Malam itu cuaca sedang tidak bersahabat. Angin berhembus dengan sangat kencang seolah ingin mencabut rumah kami dari akarnya. Ayah dan ibu belum pulang kerja. Jadi hanya kakak perempuanku dan aku di rumah.
Ketika hendak menutup pintu, tiba-tiba seekor kelelawar melesat masuk. Aku yang hanya berusia lima tahun langsung berlari ke arah kakakku dan menangis. Kakakku menenangkanku dan berkata bahwa kelelawar kecil itu hanya ingin berteduh dari hujan, sama sekali tidak bermaksud jahat. Aku mengangguk sambil membersihkan ingus. Kami pun beranjak menuju kamar untuk beristirahat setelah mengunci pintu depan.
Tengah malam, aku terbangun karena ingin ke toilet. Namun siapa sangka pemandangan di luar kamar bukanlah ruang keluarga yang biasa kujumpai.
Luas dan berpasir. Gunung-gunung kecil terbentuk dari tumpukan pasir yang tidak merata. Sangat asing. Bahkan angin yang berhembus menerpa wajah terasa sedikit panas. Sangat berbeda dengan temperatur kamar yang dingin dengan suara rintik hujan yang bersahut-sahutan di luar jendela.
Aku berbalik, hendak membangunkan kakak, tapi yang kutemukan pemandangan yang sama-hamparan pasir tanpa batas. Tentu saja, aku mulai panik. Aku bahkan tak sempat lagi berpikir tentang toilet dan kebutuhanku beberapa saat lalu.
"Hei—"
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang entah dari mana asalnya. Pasalnya, tidak ada seorang pun selain aku di sini.
"Hei, gadis manusia. Lihatlah ke sini."
Saat itulah aku menyadari terdapat seekor kelelawar hitam kecil yang melayang tak jauh dariku. Rupanya kelelawar itulah yang sedari tadi berbicara. Hal yang sangat aneh dan di luar akal. Namun anehnya aku tidak merasa takut. Malah, ini sangat menarik!!
"Gadis kecil, aku membutuhkan bantuanmu."
'Hmm..? Bukankah ini kelelawar yang kulihat tadi?' tanya benakku ketika memperhatikan kelelawar itu terbang di sekitarku, teringat kembali pada seekor kelelawar yang melesat masuk membuatku ketakutan. Aku pun teringat perkataan kakakku bahwa kelelawar itu tidak bermaksud jahat. Aku pun mengangguk, bersedia membantunya.
Kelelawar itu kemudian memanduku ke suatu tempat. Ia terbang secara perlahan, menyamakan langkah-langkah kecilku.
Akhirnya kami sampai di lokasi yang sempit dan gelap, seperti di dalam sebuah gua. Padahal aku tidak ingat kami memasuki mulut gua. Di sudut, terdapat timbunan tanah—atau entah apa itu karena aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dalam kegelapan ini. Di puncak timbunan itu, tertancap sebuah pedang yang sedikit mengkilap. Menurut kelelawar itu, pedang ini merupakan pedang keramat yang telah mengutuknya. Aku diminta untuk mencabutnya karena kelelawar itu tidak dapat mendekatinya.
Karena telah bertekad membantu kelelawar itu, aku dengan hati-hati memanjat timbunan yang tingginya dua kali lipat tinggi badanku. Sesampainya di puncak, aku segera mencabutnya. Namun ternyata tidak semudah yang kupikirkan. Setelah mencoba berkali-kali dengan mengerahkan seluruh tenagaku, pedang itu pun tercabut. Begitu pedang itu tercabut, ruangan sempit dan gelap yang menyelimuti kami berangsur-angsur memudar dan kembali menyajikan pemandangan padang gurun berpasir sebelumnya.
Melihat berkeliling, aku tak menemukan kelelawar hitam itu. Ke mana dia?
Kemudian saat itulah aku menyadari ada sosok anak laki-laki yang sekujur tubuhnya diselimuti kepulan kabut hitam pekat—aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya.
"Terima kasih." ujarnya.
Rupanya sosok itu adalah si kelelawar setelah kutukkannya tercabut.
"Sebagai imbalan, maukah kamu ikut denganku?"
Sosok itu mengulurkan tangan ke arahku. Tanpa pikir panjang—seolah terhipnotis—aku mengulurkan tanganku, hendak menerima tawarannya.
"Ngapain, De?"
Tanya itu menyadarkanku seketika, membuatku berbalik dengan cepat dan mendapati kakakku yang menatapku dengan bingung. Aku tak kalah kebingungan. Pemandangan gurun pasir telah menghilang dalam hitungan detik. Semuanya telah kembali seperti semula—ruang keluarga mungil kami yang hangat.
×××TAMAT×××