SALAH MENCINTAIMU
Song by Betrand Peto (Salah Mencintai)
Pagi itu, terlihat gadis manis menggunakan gamis biru dipadukan dengan jilbab senada. Berjalan dengan terburu-buru, berulang kali dia melirik jam di pergelangan tangannya. Begitu sampai segera dia masuk, sambil tersenyum tanpa dosa dia adalah Sivia atau biasa dipanggil Via.
"Assalammualaikum warohamtullahi wabarokatuh," sapanya pada mereka yang menatapnya cengo.
"Waalaikumusalam warohmatullahi wabarokatuh."
"Tumben datang?" sapa orang di sana.
Mendengar perkataan orang itu Via langsug cemberut, bukan dia tak mau datang. Atasannya juga tahu kalau gadis itu sering di rumah, bukan dia tidak kerja. Butuh kosentrasi, dan setiap desain yang dia buat, oleh karena itu desainnya selalu disukai.
Hal tersebut membuatnya jarang ikut berkumpul seperti sekarang, tapi dia selalu memantau di WAG.
"Sibuk tau," jawab Via cemberut membuat salah satu pemuda di sana menatapnya tanpa kedip.
'Unik,' batinya sambil tersenyum simpul.
Merasa ada yang memperhatikan dia menolah, pandangan mata keduanya bertemu. Membuat debaran tersendiri bagi keduanya.
Pertemuan mereka hari ini membahas tentag konsep desain yang akan dipakai perusahaan ternama, tentu harus dipikirkan matang-matang itulah alasan Via hadir. Setelah selesai berdiskusi mereka menyerahkan hasil akhirnya pada Via dan laki-laki yang menatapnya tadi. Sore telah tiba mereka istirahat hanya saat isoma saja, satu persatu semua pulang tinggal Via dan laki-laki tadi.
"Jadi kamu setuju ini kita mengerjakannya?" tanya laki-laki itu canggung, pasalnya baru kali ini mereka bertemu.
Via hanya berdehem, karena tak terbiasa bicara pada orang yang tak dikenal.
"Saya duluan," pamitnya.
Laki-laki tadi menatap Via, tapi dia tak ambil pusing. Ada senang dalam hatinya karena mereka pasti akan ketemu lagi, dalam kerja sama kali ini mengharuskan Via selalu hadir.
-----------
Malam itu Via begadang memikirkan konsep apa yang harus di pakai, karena bingung diambilnya ponsel dan membuka WA. Begitu membuka WA matanya tertuju pads grup kerja, di sana sudah ada ratusan pesan. Rasa penasarannya membuat dia membuka grup tersebut, biasanya dia langsung mengskip tapi kali ini tidak. Via membaca pesan mereka, dan melihat gambar di mana desainnya unik meski pun sederhana.
Dia begitu penasaran siapa yang membuat itu, karena ide tidak dapat gadis itu memilih tidur karena sudah larut.
Pagi sekali Via sudah ada di kantor, hari ini temannya sibuk pada pesanan desain masing-masing, otomatis dia akan berdua saja dengan laki-laki kemarin. Ada rasa takut di hatinya, tapi segera ditepis.
Ketika dia sedang asyik menekuni pesanan tersebut, akhirnya Via menemukan ide. Terdengar suara salam dan dijawab singkat saja olehnya. Lalu kembali asyik menekuni idenya tadi.
"Alvin," ujar laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Via menoleh sekilas dan menangkupkan tangannya di dada. "Via," katanya singkat.
Alvin, laki-laki tadi hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
'Wajahnya ramah, tapi kenapa saat diajak kenalan dingin?' batin Alvin bertanya sambil mengamati gadis di depannya.
"Saya begini kalau belum akrab," jawab Via seakan tahu pikiran Alvin.
Alvin hanya bisa tersenyum malu.
"Via, punya ide. Gimana konsep desainnya kita pakai sederhana saja, tapi ada makna dan keunikan serta ciri khas dari setiap sentuhan desainnya."
"Emm ... oke juga tuh, kayanya. Punya contoh?"
"Bentar." Via segera mengambil ponselnya dan menunjukkan gambar yang dilihatnya semalam.
"Menurut kamu desain ini gimana?"
"Bagus, unik dan ada makna dari warna gelapnya. Lebih bagus lagi kalau digabungkan dengan warna lain, pasti lebih indah. Desainnya rapi jadi penasaran siapa yang buat." Via berucap sambil tersenyum membuat Alvin senyum-senyum sendiri.
"Kenapa?" tanya Via heran.
"Kamu jarang buka grup, ya?"
Via mengangguknya dengan polos membuat Alvin tertawa.
"Kamu lucu," kata Alvin di sela tawanya sukses membuat gadis itu tersipu meski pun dia bingung lucunya di mana.
"Ga lucu. Oh, ya. Via panggil kamu apa nih?"
"Terserah, mau mas, kakak juga boleh."
"Kalau, Om gimana?"
"Saya masih muda, ya. Masih dua puluh lima tahun," jawab Alvin kesal.
"Tuh, 'kan dah tua, jadi panggil Om saja, ya?"
"Panggil kakak saja deh."
Gadis itu menatap ke bawah, atas dan samping seperti orang berpikir, kemudian mengangguk. "Oke," putusnya sambil tersenyum.
"Oh, ya, Kak. Kakak tahu, siapa yang buat desain tadi?"
"Kamu mau tahu?"
Via mengangguk dengan cepat, karena dia begitu penasaran.
"Nanti saya temukan kamu dengannya di kantin."
"Loh?"
"Sekarang balik fokus ke desain," kata Alvin tegas.
"Dih tadi tawa-tawa sekarang sok tegas, dasar cowok."
"Ngomong tuh yang bener jangan kaya orang kumur-kumur."
Via melengos dengan malas, dia tidak habis pikir kenapa bisa dipasangkan ke orang ini. Kenapa tidak kak Zevana pikirnya.
Mereka semua diam, larut dalam pikiran dan kosentrasi. Sesekali Via memberikan laptopnya untuk dilihat ke Alvin. Hari itu dia tahu kalau Alvin baik dan humoris, dan Via juga baru tahu ternyata laki-laki itu juga membuat desain yang membuatnya penasaran. Tawa dan canda mewarnai mereka, mulai hari itu dan entah sampai kapan itu bertahan.
Siapa sangka karena pekerjaan itu membuat mereka akrab, lambat laun mereka terbuka satu sama lain. Rasa sayang itu hadir diantar keduanya. Hadir Alvin membawa adalah cowok pertama mampu membuatnya merasakan cinta, tapi entah kenapa ada rasa takut juga ragu dalam hati Via. Dia takut apa yang dia rasakan itu menjadi nyata seperti sebelumnya.
Mungkin firasatnya itu akhirnya membuka, 'kan satu fakta membuat dia sangat terkejut. Sore itu Via diajak temu oleh Zevana di taman, orang yang sering menjadi tempat curhat begitu pun sebaliknya.
"Ada apa, Kak?" tanya Via khawatir melihat Zevana menangis.
Via yang bingung bagaimana menghibur, segera memeluk Zevana. Gadis itu merasa ini ada hubungannya dengan pria yang sering diceritakan Zevana, tapi siapa pria itu?
"Dek," panggil Zevana dengan suara serak. "Kakak ... kakak, salah, Dek." Tangisnya membuat Via bingung.
"Salah apa, Kak? Bilang sama Via, siapa orang itu biar Via suruh dia peka ke Kakak." Emosi gadis itu menjadi-jadi, dia sangat tidak suka kalau ada yang menyakiti orang terdekatnya.
"Kakak salah mengartikan semua, Dek. Kakak kira dia ga suka, Kakak. Ternyata dia juga sayang, Kakak dan kemarin dia menyatakan semuanya," ujar Zevana senang sambil tersenyum.
Via yang mendengar perkataan Zevana langsung memukulnya dengan kuat. "Kakak!"
Zevana segera berlari menghindari Via, keduanya pun saling kejar karena kelelahan mereka berhenti. Keduanya pun tertawa, Via baru sadar ternyata tadi tangisan bahagia.
"Kakak, bikin Via panik," ujar gadis itu sambil mengatur napasnya.
"Maaf, ya. But thanks, Dek," kata Zevana langsung memeluk Via.
"Jadi ... dia siapa, Kak?"
"Alvin."
Deg ... Pelukan tadi segera dilepaskan Via. "Kak Alvin?" tanyanya memastikan.
Zevana mengangguk dengan cepat, wajahnya begitu ceria. Via terdiam berusaha tersenyum dan mengatur mimik wajahnya sekaan ikut bahagia. "Wah, Ma Syaa Allah. Akhirnya ga nyangka ternyata orang yang Kakak sukai kak Alvin. Ciee," goda Via sambil terus berusaha menahan laju air matanya.
"Adek, jangan godain, Kakak," rajuk Zevana.
Via tertawa sumbang dan segera pamit, rasanya semua begitu mengejutkan. "Via, duluan pulang, ya, Kak. Congrast semoga selalu bahagia," pamitnya sambil cipika cipiki.
"Makasaih, ya, Dek."
Via mengangguk dan langsung mengucap salam, dengan cepat berjalan meninggalkan taman itu dengan berbagai macam rasa. Kecewa, marah, benci pada Alvin karena tidak jujur atas semuanya. Seandainya jujur dari awal dia tidak akan membiarkan perasaan itu tumbuh.
'Kenapa, kakak tidak jujur!'
Tangisan Via pun akhirnya luruh, beruntung dia sudah ada di dalam taxi. Begitu sampai rumah gadis itu mengurung diri dan membiarkan pesan Alvin. Sungguh hatinya begitu sakit mengetahui fakta itu.
------------
Kutelah jatuh cinta
Jatuh cinta tuk pertama kalinya
Di saat dia datang di kehidupanku
Tapi aku ragu tuk mengatakannya
Apa benar ini cinta pertamaku?
Aku salah
Salah mencintaimu
Ternyata kau ada yang punya
Maafkan (maafkanlah) telah mencintai dirimu (mencintai dirimu)
---------
Sejak malam itu Via memutuskan untuk bersikap biasa saja, dan tak terlalu ambil pusing pada perasaannya. Dia bertekad akan mencobanya meski pun mustahil, tapi dia akan terus berusaha.
Esoknya Via bersikap seperti tak tahu apa-apa tentang Alvin dan Zevana. Bahkan saat Zevana datang menemuinya dia melihat ada tatapan rindu diantara keduanya, ada rasa sakit menjalar hatinya, tapi berusaha tersenyum dan ikut bercanda.
Mencintai seperti itu sungguh menyakitkan, Via ingat akan tekadnya dia menyakini diri pasti bisa. Setelah Zevana keluar, teman-temannya menatap Via heran. Hari ini Alvin mengajak bicara, tapi gadis itu bersikap acuh.
Saat jam isoma, Via memilih melanjutkan tugasnya karena besok sudah harus diserahkan. Salah satu temannya bernama Angel mendekatinya.
"Kamu ada masalah dengan Alvin?"
Via menggeleng dengan cepat, dia tahu sikapnya pasti akan membuat teman-temannya bertanya. Bagaimana tidak biasanya saat berkumpul mereka akan selalu heboh, tapi kini Via terlihat jelas membangun sekat.
"Oh, ya, Ngel. Boleh tanya tak? Kak Zevana sama Kak Alvin kelihata kaya ada sesuatu, kamu tahu ga?"
Mendengar pertanyaan Via membuat Angel langsung bingung, dia paham temannya ini punya feeling kuat. Apa yang dia rasakan pasti itu akan terjadi, atau tidak sudah terjadi. Angel sendiri bingung bagaimana menjelaskannya, jika keduanya dulu pernah saling mencintai. Namun, kini semua tim lebih mendukung Via dari pada Zevana.
"Ngel," panggil Via.
"Eh, em ... iya. Apa, Vi?"
"Via tadi tanya loh, dijawab ih," rajuknya kesal.
Angel menghembuskan napasnya dengan kasar, beruntung di ruangan itu hanya ada mereka.
"Dulu, Vi. Sekarang tidak lagi dan kayanya kak Alvin suka kamu," kata Angel sengaja menggoda Via ingin melihat reaksinya.
"Ada-ada saja kamu, Ngel. Ga mungkinlah kak Alvin suka." Tawa sumbang Via membuat Angel segera memeluk temannya itu.
"Aku tahu kamu pasti sudah mengetahui tentang mereka."
Via melepaskan pelukan Angel. "Aku harus gimana, jujur sakit mencoba menjauh. Tapi, mereka lebih pantas semoga saja mereka selalu bahagia," kata Via sambil tersenyum miris menertawakan dirinya.
Pernyataan Via membuat Angel terhenyak, dia sungguh tidak tega. Namun, apa bisanya, tampaknya Via lebih memilih mengalah. Mereka berdua diam hingga semua masuk ruangan.
Esoknya sikap Via masih sama, Angel yang sudah tahu selalu menemaninya. Sebab pekerjaan telah selesai Via memilih menerima pesanan desain dari rumahnya saja, dan disetujui dengan syarat jika ada yang membutuhkan dia untuk diskusi Via wajib datang.
Angel memeluk temannya, karena dia tahu jika Via sudah bekerja dari rumah pasti akan jarang ke kantor.
Pesan Alvin sesekali dia balas, dan mencoba bersikap biasa saja. Sekuat apa pun usahanya melupakan nyatanya itu bukan hal mudah, karena rasa itu sudah mendominan hatinya.
Via menutup noteboknya dan menatap lurus taman, yah. Sore ini Via kembali berkunjung ke taman setelah beberapa dua bulan dia jarang keluar, kalau pun keluar hanya ke kantor. Kalau ada Alvin dia akan cepat menghindar.
Suasana aga sepi, dihirupnya udara sebanyak mungkin lalu dihembuskan. Pikiranmya menerawang mengingat kebersamaan mereka, sebelum dia tahu tentang kisah Alvin dan Zevana.
Tes ... Air matanya jatuh tanpa di sentuh.
"Nih tisu," ujar seseorang membuat Via terlonjak kaget segera dia beristighfar.
Mata Via membulat karena kaget, melihat siapa orang tadi yang kini langsung duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu menghindari, Kakak?"
Via dian dan meruntuki dalam hati. Kenapa dia bisa bertemu Alvin di sini.
"Kenapa menangis? Disakiti dia lagi?"
Via berdecak sebal laki-laki itu tetap saja tengil, karena dulu mereka saling terbuka jadi Alvin tahu banyak tentangnya.
"Bukan."
'Aku menangis karena ingat, Kakak,' jerit hatinya.
"Adek, berubah. Kakak, sudah berusaha bicara, tapi apa? Via selalu hindari, Kakak."
Mendengar pekataan Alvin hati Via sangat sakit, dia menggelengkan kepalanya cepat.
"Maaf, Kak. Via duluan, ya. Semoga hari, Kakak selalu menyenangkan dan semoga bahagia dengan dia."
Usai mengatakan itu Via pergi, tak dihiraukannya panggilan Alvin. Mau bagaimana pun Via lebih memilih untuk pergi, dan mendoa, 'kan kebahagian Alvin dan Zevana dan akan melupa, 'kan semua termasuk rasanya.
--------
Biar aku yang pergi
Menahan semua rasa sakit ini
Kau ada yang punya
Telah mencintai dirimu (memcintai dirimu)
Biar aku yang pergi
Menahan semua rasa sakit ini
Biar aku yang pergi
Melupakan semua rasa ini