Bab MENCINTAIMU
Song by Teuku Wisnu feat Shireen Sungkar (Cinta Kita)
Inilah aku apa adanya
Yang ingin membuatmu bahagia
Maafkan bila ku tak sempurna
Sesempurna cintaku padamu
--------
Alvin menatap nanar punggung Via yang menjauh, ada rasa perih menjalar hatinya. Setelah beberapa dijauhi oleh gadis itu, membuat semuanya terasa beda. Hidupnya tak lagi sama, hatinya begitu kosong tanpa tingkah unik gadis itu.
Dia tadi tidak sengaja bertemu Via, ada rasa bahagia dan ingin bertanya dan meminta maaf. Meski pun dia belum tahu kalau gadis itu menjauh karena kisahnya dan Zevana.
'Aku memang tidak sempurna, Dek. Tapi kenapa kamu menjauh dan tidak membiarkan tahu alasannya apa?'
Beberapa bulan tak bertemu Via membuat hampa dirinya, dia kembali seperti semula acuh dan dingin.
Alvin mengacak rambutnya dengan kasar, tidak dihiraukannya penampilannya. Saat dia akan bangkit tiba-tiba Zevana datang dan duduk di sampingnya.
"Sama siapa, Kak?"
"Sendiri," jawab Alvin singkat.
Zevana yang mendengar jawaban itu hanya bisa tersenyum, dia tahu kalau Alvin menerimanya kembali. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau kecewa itu masih, gadis itu menghela napas karena merasa semua sudah berbeda.
"Kenapa?"
"Heheh. Ga apa, Kak."
Zevana bingung bagaimana cara mengungkapnnya. Dia ingin mereka seperti dulu, tapi apa bisa?
"Kak, apa rasa, Kakak masih sama seperti dulu?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Zevana.
Alvin yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya. "Rasa? Rasa apa?"
"Perasaan, Kakak."
Alvin menghela napasnya kemudian menatap lurus ke depan.
"Menerima kembali bukan berarti perasaan masih sama, lagi pula setelah Adek mengatakan kalau ada orang yang mau lamar kamu. Sejak saat itu Aku sadar kalau Adek tidak menerimaku.
Yah, memang inilah, Kakak. Kakak kira kamu menerima, tapi nyatanya ada laki-laki lain katamu. Kakak, menerima kamu kembali, sebagaimana kita kenal pertama kali dulu. Untuk rasa itu semua sudah hilang, Dek. Seiring berjalannya waktu."
Jawaban Alvin membuat Zevana menahan perih, yah. Dia tahu ini salahnya, tapi dia ingin memperbaiki semuanya. Sayangnya dia salah mengartikan semuanya, dia kira Alvin menerimanya dan rasa itu masih bertahta. Sayangnya tidak pemuda itu menerimanya sebagaimana mereka kenal pertama kali.
"Maaf, Dek. Kamu sudah menentukan pilihanmu saat itu, dan Aku terjatuh. Sampai akhirnya Kakak membuat keputusan untuk menghilang semua rasa."
Zevana tertunduk menyembunyikan air matanya, pemuda itu memang jarang bicara. Namun, saat dengan orang yang mengerti dan disayanginya. Alvin akan bawel dan cerewet, Zevana menyesal telah menyia-nyiakan itu.
"Tidak apa-apa, Kak. Ini memang salah, Zeva. Terimakasih, Kak buat semuanya."
Yah, Zevana ikhlas sebisanya. Mereka saling tersenyum meski pun pernah ada kecewa diantara keduanya, kini semuanya berdamai terutama Zevana dia akan ikhlas dengan siapa pun Alvin nantinya.
🍂🍂🍂
Via yang tadi baru sampai langsung masuk ke kamar, dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Alvin. Beberapa bulan dia menghindar agar rasanya hilang, ternyata tadi harus bertemu. Membuatnya kembali mengingat perkataan Zevana. Rasa sakit itu kembali menjalari hatinya, dia sayangkan Alvin. Ingin sekali ada di dekat pemuda itu seperti dulu, tapi tapi dia sadar semua sudah berbeda. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu mereka bisa kembali. Mungkin.
-------
Ini cintaku apa adanya
Yang ingin selalu di sampingmu
Ku tahu semua tiada yang sempurna
Di bawah kolong langit ini
-------
Hari ini Via datang lagi ke kantor, saat akan memasuki ruangan biasanya. Ada rasa ragu menyelinap hatinya.
"Via," teriak Angel senang.
Mendengar teriakan sahabatnya itu membuat Alvin yang ada di dalam menghadap ke arah pintu yang terbuka, untuk beberapa saat mereka saling tatap sampai akhirnya Via memutuskan kontak mata mereka dan memeluk Angel.
"Kangen ... kangen ... kangen," ujar Angel memeluk dan mencubit pipi Via dengan gemas membuat gadis itu melotot, melihat itu Alvin tersenyum simpul.
Keduanya pun masuk, tak lama yang lainnya juga masuk. Mereka tampak senang Via kembali, padahal sedang tidak ada proyek. Alvin adalah orang yang paling bahagia saat itu, berulang kali dia melirik Via dan tersenyum. Membuat yang ada di sana menggoda keduanya, tapi Via hanya membalas dengan senyum singkat. Mereka yang ada di sana seakan tahu kalau keduanya butuh bicara, langsung saling memberi kode dan keluar secara bersamaan.
"Loh, kalian mau kemana?" tanya Via panik karena dia belum siap bicara pada Alvin.
"Kita keluar dulu, kalian ngobrol saja. Lagian dah lama, kan tidak temu."
Via menatap Alvin yang tersenyum ke arahnnya membuatnya segera bangkit.
"Tunggu, Dek."
"Kenapa?" tanya Via tanpa menoleh.
Alvin berjalan dan berdiri di hadapan gadis itu. "Kenapa kamu menghindari, Kakak?"
Via melengos dan langsung menatap ke arah lain. "Kakak sudah ada dia, Via ga mau orang paham."
"Dia? Siapa?"
"Tuh kak Zevana," jawab Via sambil tersenyum sinis.
Mendengar jawaban gadis itu kini Alvin tahu kalau Via sudah tahu hubungannya dulu dengan Zevana, tapi sekarang itu sudah berlalu.
"Kakak, menerimanya sebagai teman seperti kami kenal pertama kali," jawab Alvin tegas karena dia tahu gadis itu pasti salah paham.
"Oh, ya?"
Ada rasa senang di hati Via mengetahui itu, tapi dia tidak mau berharap lebih.
"Iya, karena saat ini ... kakak suka orang lain dan itu kamu," jawab Alvin denga gugup.
Pipi Via memanas seketika semburat merah membuatnya makin cantik, ternyata dia salah sangka. Namun, lagi-lagi dia tidak ingin berharap lebih.
"Jalan kita masih panjang, untuk saat ini Via butuh waktu."
Usai mengatakan itu Via bangkit keluar. "Kakak, akan buktikan rasa ini, Dek," kata Alvi dengan tegas.
Via hanya tersenyum dan mengangguk saja, membuat Alvin langsung sumringan.
-------
Jalan kita masih panjang
Ku ingin kau selalu di sini
------
Sejak saat itu keduanya kembali seperti semula, meski pun Via belum menerimanya Alvin terus berusaha meyakinkan. Sedangkan Zevana kini menikah keduanya pun datang bersamaan.
"Terimakasih, Dek sudah datang," kata Zevana saat Via mengucapkan selamat.
"Barakallah, ya, Kak," kata Via tulus.
Keduanya pun cipika cipiki. "Kamu kapan menyusul?" bisik Zevana.
"Kakak," kata Via mendelik tajam.
"Tuh, di belakang kamu sudah siap," kata Zevana menggoda.
Saat menoleh ke belakang ternyata Alvin. Tidak ada gurat kecewa dan sedih, karena pemuda itu sudah ikhlas dan tidak ada lagi rasa pada Zevana.
Saat pulang Alvin menawarkan tumpangan pada Via karena Angel ada kerjaan terlebih dahulu.
"Dek.
"Hem ... Apa, Kak?"
"Kapan, Kakak bisa ke rumah kamu?"
"Ha?"
"Kakak, ingin melamarmu," jawab Alvin tegas.
"Emm, entah."
"Nanti malam, Kakak akan ke rumah kamu."
"Loh? Kok cepat banget sih, Kak?"
"Kakak, tidak mau kamu nanti pergi dan menjauh lagi. Dan akhirnya kita berpisah, Kakak ga mau."
Mendengar jawaban itu Via langsung terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Namun, akhirnya dia mengangguk, 'kan kepala sebagai jawaban iya.
------
Biar cinta kita tumbuh harum mewangi
Dan dunia menjadi saksinya
Untuk apa kita membuang-buang waktu
Dengan kata kata perpisahan
-----
Setelah sekian banyak waktu dilewati kini keduanya pun telah sah menjadi pasangan suami istri, Alvin benar-benar membuktikan keseriusan rasanya. Via tidak berhenti bersyukur karena dia tidak menyangka akan berakhir bahagia seperti ini.
Ketika dia mengikhlaskan dan bersikap biasa saja Allah jadikan Alvin suaminya yang sejak pertama kali mengenal Via sudah mencitai gadis itu.
"Terimakasih, Dek."
"Buat apa, Kak?" tanya Via mendongak'kan kepalanya menatap mata pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Buat semuanya, Dek. Terimakasih juga karena sudah mau menjadi Bidadari, Kakak."
"Kita sama-sama terimakasih pada Allah, karena-Nyalah kita bersama, Kak."
Alvin yang medengar jawaban Via langsung memeluk dan menciup kening istrinya berulang kali. "Kita jaga mahligai ini agar kekal sampai ke Jannah-Nya."
"Aamiin Amiin Allahumma Aamiin Yaa Allah."
--------
Demi cinta kita aku akan menjaga
Cinta kita yang t'lah kita bina
Walau hari terus berganti hari lagi
Cinta kita abadi selamanya