Panas terik matahari menyinari lapangan sekolah, siswa siswi bersorak sorai mengiringi pertandingan volly antar kelas.
Jaka duduk dibangku penonton.
"Huftt aku ingin pulang" keluhnya.
Jaka siswa pemalas kelas 12 yang sebentar lagi menghadapi ujian nasional. Dia memandangi pertandingan volly itu dengan biasa saja tidak ikut bersorak.
Seorang gadis bertubuh mungil dengan mata sipit mendekat dan duduk disebelah Jaka.
"Srett". Tali sepatu Jaka ditarik oleh gadis itu.
"Cemberut aja ih, ceria dong". Ucap gadis itu.
"Eh Hani". Ucap Jaka.
"Kamu gak ikut pertandingan Jaka?"
"Enggak, Han"
Jaka mulai gugup dan hatinya berbunga bunga karena perasaan yang Jaka pendam tentang hani. Hani yang tidak tahu kalau laki-laki yang duduk disamping nya sedang terpesona padanya duduk menonton pertandingan. Hani dengan wajah lucunya dan senyum manis nya bertanya pada Jaka.
"Jaka kamu kok jarang ngomong sih? Diem aja "
"ah ga tau han"
"Kok ga tau? Aneh banget sih? haha". Ucap Hani
"Haha iya"
Jaka tersenyum tersipu "Aduh bangsat cringe banget gue". Gumamnya dalam hati. Percakapan itu hanya berlangsung singkat dan tak ada yang spesial.
Layar handphone menyala, cahaya bulan terlihat dari jendela, udara dingin mengiringi hari yang gelap. Jaka menatap layar handphonenya. "Hani". Jaka bergumam sambil memandangi kontak Hani diwhatsapp.
"Nge-Chatt dia bakal ganggu ga ya?". Jaka gelisah tidak jelas.
"Duh"
"Cinta pertama gini banget". Keluh Jaka.
Jaka yang baru saja merasakan Cinta gelisah karena hal sepele tentang mengirim pesan singkat. Jaka berbaring dikasurnya dan menatap langit langit. Jaka membayangkan masa lalu
"Heh aku ikut duduk ya". Ucap Hani
"Hmm iya". Jawab Jaka.
"Kamu ulangan bahasa inggris kemarin nilainya bagus ya, pinter bahasa inggris ya?"
"Ah nggak juga"
"Hmm masa sih? Hmmm?". Ucap Hani dengan ekpresif sambil mendekatkan wajahnya kebahu Jaka.
"Duh apaan sih , ini bocil". Jaka meledek hani sambil mencubit pipi Hani. "Anjir kelepasan nyubit pipi ni cewek, deket juga kagak". Gumamnya dalam hati. "Ni cewek lucu banget sih". Jaka masih bergumam dalam hati.
"Ih aku udah gede wleee". Ucap Hani meledek Jaka. "Makanya jangan tidur mulu kalo lagi dikelas" Lanjut hani.
"Hmm Cieee". Ucap Rika yang duduk dibelakang Jaka.
"Hmm drakor nih". Ucap Dika yang duduk disebelah Rika. Rika dan Dika yang memang blak blakan kalau mereka pacaran meledek kedekatan Hani dan Jaka yang baru saja terlihat.
"Hmm apaan sih? Biasa aja kali". Ucap Hani cemberut.
"Iya jangan gitu dong nanti dia pindah lagi duduknya". Jaka menggoda Hani. "Anjir apaan ini? Kok gue gombal gembel?". Gumamnya dalam hati.
"Ih Jaka mah ah". Ucap Hani tersipu malu dan meninggalkan kursi tempatnya duduk.
"Ah tuh kan pergi bidadarinya". Ucap Jaka sambil gimik menahan Hani dan duduk kembali.
Setelah kejadian itu Jaka selalu terbayang Hani yang tersenyum tersipu malu, "Imut Lucu pengen meluk". Jaka selalu membayangkan memeluk Hani saat dia sampai dirumahnya.
Terdengar aneh memang tapi Jaka baru saja merasakan Cinta, berbeda dari teman temannya Jaka sulit membuka hati untuk para wanita. Kejadian itu sudah berlalu satu tahun, iya kejadian itu terjadi saat Jaka masih kelas 11.
Jaka masih menatap layar handphone nya.
"Kira kira gue cocok ga ya sama Hani?"
"Sial pecundang banget gue, Cuman berani curi curi pandang aja". Keluh Jaka.
Saat disekolah Jaka yang mengambil bangku pojok kanan paling belakang selalu melihat Hani dari kejauhan, senyuman Hani dan tingkahnya yang periang selalu menyinari Jaka. Meski ini masih menjadi cinta dalam diam Jaka masih bisa mensyukuri karena dapat melihat Hani meskipun tidak ada komunikasi dengan Hani.
"Hani bakal jijik ga ya kalau gue deketin?". Jaka masih bergumam dan berbaring dikasurnya dengan rasa rendah diri mulai meracuni pikirannya.
"Hani pasti jijik kalo gue deketin"
"Dia kan sukanya oppa oppa korea yang putih putih itu".
"Apalagi yang dulu deketin dia juga bawa motor".
"Gue kemana mana jalan kaki , naek angkot".
"Goblok, Ngarep banget gue Bego Tolol!"
Jaka malah meratapi nasibnya. Layar handphone berganti dari kontak Hani ke wallpaper utama, layarnya padam dan terkunci meskipun yang memegang handphone itu perasaannya sedang membara tak karuan. Rasa rendah diri melahap niatan tulus Jaka. Tidak padam tapi tak bersinar, Tidak tenggelam tapi sesak itulah perasaan Jaka pada Hani.
Tidak disangka hanya dengan senyuman saja Jaka bisa jatuh hati pada Hani. Meskipun tidak terungkap tapi perasaan itu ada.
"Ttettt..." Bel berbunyi, menandakan waktu ujian nasional berakhir.
Alat tulis mulai dimasukan ke tas, guru merapikan kertas ulangan yang dikumpulkan. Siswa siswi melangkahkan kaki berbondong bondong meninggalkan kelasnya.
Jaka berjalan santai dan pelan karena tak ingin berdesakan.
"Heh". Sapa Hani menepuk bahu Jaka.
"Eh gimana Han ulangannya?"
"Susah matematika mah, huuu pasti kecil nilainya". Ucap Hani dengan ekspresif.
"Ya aku juga ngasal ngisinya haha"
"Besok terakhir ya?"
"Iya hari terakhir ujian"
"Bentar lagi kita lulus, hhhmmmm bakal kangen temen temen".
"Kalo aku nggk sih". Ucap Jaka.
"Hmm masa ? Sama aku nggak gitu? Hmm? Hmm?". Goda Hani pada Jaka.
"Nggak lah ngapain". Ucap Jaka menutupi perasaannya. "Ya kangenlah, tapi mau gimana lagi, lagian lu mana mau sama cowok banyak kurangnya". Jaka bergumam dalam hati, meskipun raut wajahnya datar Jaka tertekan dengan perasaan cinta dan rendah diri yang ada padanya.
"Ih jahat Jaka mah". Ucap Hani dengan gimik muka pura pura sedih.
Lagi lagi Jaka dan Hani hanya terlibat obrolan singkat, Jaka berjalan pulang , Hani berjalan pulang. Jaka menyia-nyiakan peluang dan tak mau berterus terang.
Tas sekolah diletakan dengan pelan, buku buku tertata rapih, boneka tersusun di dekat bantal. Jendela terbuka membiarkan tiupan angin masuk.
"Hmm Jaka cuek banget sih". Hani yang baru saja berganti baju duduk di meja belajarnya.
"Hmm Jaka". Hani bergumam, buku tulis yang terisi dengan nama laki-laki yang dibingkai gambar hati "JAKA".
"Jaka pasti gak suka sama aku".
"Aku kan pendek kecil"
"Rata lagi"
"Pasti Jaka lebih suka cewek cewek Ips yang bohay itu". Hani mengeluh
"Tringggg...." suara notifikasi handphone.
"Hmm cuma notif webtoon". Keluh Hani.
"Jaka hmmm Cewek chat duluan gapapa kali ya?". Hani berbicara sendiri.
"Gangguin gak ya, Jaka kan suka main game nanti kalo ganggu gimana ya?". Hani menundukan kepalanya.
"Hmm kenapa sih badan aku kecil?".
"Pendek lagi"
"Rata lagi"
"Cewek yang pernah deketin Jaka kan, dulu cantik, tinggi , susunya gede lagi". Rasa rendah diri meracuni isi kepala Hani.
Lembar kertas terkumpul, lapangan ramai terisi penuh berdesakan para siswa yang pulang sekolah. Hari Ujian Nasional berakhir.
Jaka duduk ditempat tidurnya memandangi layar handphonenya "Perpisahan ya?". Jaka bergumam sambil melihat isi grup whatssapp kelas berisikan pemberitahuan diskusi perpisahan.
"Bodo amat lah mau perpisahan kemana juga". Ucap Jaka.
Layar handphone dimiringkan logo game online muncul,
"Tap" Jaka mengklik tombol Rank.
"Tringgg" Notifikasi handphone Jaka berbunyi.
"Perpisahan ke dufan tgl 9 mei".
Terpampang waktu dan tempat perpisahan nanti.
"Perpisahan ya? Berpisah? Pisah?". Jaka malah jadi bimbang. "Sial gue gabakalan ketemu Hani lagi". Jaka mengeluh sorot matanya menatap lantai. "Kenapa sih gue? Lebay amat, lagian Hani pasti jijik kalo tau gue suka liatin dia dikelas". Rasa rendah diri selalu saja mematahkan ekspektasi Jaka tentang rasa cintanya.
Teh hangat diatas meja, laptop terbuka, tayangan drama yang dijeda tampil dilayar laptop itu.
"Hmm udah perpisahan aja nih". Ucap Hani sambil memegang secangkir teh.
"Hmm gimana inih? Nanti aku ga bisa liat Jaka lagi". Dada Hani terasa sesak
"Aku harus gimana ya tuhan?". Hani memelas, Hani masih kelabakan dengan perasaan yang pasti tapi tidak berani menyampaikan dengan komunikasi dan itu hanya menjadi mimpi , halusinasi sehari hari.
"Anak anak jangan lupa sama ibu yaa". Wali kelas dengan lantang berteriak
"Iya ibu" siswa siswi menjawab.
Langkah kaki menuruni bis, siswa siwi bermunculan. Siswi siswi berpelukan dengan isak tangis menghiasi. Wanita yang dengan perasaan menerima perpisahan dengan teman teman kelasnya. Laki-laki dengan kalimat anjing bangsat saling menepuk bahu dan berjanji akan reuni suatu hari nanti.
Bulan purnama menerangi, tiupan angin menyirami ranting pohon, hening. Suara jarum jam berdetak berganti detik menjadi melodi dini hari.
Jaka memandangi kontak Hani.
Hani memandangi kontak Jaka.
"Hmm gabakal liat Hani besok".
"Eum gabakal liat Jaka besok".
"Seandainya aja dulu deketin aja dulu, anjing begoo". Jaka memaki dirinya.
"Dulu aku minder apa gengsi sih pas mau deketin Jaka?". Hani bertanya pada dirinya.
"Seandainya dulu gue gerak dikit buat cari perhatian Hani"
"Seandainya aja aku dulu berani deketin Jaka duluan"
"Seandainya dulu gue ga minderan"
"Seandainya dulu aku ga insecure duluan"
"Pasti..."
"Pasti..."
"Gue kontak aja Hani, gue gak kuat lagi nahan perasaan ini". Ucap Jaka. "Bodo amat mau dia jijik apapun itu, mumpung masih ada kesempatan".
"Aku kontak aja Jaka, dari pada aku nyesek gajelas". Ucap Hani. "Gapapa lah Jaka marah juga di whatsapp malem malem gini".
"Tringgg....."
"Tringgg....."
Notifikasi handphone berbunyi, notif pesan whatsapp masuk.
"Jaka" Jaka membaca namanya sendiri di notifikasi pesan itu.
"Hani" Hani membaca namanya sendiri di notifikasi pesan itu.
Jaka dan Hani, terhalang perasaan rendah diri dan gengsi. Remaja yang mencoba memahami diri sendiri, malah jatuh pada rasa rendah diri. Menahan dan menutupi perasaan sendiri, menyiksa diri dengan pahitnya halusinasi.
Cinta pertama yang tersampaikan dengan ketikan jari di keheningan dini hari. Jangan pernah salah arti, jangan mundur tanpa ada aksi, sakit hati ataupun bersemi hanyalah klarifikasi, tentang perasaan mu, "itu nyata atau fiksi".