Masih dengan pelangi yang sama
Juga tawa dan tangis seperti itu
Pembedanya adalah dirimu - MamTee
Tulisan itu aku temukan di postingan instagram pemilik akun MamTee. Aku sampai hapal, dan kutulis di kertas yang sedang aku gambar dengan wajahmu. Dih, lebay banget, ya. Namun, biarlah. Karena cewek manis itu memang sudah membuat hari-hariku berbeda. Cocok sekali dengan kata-kata itu.
***
Beberapa waktu ini, aku jadi gemar berkunjung ke perpustakaan. Gara-garanya ketika itu mood-ku rusak akibat candaan Wawan yang menurutku sudah keterlaluan. Aku yang sedang melahap bakso di kantin menjadi tidak selera dan kutinggalkan begitu saja. Jam istirahat masih lima belas menit lagi. Masuk kelas juga ogah. Akhirnya kubawa kaki menuju perpustakaan.
Asal aku memilih tempat duduk. Tanpa membawa buku atau apa pun karena memang tak ada niat tadinya ke sana. Hanya asal untuk mengisi waktu sampai bel masuk berbunyi. Kuedarkan pandangan dan kudapati cewek berhijab yang duduk tepat di depanku sedang membaca, entah buku apa yang dibacanya. Manis, hatiku tiba-tiba menyuarakan kata itu.
Terus kupandangi wajah yang sedang fokus membaca buku. Ku ketuk-ketuk jari ke meja cewek itu terus saja membaca seolah tidak mendengar bunyi yang kubuat.
Heh, terlalu fokus atau ngga denger, ya, ni, cewek, tanyaku dalam hati. Alisku bertaut, heran, dia merasa ada orang di depannya ngga, sih?
Lima belas menit, aku puas menatap wajah cewek manis berhijab yang sedang membaca di depanku. Tetap fokus, seolah tidak terganggu dengan keberadaanku. Salut, padahal aku sudah dengan sangat sengaja membuat gerak dan bunyi untuk membuyarkan fokusnya. Aku tahu dia hanya berpura-pura, biar saja. Lumayan aku jadi bisa menatapnya terus. Hehehe ...
Teeettt ...
Cewek itu berdiri dan meninggalkan tempatnya. Kuperhatikan gerak-geriknya dari awal membereskan buku sampai ke pintu keluar perpustakaan. Bussyyeettt, apa cewek itu tidak tahu siapa aku? Cowok berkharisma pujaan para cewek di sekolah ini?
***
Tinggal beberapa bulan lagi aku bersekolah di Madrasah Aliyah ini. Karena kejadian itu membuat jam istirahat adalah waktu yang paling aku tunggu. Dugaanku kalau cewek itu selalu menghabiskan jam istrahatnya di perpustakaan adalah benar. Namun, tidak seperti pertemuan pertama yang datang ke perpustakaan tanpa apa-apa. Buku sketsa dan pensil juga penghapus adalah barang wajib yang selalu ku bawa.
Sengaja, selalu kupilih duduk di depannya. Biar pun tidak ada obrolan pun tidak berkenalan, itu tidak penting. Bagiku, berada di depannya dan bebas menggambar wajahnya sesukaku itu sudah merupakan keberuntungan yang tidak boleh aku sia-siakan. Asal kalian tahu saja, segala informasi tentang cewek yang sedang aku gambar wajahnya saat ini aku sudah tahu. Ya, diam-diam aku mencari tahu tentang dia. Buku sketsaku hampir penuh dengan gambarnya.
Entahlah, aku pun merasa aneh dengan diriku sendiri. Belum pernah aku menggambar seseorang, apalagi yang berlabel perempuan. Aku memang hobi menggambar, tetapi objek gambarku berupa benda dan pemandangan. Sejak aku bertemu dan memperhatikannya kenapa aku ingin menggambarnya?
***
Hari ini adalah hari terakhirku berada di sekolah. Ya, kelulusanku sudah diumumkan dan tidak ada lagi keharusan datang ke sekolah. Hanya tinggal menunggu acara perpisahan. Sengaja, aku datangi perpustakaan untuk mencari keberadaan cewek itu. Mudah-mudahan dia ada di sana karena ini masih jam istirahat. Ah, aku hampir bersorak gembira melihat dia ada. Cewek ini memang konsisten sekali.
Aku melangkah menuju tempat duduknya. Kuasongkan buku sketsa yang telah penuh dengan gambarnya.
"Nih, buat kamu," kataku tanpa basa-basi.
Kamu memalingkan wajah menatapku heran tanpa menyambut buku yang ku asongkan.
"Aku sudah lulus. Terima kasih waktunya. Kamu gadis pertama yang aku gambar. Semoga kamu suka," terangku padanya tanpa diminta dan menaruh buku itu di atas buku yang sedang dia baca. Ya, dia juga tidak berkata apa pun, cuma bertanya lewat tatapan.
"Namaku, ada di tiap gambar. Di lembar akhir gambar ada tulisannya. Khusus buatmu. Semoga kamu suka. Udah, ya. Bye," pamitku dengan melambaikan tangan dan berbalik menuju pintu keluar.
Meskipun tanpa perkenalan dan obrolan, tetapi aku seperti mempunyai hubungan dengannya. Hubungan yang entah apa namanya. Prinsipku, tidak ada pacaran selama sekolah. Jika kami berjodoh, semoga Tuhan mempertemukan kami kembali. Semoga.