Plakk!...
Ngiing...ngng...Ngiing..Ngng...
Plak!..Plak!
Berulangkali aku menampar mukaku sendiri.
Entah apa salahku hingga tuhan menghukum diriku hingga seperti ini.
Malam ini, betapa berat penderitaan yang kualami.
Meski tak sampai ingin bunuh diri, tapi aku sudah tak tahan lagi.
Ingin kuteriak, menjerit, dan memaki-maki.
Tapi niatku urung kulakukan mengingat suasana malam yang telah sepi.
Enggan aku mengganggu orang-orang yang telah terlelap ke alam mimpi.
Sambil menggaruk tangan dan kaki kubuka jendela kamar, berharap gangguan itu akan segera pergi.
Akan tetapi,
Keinginanku ternyata tak juga terpenuhi.
Kembali vampir-vampir itu terbang mengincar darah segarku. Semakin banyak yang datang dan mengelilingi tubuhku.
Berdenging disekitar kepala dan kupingku. Membuatku semakin pusing tujuh keliling.
Bagai orang gila, kukibas-kibaskan raket listrik di seluruh penjuru kamar, sambil mulutku tak henti mengoceh dan terus memaki.
"Aaahh...!!"
"Aku tak tahan...lagi!"
"Pergi! Pergi kalian! Pergi!!..."
"Bangsatt..! Assemm...! Dasar nyamuk sialann...! Mati kalian semua! Teriakku kesetanan."
Lotion anti nyamuk, semprot nyamuk, bahkan obat nyamuk bakar pun aku gunakan. Tapi tak satupun dari itu semua yang mempan.
Aku pun berfikir, mengingat belum lama ini terjadi pandemi, flu yang dulu terkesan sebagai penyakit remeh berubah menjadi penyakit mematikan, bahkan menelan ribuan hingga jutaan nyawa.
Apakah nyamuk di jaman sekarang pun juga sudah berubah menjadi semakin sakti?
Dengan semangat juang aku berkutat dengan semua gangguan ini. Serasa berada dalam sebuah perang besar yang terjadi sekali di dalam hidupku. Perang mempertahankan agar tidak tertumpahnya darahku.
Aku sendirian melawan puluhan bahkan ratusan prajurit nyamuk itu. Tubuhku tercabik-cabik pedang yang diarahkan kepadaku. Pedang panjang dan beracun, gatal dan mematikan, menghisap darahku.
Fajar menjelang dan kokok ayam bersahut-sahutan. Tak terasa hari pun telah berganti pagi. Nyamuk-nyamuk sialan itu pun baru pergi meninggalkanku.
Meskipun masih ada satu dua yang masih tertinggal dan terus bertarung denganku, tetapi sebagian besar dari mereka telah pergi dan mencari mangsa baru.
Bangkai nyamuk tergeletak bertebaran di kamarku. Di atas lantai, meja, tempat tidur, selimut, dan bahkan ada pula yang sebagian tergencet di dinding, menunjukkan bahwa kemenangan ada di pihakku.
Sisa-sisa dari mereka lari terbirit-birit, menjauhi diriku yang bersenjatakan raket listrik di tanganku. Betapa pengecutnya mereka. Mungkin mereka takut dan letih menghadapiku.
Dalam cermin, lingkaran hitam di bawah mata terlihat jelas di wajahku. Beruntungnya, hari ini adalah hari Minggu. Dan aku pun bisa tidur sesuka hatiku. Menghilangkan rasa lelah setelah perjuanganku.
***