Di sebuah taman ada seorang anak laki-laki yang sedang menangis, dan meraung, serta merasakan sakit yang sangat dalam. Nama anak laki-laki itu adalah Azka Bintara. Ia adalah anak yang selalu disakiti oleh kedua orang tuanya karena dianggap sebagai pembawa sial. Sebab ibunya ingin memiliki anak perempuan namun uang yang lahir adalah anak laki-laki sehingga orang tuanya tidak ingin mengurusnya.
Azka dijaga dan dirawat oleh bibi Dinda dari bayi hingga Ia sekarang berumur 15 tahun. Namun Azka masih mengharapkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Keesokan harinya Orang tua Azka membangunkannya untuk pergi bekerja dan melakukan pekerjaan rumah seperti pembantu lainnya.
"Azka,bangun kamu ini udah siang!" Kata ibunya.
"Azka, bangun kau dasar anak tidak tau diri" Ucap ayahnya (sambil membawa seember air yang dingin).
"Dasar anak kurang sopan, pergi kau kerja agar kami dapat makanan" kata ibunya.
"Kalau kau tidak kerja, kau tidak akan dapat jatah makan" Ucap ayahnya.
Saat malam harinya, Azka kembali pulang ke rumah namun tanpa membawa uang sebab Ia habis dipalak oleh preman dalam perjalanan pulang. Ketika tiba di rumah yang didapatkan bukan pelukan melainkan sebuah tamparan.
"Plak... " (Terdengar tamparan yang cukup keras).
"Lama sekali kau pulang anak sialan" Ucap ibunya.
"Apakah kau mendapatkan uang yang banyak?" Kata ayahnya.
"Tidak bu..., uangnya tadi diambil oleh preman, hiks hikss" Ucap Azka(sambil menangis).
"Keluar kau dari rumah ini, dasar anak tidak berguna" Kata ibunya.
Kemudian Azka pergi keluar rumah tanpa membawa barang bahkan Ia belum makan apapun.
Tetapi, Azka bertemu dengan bibi Dinda.
"Azka, tinggal di rumah bibi ajah yah?" Ucap bibi Dinda.
"Baiklah bibi, boleh Azka panggil bunda?" Kata Azka.
"Boleh" Ucap bibi Dinda(sambil memeluk Azka dengan erat).
Semenjak Azka diusir dari rumah oleh ibunya,Ia akhirnya bisa bahagia dan Azka juga dapat merasakan kasih sayang seorang Ibu meski bukan dari Ibu kandungnya.