Penyesalan
Kata orang sekuat apa pun kita menahan, yang bukan milik kita tidak akan pernah bisa untuk dimiliki. Tetapi, jika itu adalah miliki kita, sebenci dan menolak sekuat apa pun. Pasti akan ada saja jalan, sampai bisa bertemu untuk bersatu.
Setiap saat aku memikirkan makna kalimat itu, bukan tidak percaya pada Yang Mahakuasa. Hanya saja diri ini adalah manusia biasa, ambisius dan seperti memaksa melawan kehendak-Nya.
*****
Sore itu masih terngiang isak tangisnya tadi malam, sampai saat siang suatu pesan dari adiknya dikirimkan padaku.
Bahasa Bugis mana bisa aku mengerti, karena suku Melayu itulah diri ini. Aku hanya fokus pada balasannya, bukan pada chat yang baru masuk. Pantas saja saat ditanya hanya dijawab tidak, padahal hati ini sungguh penasaran apa maksud chat itu.
Sampai sore aku membuka kembali WA, ada storynya yang baru saja muncul. Bagai sebuah palu memukul, tepat di ulu hati ini ketika melihat story itu.
[Abang.]
Hanya kalimat itu yang mampu kutulis, karena masih tidak percaya akan apa isi story itu.
[Kenapa ] Balasnya begitu amat singkat.
[Itu apa maksudnya?] tanyaku ingin memastikan atas itu semua.
[Apa?]
Lagi-lagi dia hanya membalas singkat. [Maksud story Abang apa?] Pertanyaan itu kuulangi lagi padanya.
[Yah, begitulah.]
[Kan jelas setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada-Nya.]
"Innalillahi," gumamku dengan rasa sulit dijabarkan.
Air mataku luruh seketika tanpa diperintah, rasanya ini bagai mimpi dan ingatan tujuh tahun silam datang kembali. Rasa sakit akan kehilangan itu kembali hadirkan luka di relung hati, hanya bisa menahan isak tangis itu yang kulakukan.
Penyesalan?
Tentu saja rasa itu ada dan terus bersarang, kenangan saat kami bicara melalu via suara. Dimana abang meminta bicara pada mama, kembali terlintas dalam pikiran ini. 'Kenapa saat aku sudah siap untuk bicara, justru kepergian kuhadapi. Kenapa?'
Pertanyaan itu selalu saja kutanyakan sampai sekarang, kenapa? Beberapa minggu yang lalu abang berkata, kalau akan membuatku bicara pada mama. Namun, kenyataannya tidaklah seindah harapan dan impian. Allah lebih menyayangi beliau, sebelum sempat aku berbicara banyak.
----
Beberapa hari pun berlalu dan aku masih menyesali itu, penyesalan itu datangnya belakangan. Kalau duluan pendaftaran itu namanya, kata-kata itu seperti menamparku atas semua yang terjadi.
Jika, aku saja berat melepaskan beliau. Apalagi abang past lebih berat bukan? Rasa sesak itu selalu hampiriku, ketika bersua dengan dia.
Dulu dia tempatku menumpahkan segala resah, atas luka, sakit dan apa saja yang dirasakan. Sayangnya kini untuk menguatkannya atas kehilangan, aku tidak bisa melakukan karena diri ini juga rapuh.
Dia yang selalu menjadi alasanku untuk kuat, atas saran dan kata-katanya yang berhasil membuat pikiran positif. Tetapi, kini apa yang menimpa dia membawaku pada luka lama.
Sampai kapan pun kehilangan akan selalu jadi trauma, tapi kini yang kurasakan juga penyesalan atas waktu yang tersia-sia. Andai, ya ... andai. Sayangnya kata andai itu tidak lagi bermakna apa-apa, selain memukulku untuk tidak mengabaikan hal kecil.
Andai aku bisa bicara pada mama saat ini, aku ingin sekali berkata.
"Ma, Abang orang hebat dan baik yang selalu bisa buatku bahagia. Ma, Mama pernah berkata pada abang kalau jodoh pasti akan bertemu, terimakasih atas kata-kata yang menguatkan itu, Ma."
Untuk nasehat yang pernah mama berikan pada abang untuk menguatkanku, terimakasih banyak atas itu semua. Saat ini aku hanya ingin abang kembali seperti semula, lukanya sangat dalam sejak kepergian mama.
Saat ini aku hanya ingin menjadi kuat, menghargai waktu dan hal kecil lainnya. Meski pun penyesalan itu selalu hantui, bersama trauma yang akan terus membawa kepada kenangan lama.
Untuk perasaan yang masih tersimpan dengan nama abang, mungkin perlahan harus melepaskan itu semua. Bukan aku tidak mencintai dan menyayangi lagi, bukan juga tidak ingin menanti untuk wujudkan impiannya. Hanya saja penyesalan itu selalu hantuiku, setiap bersua dan bertanya pada abang.
Rasanya sangat sakit sekali di hati ini, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus bisa melepaskan semua rasa ini, aku tidak ingin perasaan ini jadi bebannya. Sedangkan penyesalan terus saja bersarang menyisakan rasa sakit.
Teruntuk kalian jangan lakukan kesalahan sepertiku, karena ketika orang yang ingin sekali berbicara pada kita pergi. Itu menyakitkan dan sisakan penyesalan, penyesalan yang terus akan bayangi setiap kamu bersua dengannya.
Meski pun malu atau rasa tidak percaya diri, tetaplah berbicara meski pun suara terbata-bata. Setidaknya tidak ada penyesalan sepertiku, saat kepergian itu datang untuk menyadarkan.
------
Apakah aku terlalu ambisius dalam hal ini? Jelaskan padaku apa diri ini terlalu ambisius, berkata akan melepaskan padahal nyatanya tidak bisa!
Entah itu rasa penyesalan yang dalam, atau memang harus melepaskan itu tidak bisa kulakukan. Jelaskan, jelaskan padaku!
Bumi, 8 Februari 2021.
Kisah Nyata