Malam, kegelapan menyatu dengan pekatnya embun di luar ruangan. Hawa dingin begitu menusuk pori-pori kulit sehingga membuat bulu roma berdiri.
Pandangan mata mulai berkabur bersamaan linangan air menjadi satu di bawah kantung kornea cokelat kehitaman.
Mencari sebuah kedamaian yang sangat sulit untuk di jangkau. Meski dekat tapi terasa hambar di rasa.
Sejenak aku menunduk, meresapi semua yang telah aku alami hingga sampai di titik ini.
Perjuangan dan pengorbanan, melatih psikis dan fisik untuk tetap tegar menghadapi kenyataan pahit yang terus saja menghantui dalam kehidupan.
Kesepian membuatku menyukai malam. Semakin larut malam datang, maka keheningan akan menyapa.
Diri ini bukan tidak menyukai keramaian. Hanya saja sebuah keramaian seperti tidak berati apa-apa kala rasa sepi mendarah daging sampai sekarang.
Ketika keheningan tiba. Sikap burukku hadir dalam sekejap. Melamun dan bergumam sendiri sudah menjadi kebiasaanku ketika keluarga sedang tidak baik-baik saja.
Perasaanku berkata, aku tidaklah bisa mengungkap keaslian di balik topeng yang selalu menghiasi wajahku setiap saat, kepada mereka.
Untuk membuktikan bahwasannya raga ini juga butuh di dengar, perhatikan dan butuh akan kasih sayang, aku tidaklah bisa.
Terkadang, aku merintih menahan sakit dan sesak secara bersamaan. Mendengar teriakan penghuni gubuk menggema pada seisi ruangan.
Auman amarah bertalu-talu sampai pada telinga, aku tidak kuasa untuk melerai. Pertengkaran dan pertikaian selalu terjadi tanpa bisa di cegah.
Dada ini tidak hentinya aku tekan, agar tidak menimbulkan suara degupan yang semakin lama semakin kencang.
Ketakutan dan rasa gelisah mengahantui sepanjang waktu. Hingga tanpa di sadar endapan air di kantong mata terus saja tumpah membasahi pipi.
Sama sekali mereka tidak pernah bertanya padaku, tentang bagaimana kondisi batin dan psikismu melihat pertikaian ini?.
Berharap peduli, ternyata di abaikan. Berhiaskan topeng kesayangan ini.
Aku bangkit dari keterpurukan dan rasa kekecewaan.
Membangun kembali kekuatan yang secara perlahan sudah memudar di telan kebisingan. Yang pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Jiwaku penuh dengan luka. Bersuara saja tenggorokan sudah tercekat. Lantas bagaimana aku bisa menceritakan kehidupanku pada mereka berdua?.
Jiwa ini tertekan, melihat raga tidak bersalah apa-apa menjadi bahan amukan kala emosi tidak terkendali.
Lontaran kata hinaan dan caci makian melayang sempurna di kepala. Bagaimana ya cara menjadi tuli?.
Aku terlena pada dua kepribadian. Di bungkus lembut dengan topeng kecerian juga topeng kesedihan.
Mereka berperan sama, namun dalam tempat berbeda. Menaungi keaslian dari sifat ini.
Aku lelah, tubuhku sudah lemah. Tidak lagi sekuat dulu yang di timpa beberapa beban ringan dengan mudah teratasi..
Tamat