dan berdiri menunggu orang tersebut menghampirinya. Begitu, orang itu di depannya Fitri tersenyum sumringah, "Sita?"
"Loh, kakak tahu ini aku?" tanyanya dengan terbelalak takjub.
Fitri mengangguk.
"Dari apa?"
Fitri meraba pundak Sita dan sedikit membungkuk, "ra-ha-si-a," bisiknya.
"Ish," bibir Sita mengerucut kesal.
Fitri kembali melanjutkan jalannya.
"Kakak, mau kemana?" tanyanya sembari mengekor di belakang Fitri.
"Mau ke cafebay, cuma ketemu teman juga minum kopi."
"Teman? Yang guru musik itu?"
Fitri mengangguk.
"Dia tampan," gumam Sita yang melihat laki-laki yang di maksud guru musik itu berdiri di depan sebuah cafebay.
"Setahu ku dia tidak terlalu tampan, itu dua tahun lalu."
"Tapi, sekarang dia sangat maskulin."
"Sita, siapa yang kamu bicarakan?" tanyanya bingung.
Namun, Sita memilih meninggalkan Fitri begitu guru musik berjalan kearah Fitri.
"Sita," panggilnya sembari meraba sekitar yang kosong.
"Jadi, bocah itu."
"Chandra, kok kamu gak nunggu di cafe?"
"Sengaja kok. Ayo, ku bantu," Chandra melipat tongkat milik Fitri dan menggandeng tangannya, ia memperlambat langkah agar Fitri dapat mengimbanginya.
"Seharusnya, kamu menunggu di dalam cafe," kata fitri begitu Chandra membukakan pintu cafe.
"Apa kamu tidak suka aku memperhatikan mu?"
Fitri menepuk pundak Chandra, "bukan begitu."
Chandra hanya tersenyum gemas melihat tingkah serba salah dari Fitri, "kau mau kopi?"
"Bisakah pesankan aku latte?"
"Tidak susu coklat?"
Fitri tersenyum.
Chandra meremat jemarinya, gemas. Haruskah aku mengusak rambut halusnya.
Fitri memainkan tissue diatas meja dengan bergumam menyanyikan satu melodi yang ia dengar dari Chandra sebelumnya, ia menutup mulut dan hidung dengan tiba-tiba.
Chandra yang melihat raut gelisah dari Fitri segera menghampirinya dengan timer pesananya, "apa kau mual?"
"Bukan, bukan apa-apa," jawab Fitri sembari membetulkan duduknya.
"Oke."
Fitri meraih tongkat white cane-nya setelah mendepatkan beberapa materi dari Chandra yang memutuskan untuk mengakhiri pelajaran hari ini.
"Fit, ku antar?"
"Berapa aku harus membayar mu?"
Chandra berdecih.
"Terimakasih telah memberi ku pelajaran musik dengan gratis, tapi tidak untuk mengantar ku pulang, kamu juga harus mengajar di sanggar kan?"
"Ya," Chandra memasukan kedua tangannya kedalam saku jeansnya, "hati-hati, kalau begitu."
"Tenang, aku sudah terbiasa dengan jalan ini," Fitri membalikan badan berjalan perlahan mengarahkan tongkatnya kedepan.
Chandra masih berdiri di depan cafe memerhatikan Fitri yang berjalan hingga hilang dari pandangannya, Fitri-pun tahu kalau Chandra melakukan itu, wangi parfumnya tercium meski ia membelakanginya.
Ia menghentikan langkahnya, lagi-lagi bau anyir dan bunga bercampur tepat di belakangnya. Tetapi, ia sama sekali tidak mendengar suara langkah atau suara sepatu di aspal.
"Apakah kau tetangga ku, 371?" Fitri berusaha meyakinkan penciumannya.
Tidak ada jawaban.
Fitri kembali melanjutkan perjalannya. Di dalam lift ia memegang erat tongkat di tangan, batinnya begitu gelisah hingga wajahnya berkeringat, bau anyir serta wangi bunga masih tercium tetapi pendengaranya hanya sebatas suara napasnya sendiri.
Begitu pintu lift terbuka, ia segera berjalan keluar lift dengan tergesa kakinya hampir tersandung, ia menarik napas panjang berusaha tenang.
"Tenang, Fit," ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Ia meraba setiap bawah pintu rumah susun dengan tongkatnya, begitu sampai pada pintu dengan hiasan lonceng pada handlenya, ia meraba cepat nomer yang tertera di pintu dan membukanya.
Ia masuk, cepat-cepat menuju dapur, tangannya meraba meja mencari botol air dan meja. Tidak ada, meja makannya juga tanpa taplak. Ini rumahku, apa aku salah masuk?.
Sekali lagi Fitri meraba meja secara keseluruhan, lalu mencari kulkas yang tidak jauh dari meja, serta meraba kitchen set di dinding, napas yang tidak beraturan dan panik membuat tangannya menyenggol gelas-gelas di almari dan menjatuhkan sendok-sendok logam.
"Tidak, rumahku tidak seperti ini, semua dari plastik dan tidak ada gelas di lemari atas, Nenek yang mengaturnya," batinnya.
Fitri kembali meraba wastafel mencari mangkuk nasi yang belum di cucinya pagi tadi, tangannya hanya menemukan dingin stenlis westafel kering, aroma mawar dari sabun cuci piring dan mint dari sabun cuci tangan atau sebaliknya semakin membuatnya panik dan bergegas menuju pintu depan.
Namun, langkahnya berhenti begitu hidung bangirnya mencium bau yang tidak asing, juga bercampur aroma bunga.
"Chandra," panggilnya lirih dan gemetar.
Hanya terdengar tawa kecil seperti intonasi kesal, ia meraba orang di depannya tetapi di tepis keras. Fitri hampir terhuyung, dengan kaki gemetar ia berusaha keluar dari rumah itu, tapi jarum yang di suntikan pada tengkuknya, sukses membuatnya lunglai seketika di lantai.
"Hah, Maaf," ucap orang tadi sembari membuka kupluk dan maskernya.
Rambut coklat sebahu tergerai membuatnya mengikat ke belakang, lalu membawa tubuh lemas Fitri ke kamar.
*______________________________________________*
Nenek menangis meraung sejadi-jadinya di hadapan seorang detektif dan petugas polisi patroli, suara sirene memenuhi lapangan rumah susun tersebut.
"Nek, tenang dulu," ucap polisi patroli sembari memegang tangannya.
"Gimana, Nton, Fitri pasti kebingungan," Nenek masih menangis.
"Anton, kamu kenal Nenek dan Fitri?" tanya detektif tersebut.
Anton mengangguk, "saya juga selalu mengantar Fitri pulang kalau bertemu di jalan saat saya patroli."
"Hari ini?"
"Ya, pak. Saya bertemu di luar gerbang rumah susun, saat saya menyapanya dia bilang mau ke cafebay di luar gang," jelas Anton kepada kapten detektif kriminal Jayadi.
"Apa kamu lihat ada orang yang mencurigakan di sekitarnya?"
"Tidak, Pak."
Kapten Jayadi berpikir keras, lalu meminta rekannya untuk mengecek cctv sekitar cafebay, gang serta cctv rumah susun.
"Nek, tunggulah di dalam. Anginya dingin sekiranya ada kabar dari kepolisian saya akan menelpon, Nenek."
"Anton, Pak, Fitri ... Fitri, punya ponsel model lama di tasnya," Nenek tiba-tiba teringat dan meminta Detektif memeriksa nomer lama Fitri.
"Apa, Nenek, punya nomernya?"
"Ya, ini," Nenek menyerahkan ponsel pintarnya, di layar tertera nama Fitri.
Anton mencoba menelpon dengan ponselnya, tetapi sia-sia nomer itu tidak aktif.
Nenek yang membaca raut wajah Anton kembali menangis.
"Pak, kami menemukan beberapa orang yang bertemu dengan, Fitri, dari rekaman CCTV," jelas seorang anggota polisi kriminal sembari menyerahkan disk lepas berisi video tersebut, "Chandra, guru musik di sanggar tempat Fitri mengajar menari, lalu tetangganya," ia menunjuk CCTV di ujung lorong rumah susun.
"Cek rumah 371," perintah kapten Jayadi tersebut.
"Ada apa?"
Semuanya menoleh ke asal suara, laki-laki berkaca mata menenteng tas hitam serta kantong kresek berwarna hitam melihat Nenek dan para polisi dengan heran.
"Kau pemilik rumah 371?"
"Ya, ada apa?"
"Kita harus bicara."
Anton menggenggam tangan Nenek dengan erat.
Hari kedua.
Suara klontang dari arah depannya membuat Fitri berdiri dari tempat tidur, ia meraba tembok halus tanpa debu dan mencium bunga crysantium red tepat di depanya ada meja dan sepot bunga crysantium red, ia merasa tidak asing dengan wangi parfum yang di ciumnya, maskulin tetapi lembut.
Suara derit pintu mengagetkan Fitri hingga ia menempel di dinding, tidak ada suara apapun hanya sayup dan kembali terdengar pintu tertutup.
Ia menghela napas panjang, lega. Tidak, ia bahkan tidak tahu di mana dan dengan siapa? Apa ini penculikan, kenapa, bukankah ini gedung rumah susunnya.
Dari balik pintu ia hanya mendengar suara dua orang yang berdebat serius.
"Bagaimana mungkin kau ...."
"Tidak salah, aku menginginkannya."
"Nik, kau."
"Aku gila."
Suara yang terdengar putus asa di telinga Fitri, ia bersandar pada tembok, berpikir siapa dua orang tersebut. Nik, apa itu nama salah satu darinya?.
*______________________________________________*
Hari ke-3
Fitri duduk di pinggir ranjang, ia mulai terbiasa dengan tata letak kamar tersebut, walau tidak sepenuhnya ia tahu ruangan rumah sebab seharian penuh ia berada di dalam kamar, ada kamar mandi lima langkah di depan serta tujuh langkah ke kiri adalah meja dengan sepot bunga krisan merah ada penyemprot di samping kanannya, biasanya meja itu akan di penuhi makanan saat jam makan, semua alat makan terbuat dari almunium dan plastik.
Dua langkah kedepan adalah pintu yang selalu terkunci, hanya sesekali terbuka saat mengantar makanan itupun si pengantar tidak bersuara sama sekali hanya terdengar derit pintu terbuka, nampan yang di letakan di meja. Sedikit bergeser ada rak buku dengan Huruf Braille semua berisi cerita bergambar dan dongeng.
Semua tertata seperti di siapkan untuk Fitri, tapi tidak, ia tidak menikmatinya sama sekali. Setiap kali pintu berderit, ia berteriak ingin kembali ke rumah, bertanya kenapa menculiknya, siapa dia dan membuatnya frustasi tidak dapat mengenali orang di hadapannya.
Siang ini, ia sengaja menunggu tepat di sisi kanan pintu agar tahu siapa orang tersebut, begitu pintu berderit ia menubruknya tetapi tangan kekar tersebut menangkapnya.
"Kau bisa terkena sup panas, lain kali hati-hati."
Suara berat, ia belum pernah mendengarnya tentu membuatnya terpaku. Siapa dia?.
*______________________________________*
Hari ke-4
Kapten Jayadi mengusak rambut lepeknya, lebih dari 24 jam kasus hilangnya Fitri dari Neneknya melaporkan ke kantor polisi setempat. Kini, kasus tersebut berubah dari kasus orang hilang, penculikan kemungkinan akan menjadi kasus pembunuhan.
Semua saksi serta titik CCTV yang di lewati Fitri hari itu tidak memberi bukti kuat kalau orang-orang tersebut adalah penculik Fitri. Ia mencurigai Chandra teman serta guru musik di sanggar tempat Fitri dahulu mengajar menari, tetapi alibinya kuat, setelah bertemu dengan Fitri di cafebay ia segera ke sanggar sampai jam 16:30 lalu mendapat telpon dari Nenek Fitri jam 15:45, sampai mendapat telpon dari polisi ia berada di rumah bersama keluarganya dan hal itu di saksikan oleh murid les privat piano yang datang ke rumahnya.
Tapi, bukankah hal aneh kalau Chandra tidak curiga saat Nenek menelponnya saat menanyakan apa, Fitri, masih bareng kamu?.
Lalu, tetangga rusun si 371 yang ternyata dokter spesialis mata di klinik dekat cafebay, dokter klinik mata sehat yang cukup terkenal di area tersebut. Dokter Martha dan dia juga memiliki alibi sangat kuat selama seharian ia berada di kliniknya, hanya pulang sebentar dan saat itu ia bertemu Fitri.
Kapten Jayadi menghela napas.
Anton yang seorang polisi patroli, punya alibi kuat sekalipun ia kenal dekat dengan Fitri dan Neneknya. Lalu, apa pelakunya orang lain?.
"Pak, bukanya si Dokter spesialis mata ini lebih mencurigakan," Luki mengetuk foto Martha diatas meja Jayadi.
Jayadi berkerut melirik Luki meminta penjelasan.
"Pasalnya, Fitri adalah seorang tunanetra jadi, ada kemungkinan kalau."
Jayadi menjentikan jari penuh semangat, "ayo, geledah kliniknya, Sep, cari informasi tentang, Martha."
Betul, kenapa hal itu tidak terpikirkan, bisa saja Martha sengaja bertemu Fitri dan menculiknya di titik buta gang rusun.
Hari ke-5.
Fitri meringkuk di atas ranjang berbalut selimut, kini ia mulai hapal bau-bau serta bunyi-bunyi di rumah tersebut, ada pewangi ruangan dengan wangi bunga lavender, lalu saat sore hari lilin aroma terapi dari kamarnya menyeruak membuatnya sedikit rilex ada bau bunga cosmos di luar jendela dan krisan merah yang mulai layu.
Ia terbangun, mendengar suara ribut di depan kamarnya.
"Kau sungguh gila, Ki. Polisi mencarinya."
"Ya, lalu?"
"Apa yang akan kau lakukan dengannya?"
"Apa yang kau pikirkan?"
Hening tidak ada suara.
"Ki, baiklah."
"Terimakasih."
Fitri bergetar setiap kali orang yang di panggil ‘Ki’ bicara, terlebih terakhir kali ia melakukan hal gila memecahkan pot krisan dan mengayunkan potongan pot ke orang itu, ia hanya diam dan menuntun Fitri ke ranjang.
Perlahan suara derit pintu terbuka, Fitri hanya menatap lurus tidak menghiraukan seseorang berjalan mendekat kepadanya, tapi suntikan anesti di tengkuk menjadi Fitri limbung perlahan.
"Ki, bersiaplah."
*____________________________________*
Hari ke-7.
Asep melakukan peregangan dengan otot lehernya setelah 2 hari satu malam menghabiskan waktu di depan komputer, informasi tentang klinik mata sehat dan Dokter Martha tidak terlalu banyak, hanya di ketahui kalau Dokter Martha adalah mantan Dokter optalmologi di rumah sakit luar negri.
"Wah, kenapa dia berujung membuka klinik kecil di gang kumuh?"
Asep sekali lagi menscrol beberapa informasi tentang Dokter Martha, matanya mengerjap perlahan mencoba memperjelas dua orang yang sama dalam satu photo. Rambut coklat sebahu, mata biru dan garis wajah serius sedangkan satu lainnya, berwajar chubby, rambut coklat dengan potongan ivy league tetapi bola mata berwarna coklat tua, ia menzoom foto tersebut.
"Kenapa, Sep?" tanya Jayadi yang penasaran dengan perubahan wajah Asep.
"Pak, kayaknya kita terkecoh dengan dokter Martha, dia punya kembaran."
"Maksudnya?"
"Yang kita temui kemarin bukan Dokter Riki Martha, tapi kembarannya Raka Martha dan yang menemui Fitri di depan rumahnya adalah dokter Riki Martha."
Jayadi segera kembali ke mejanya dan memutar rekaman CCTV lorong rusun, ia memperjelas seorang laki-laki dengan hodie hitam sedikit mengembung, serta lengan yang kekar membuat dirinya teringat dengan Dokter Martha yang di temuinya kemarin, lengan yang sesuai dengan postur tubuhnya serta bola mata coklat.
"Ck, Luki, tangkap Dokter Raka Martha atau siapa itu, dia pasti tahu ulah kembarannya."
"Siap pak!"
"Sep, kabari informasi lainnya," Jayadi segera membawa pistol di saku celananya, berlari menyusul timnya yang lebih dulu menuju mobil.
Hari ke-9
Fitri meraba kepalanya yang berat, ia juga merasakan matanya tertutup rapat oleh kain kasa. Tenggorokannya terasa sangat kering hingga ia berdehem berkali-kali, sebelum turun dari ranjang ia membuka perban yang terlilit di sekeliling mata dengan paksa.
Ia mengerjap, cahaya silau membuat matanya sangat sakit dengan warna-warna terang. Apa ini colorrush?
Sekali lagi ia mengerjapkan mata dan membukanya perlahan, hal yang pertama kali di lihatnya adalah pintu kamar yang terbuka dan krisan merah di meja samping kiri, kamar tersebut seperti tataan yang ia ingat sebelumnya, tapi ia bisa melihat ini semua.
Ia meraba mata lalu mencoba bangkit menuju cermin, ya dia bisa melihat jelas dirinya terpantul di cermin. Apa yang terjadi?
"Kamu sudah sadar?"
Suara berat itu mengagetkannya.
"Apa kamu bisa beradaptasi dengannya?"
"Ma-maksud mu?" Fitri menempelkan tubuhnya di dinding.
"Mata itu," jawabnya sembari tertunduk.
Rambut coklat panjangnya menutupi wajah, tubuh kekarnya bersandar di samping pintu kamar mandi sembari memeluk lutut.
Fitri meraba matanya.
"Kita bertukar mata."
"Akh," Fitri menoleh ke cermin melihat matanya lagi, entah kenapa ia melihat mata dengan manik biru.
"Bagaimana?" tanyanya sembari mengangkat wajah dan tersenyum kearah Fitri.
"Bagaimana bisa?"
"Kamu suka? Kamu bisa melihat warna dan menari lagi."
Fitri menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar oleh lelaki tersebut, kakinya lemas seakan tulang-tulangnya meleleh, tetapi emosinya memuncak begitu melihat mata laki-laki tersebut.
Manik hitam mengkilat, bukankah itu matanya yang selalu di puji setiap orang. Fitri membanting pot bunga krisan tepat ke depan laki-laki tersebut.
Tetapi, di sambut gelak tawa sembari mengusak rambut coklatnya ke belakang, menampilkan wajah dengan luka gores yang dalam di bagian pipi kiri, "kau melakukannya lagi," katanya sembari meraba lantai tempat berserak tanah dan pecahan pot tanah liat.
Ia mengumpulkan pecahan tersebut sambil merangkak tanpa ia tahu kalau telapak tangannya menekan pecahan tajam, "isk," ia meringis memegang telapak tangan kanannya.
Fitri meringis mencengkram sweeter rajut yang di kenakannya, "kenapa kau melakukan ini?"
"Aku hanya ingin melihat mu tersenyum setiap kali melihat bunga mulai bermekaran, jadi, aku memberikan apa yang membuat mu tersenyum."
"Apa kamu menyukai ku?"
"Apa pemberian ini hanya mendeskripsikan kata suka, Fit?"
"Lalu, cinta? Kau psikopat."
"Ya, bahkan aku terlalu gila menggantikan kebutaan mu," jawabnya sembari berdiri, tangannya terarah kepada Fitri dengan sedikit membungkuk tepat di depan wajah Fitri ia tersenyum miring, "apa kau lihat mata berwarna biru dan manik ku berwarna hitam? Anggaplah itu adalah anugerah Tuhan."
'Haruskah ku anggap ini anugerah?'
"Setiap kali kau bercermin dan melihat mata biru itu, kau akan selalu mengingat ku."
'Bukankah itu menjijikan?'
"Karena aku mengikat ingatan tentangku pada mu, setiap kali melihat ku kau akan merasa simpati dengan ku."
"Aaaa ... hiks, hiks ...," tangisnya pecah, memikirkannya menjalani hari-hari dengan mata ini membuatnya benar-benar frustasi, ia menutup telinga dan memejamkan mata berharap itu hanya ilusi.
Tidak, semua nyata bahkan laki-laki yang tidak di kenal berdiri di depannya memiringkan kepala mengerjapkan mata.
Fitri merasa bertukar mata, bertukar nasib, bertukar dunia warna-warni, bukankah sesuatu yang gila. kakinya melangkah gontai menuju ruang tengah tataan yang mirip dengan rumahnya dan Nenek, semua prabot yang di tata sedemikian mirip membuatnya mengamuk, melempar semua bantalan sofa dan semua vas bunga yang berjajar diatas meja.
Napasnya tersenggal di sela pecah tangis dari mulutnya, ia membuka pintu rumah tersebut dan matanya menyipit begitu tersorot sinar matahari, tembok pagar yang kusam berwarna cream, lantai dingin serta beberapa orang yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Fit?” Chandra membuyarkan beberapa polisi yang terpaku melihat keadaan Fitri.
Chandra sendiri terkesiap dengan keadaan Fitri yang acak-acakan, ia mendekat bersamaan dengan Nenek yang berlari memeluknya.
“Ah, cucu ku," isak Nenek.
Jayadi berlari masuk ke rusun tersebut di ikuti beberapa anggota lainnya.
*____________________________________*
Fitri merapikan kemeja putihnya, dengan blazer mocha ia duduk di ruang persidangan. Kehadirannya memang sebagai korban, ia juga harus hadir menemui Riki Martha sebagai penerima donor dari matanya.
Riki yang mengenakan baju tahanan dan tangan terborgol hanya menatap lurus, manik hitamnya tenang seakan ia tahu kalau hal ini yang terjadi.
Bukankah dia menyia-nyiakan hidupnya?.
Fitri melihat Riki di tuntun masuk ke dalam mobil tahanan dari kejauhan, ia mulai bertanya-tanya haruskah aku menganggap ini anugerah seperti katanya, atau ini hukuman Tuhan untuk ku.
Rasa marah, frustasi, bersalah bahkan setiap kali melihat mata biru di pantulan cermin seakan tangan kekarnya mencekik leher Fitri, itulah yang di rasakannya.
“Fit, anggaplah itu anugerah dari Tuhan."
“Ya, kau mengubah dunia hitam putih ku dengan dunia warna-warni, bukankah ini anugerah?”
_______