Liburan sekolah yang panjang telah tiba!
Aku sangat bersemangat menyambutnya dan memikirkan berbagai rencana liburan yang seru dan menyenangkan di dalam kepalaku. Misalnya aku akan pergi berenang di waterpark atau menonton bioskop bersama teman-teman. Lalu bersama keluargaku, aku ingin mengunjungi berbagai tempat wisata bersama dan mengambil banyak foto untuk kemudian diunggah di sosial media! Jika ingin me-time aku berpikir untuk nongkrong di kafe internet langgananku dan bersantai di sana sambil mencicipi aneka makanan ringan yang manis dan menyegarkan. Di sana aku bisa dengan puas berselancar di internet dan membaca banyak komik dan novel atau menonton film secara online.
Terdengar sangat menyenangkan, bukan?
Namun siapa sangka rencana liburanku yang seru dan menyenangkan itu pupus seketika ketika ayah dan ibu memutuskan untuk menghabiskan liburan kali ini di rumah nenek yang letaknya sangat jauh dan terpencil.
Memang, sudah sangat lama aku tidak pergi ke rumah nenek dan nenekku pun juga sudah sangat merindukan cucu satu-satunya ini. Untuk itulah ayah dan ibu memutuskan untuk pergi ke sana bersamaku dalam kesempatan liburan kali ini untuk memenuhi tugas mereka sebagai anak dan menantu yang berbakti.
Aku? Mau tak mau pun harus ikut. Aku juga tidak ingin menjadi cucu yang durhaka.
Yah, walau ada rasa dongkol yang menyelip di hatiku karena tidak bisa mewujudkan liburan impianku yang sudah kurencanakan dan kuidam-idamkan sedari aku masih berjuang mengerjakan lembar tesku dan mendapatkan nilai terbaik.
Sebenarnya hal itu pun tak terlalu menjadi masalah bagiku karena aku pasti masih bisa melakukannya di lain waktu. Namun hal lainnya yang paling membuatku merasa tidak senang adalah rumah nenek itu benar-benar berada di daerah yang sangat sangat sangat terpencil! Itu artinya tidak akan ada internet selama liburan!!
Sebagai seseorang yang agak ketergantungan dengan internet, tentu saja aku merasa sangat tidak senang di sana. Sudah bisa kubayangkan hari-hari membosankan yang akan aku lalui di sana tanpa internet...
Hari keberangkatan kami pun tiba.
Ayah, ibu, dan aku berangkat dengan mobil hitam ayah. Sepanjang perjalanan yang memang waktu sangat lama itu kuhabiskan dengan makan dan tidur sambil mendengarkan musik melalui headphone-ku.
Setiba di sana, nenekku yang sudah sangat renta itu tergopoh-gopoh menyambut kami di depan rumahnya yang tidak bisa dibilang bagus, tapi juga tidak bisa dibilang jelek. Rumah nenek terbilang cukup bagus jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya karena desainnya sudah terbilang cukup modern. Namun jika dibandingkan dengan rumah-rumah di kota, jelas rumah nenek itu kalah jauh.
Benar saja, hari-hari di sana kuhabiskan waktu dengan mengelilingi rumah nenek dengan sangat bosan. Rasanya ingin kembali ke rumah dan menongkrongi smartphone biru kesayanganku dan membaca komik atau novel atau streaming film terbaru.
Suatu hari, beberapa hari sebelum berakhirnya masa liburan, aku menemukan sebuah ruangan rahasia di rumah nenek!
Ruangan itu selalu tertutup rapat oleh pintu yang terbuat dari papan triplek. Aku mungkin tidak akan pernah pernah menyadari ada ruangan yang tersembunyi di belakangnya hingga berakhirnya masa liburanku kalau saja aku tidak usil mengutili ujung-ujungnya karena terlalu bosan mendengarkan celotehan nenekku.
Saat menyutiki ujungnya, tanpa sengaja aku mematahkan sebagian kecil dari ujung triplek dan terlihatlah ruangan di dalamnya. Aku melirik takut-takut pada nenek, takut diomeli karena merusak rumahnya, tapi beliau masih bercerita tanpa menyadari perbuatan kecilku.
Kemudian karena penasaran, setelah nenek selesai bercerita dan kembali ke kamar untuk beristirahat sambil menonton televisi, aku mencoba membuka pintu papan triplek itu. Anehnya, pintu yang seharusnya sangat ringan itu terasa sangat berat dan sulit dibuka. Mungkin karena sudah lama tidak dibuka, pikirku tidak aneh-aneh.
Setelah mengerahkan seluruh tenagaku, akhirnya pintu itu pun terbuka. Betapa terkejutnya aku mendapati tumpukan komik mulai dari terbitan lama hingga yang paling terbaru memenuhi ruangan itu!
Dengan gembira kuhabiskan waktuku di sana. Secara runtut kumulai membaca komik mulai dari tumpukan yang berada paling dekat dengan pintu. Aku membaca semuanya tanpa terkecuali karena aku tidak secara khusus menyukai genre tertentu.
Tak terasa, malam pun tiba. Namun tak seorang pun yang mencariku. Ya sudah, biarlah. Toh, lebih asyik berada di sini membaca komik ketimbang mendengarkan cerita nenekku yang itu-itu saja diulang setiap saat.
Malam semakin larut dan aku pun mulai mengantuk. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat.
Saat berbalik, badanku seketika membeku mendapati sesosok perempuan tinggi besar berjubah hitam panjang. Sosok itu sangat tinggi besar sampai-sampai harus menunduk dan menekuk tubuhnya agar muat dalam ruangan yang sempit ini. Sebagian atas tubuhnya menjorok ke arahku, membuatku dapat melihat wajahnya yang kurus keriput dibalik sela-sela rambut hitam panjangnya yang keriting tak tertata rapi dengan jelas. Matanya yang bulat besar sedikit kemerahan menatapku lekat-lekat, sama sekali tidak berkedip.
Saat itu aku tahu, sosok itu telah memperhatikanku sejak awal aku memasuki ruangan ini. Ketakutan, aku menjerit dan berlari menuju kamar nenekku.
Nenek sudah tidur. Aku pun beringsut tidur di sebelahnya dengan masih sedikit gemetaran.
Beberapa hari berlalu dan aku tidak pernah lagi memasuki ruangan itu. Mendekatinya saja aku tak berani. Hari-hari kuhabiskan dengan melamun di ayunan depan rumah. Perasaanku tidak enak dan sangat tidak nyaman. Namun bukan karena sosok yang kulihat, melainkan karena komik yang kubaca malam itu belum kuselesaikan!
Jadilah beberapa hari itu kulalui dengan uring-uringan, bahkan lebih uring-uringan dari sebelum aku menemukan ruangan itu.
Karena tak tahan lagi, aku pun nekat kembali ke ruangan itu. Kupikir, sepertinya tidak apa jika aku tidak berada di sana sampai malam. Jadi aku berencana untuk membawa keluar buku-buku yang ingin kubaca dan membacanya di ayunan di halaman depan rumah nenek.
Kubuka pintu itu perlahan. Seperti dugaanku, sosok wanita misterius itu tidak ada. Tapi bukan berarti 'dia' tidak ada di sini. Aku yakin sosok itu pasti sedang mengawasiku dari suatu tempat.
Bergegas, aku berjongkok dan memilih beberapa buku yang akan kubaca. Untuk mengetahui mana buku dengan cerita yang bagus, aku membukanya dan membaca beberapa halaman awal. Sayangnya hal itu malah membuatku terlena. Tanpa sadar aku kembali menghabiskan waktu di sana seolah tersihir, melupakan tujuan awalku.
Entah mengapa, aku merasa nyaman di tempat ini. Padahal ruangan ini tertutup rapat tanpa satu pun ventilasi udara. Namun, aku sama sekali tidak merasa pengap atau pun kesulitan bernapas. Dan lagi, banyaknya komik-komik di sekitarku membuatku semakin enggan untuk melangkahkan kaki ke luar dari ruangan ini.
Perlahan, sayup-sayup kudengar suara ibu memanggil-manggil namaku. Namun aku masih bergeming, fokus pada komik yang terbuka lebar di tanganku. Kuabaikan panggilan-panggilan itu yang perlahan terdengar semakin ramai. Semua orang mencariku, tapi aku tetap bergeming hingga akhirnya suara-suara itu hilang tak berbekas dan hanya menyisakan kesunyian.
×××TAMAT×××
××××××××××
Kenalan sama penulis cerpen ini yuk!
AMISHOFI, atau akrabnya dipanggil Ami, adalah seorang gadis penyuka warna biru yang senang menghabiskan waktu luangnya dengan membaca cerita. Daya imajinasinya terbilang cukup besar sehingga sering kali tiba-tiba mendapat ide cerita yang kemudian memenuhi kepalanya. Karena merasa tak sanggup menampung segala ide cerita di kepalanya lagi, Ami memutuskan untuk mulai menorehkan kisah-kisah yang ada di dalam kepalanya menjadi bentuk tulisan. Ia mulai aktif menulis secara online sejak 2018, walau sempat hiatus di selama setahun di tahun 2020, kini ia kembali aktif menulis di platform Noveltoon.
[Challenge Menulis Cerpen Bebas Ruang Author]