Hari itu, Angga pulang kembali ke kota kelahirannya setelah beberapa tahun meninggalkannya. Ia memutuskan untuk kembali karena ia mendengar kabar bahwa ibunya yang tinggal seorang diri di desa sudah mulai sakit-sakitan. Tidak ada yang bisa mengurusinya selama ini karena Angga adalah satu-satunya anak, sedangkan ia sedang mengejar karir di kota besar.
Sesampainya di rumah, Angga langsung merasa ada yang berbeda di dalam rumahnya. Ia mencium aroma lezat dari dapur. Ia bergegas masuk dan terkejut melihat seorang wanita berusia sekitar 30-an tengah sibuk di dapur.
"Maaf bu, apakah ibu saya ada di sini?" tanya Angga dengan polos.
Wanita itu tersenyum lembut lalu menjawab, "Tidak perlu memanggil saya ibu. Saya Rina, teman dekat ibumu. Aku tinggal di sebelah rumah dan aku sering membantu ibumu merawat lahan dan rumah ini."
Angga mengangguk mengerti seraya merasa bersyukur ada orang yang mengurus ibunya dengan baik.
Selama beberapa minggu ke depan, Angga mulai merasa nyaman dengan kehadiran Rina. Mereka mulai saling mengenal satu sama lain dan sering menghabiskan waktu bersama. Rina adalah janda yang pernah memiliki suami dan seorang anak yang baru berusia 5 tahun.
"Angga, gimana kehidupanmu di kota?" tanya Rina sambil sibuk menata meja makan.
"Baik-baik aja Rin. tapi aku rasa kehidupan di sana terlalu monoton. Aku kangen suasana desa dan kehangatan keluarga."
"Mungkin memang waktu mu pulang ke sini ngga. Mungkin kamu bakal menemukan sesuatu yang mengejutkan," sahut Rina perlahan.
Angga terkejut dengan kata-kata Rina, tetapi angga tidak memperdulikannya terlalu lama. Rina memang sering memberikan kata-kata bijak yang sedikit membingungkannya.
Setelah beberapa waktu, Angga mulai menyadari ada perasaan yang tumbuh di antara mereka. Ia merasa terikat secara emosional dengan Rina, tetapi ia tidak yakin apakah itu perasaan cinta atau sekadar rasa sayang sebagai teman.
Suatu hari, ketika mereka sedang berdua di rumah, Angga mengajak Rina untuk makan malam bersama.
"Rin, bisakah kita menjadi lebih dari sekadar teman?" tanya Angga dengan tulus.
Rina terdiam dan sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut. Ia tahu bahwa ini konsekuensi dari dekatnya mereka belakangan ini.
"Angga, aku harus jujur sama kamu. Aku gak ingin nyakitin perasaan kamu ngga, tapi aku ini seorang janda. Aku gak yakin apakah hubungan kita bisa berjalan dengan lancar," jawab Rina dengan hati yang berat.
Angga merasa sedih mendengar jawaban Rina, tetapi ia mengerti. Ia hanya ingin Rina bahagia, meskipun mungkin itu tidak akan melibatkannya.
"kyaknya begitu, Rin. Aku cuma ingin kamu tahu kalo aku bener-bener peduli sama kamu," ujar Angga dengan penuh kasih sayang.
Beberapa minggu kemudian, Angga menghadiri undangan pernikahan anak tetangganya. Ia merasa bahagia untuk mereka, tetapi tetap merasa ada kekosongan di hatinya. Ia memutuskan untuk kembali ke kota dengan harapan menemukan arti sejati dari cinta.
Di perjalanan pulang, Angga berhenti sejenak di dekat danau yang indah. Ia duduk di tepi danau untuk melepaskan penat dan memikirkan segala sesuatu yang telah terjadi belakangan ini. Tiba-tiba, ia merasakan hadirnya seseorang di belakangnya.
"angga, kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Rina dengan senyuman lembut.
Angga terkejut melihat Rina di sana. Ia merasa campur aduk antara perasaan lega dan terkejut.
"Rina, kenapa kamu di sini? Aku pikir kamu lagi bersiap buat pernikahan anak tetangga kita," tanya Angga bingung.
"Sekali lagi ngga. Aku gak percaya dengan pernikahan anak tetangga kita. Aku merasa ada yang kurang dan aku tidak ingin menyesalinya kelak," sahut Rina dengan tegas.
Angga bingung dengan apa yang Rina katakan. Ia sadar bahwa Rina mungkin memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
"Kamu serius, Rin?" tanya Angga dengan harapan.
Rina mengangguk lembut dan menjawab, "Iya, ngga. Aku sadar ternyata yang kurindukan selama ini ada dalam dirimu. Aku suka sama kamu ngga."
Angga merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar pengakuan Rina. Ia merasa sangat bahagia dan bersyukur atas kejadian ini. Setelah semua perpisahan yang mereka alami, akhirnya mereka menemukan jalan kembali satu sama lain.
Dari situlah, Angga dan Rina mulai membangun hubungan yang lebih dalam. Mereka menjalani hidup bersama dengan saling mendukung dan mencintai. Memang tidak semua orang akan menerima hubungan mereka sebagai janda dan anak muda, tetapi Angga dan Rina saling memastikan bahwa cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi semua rintangan.
Mereka menikah beberapa bulan kemudian dan hidup bahagia. Angga dan Rina belajar dari perjalanan hidup mereka sehingga mereka menghargai setiap momen bersama. Bukti bahwa cinta tidak mengenal batasan usia atau status pernikahan.
Seiring berjalannya waktu, Angga dan Rina menikmati perjalanan hidup mereka bersama. Mereka membuktikan bahwa cinta yang tulus dan saling menghargai bisa datang dari mana saja dan kapan saja, bahkan ketika takdir mempertemukan dua orang yang berbeda dalam fase hidup mereka.