Kemarin, keadaan kota masih biasa-biasa saja.
Orang-orang berlalu lalang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Toko-toko penuh dengan pelanggannya. Kendaraan berjejer memenuhi jalan menunggu lampu merah berganti menjadi hijau.
Aku adalah seorang hikikomori [1] yang tinggal di sebuah apartemen di lantai empat, di pinggir jalan raya. Setiap hari, pagiku selalu ditemani oleh bising klakson mobil dan motor yang saling bersahutan. Meskipun begitu, aku tidak pernah merasa terganggu. Malah, aku menikmatinya.
Namun pada suatu pagi, aku terbangun dengan perasaan yang ganjil. Tak mendapati kebisingan yang biasa menyambut pagiku, kuhampiri jendela berbalut tirai biru muda yang menghadap langsung ke jalanan.
Kosong.
Jalanan... pertokoan... semuanya kosong.
Tidak ada yang berlalu lalang.
Tidak ada mobil-mobil yang berjajar menanti lampu hijau.
Apa yang terjadi?
Padahal kemarin, keadaan kota masih biasa-biasa saja.
Dengan perasaan yang tak karuan, aku berlari ke luar. Berdiri di tengah-tengah perempatan jalan raya dan memandang berkeliling, mengharapkan ada satu atau dua mobil yang melintas. Namun nihil.
Ketika mendongak menatap langit yang biru bersih tanpa awan, tak sengaja mataku menangkap tiang lampu lalu lintas yang tidak berfungsi, seolah sudah lama rusak. Aku kembali menatap berkeliling. Kali ini lebih teliti. Kusadari keadaan toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan itu sudah begitu tua. Sarang laba-laba menghiasi setiap sudut toko membuatku bergidik ngeri. Kusadari pula bahwa aspal yang kupijak ini tak sehitam biasanya, bahkan memiliki retak di sana sini.
Aah, sepertinya kota ini sudah lama ditinggalkan...
Tapi kapan orang-orang pergi...? Kenapa?
Mungkin aku terlalu fokus berdiam diri di kamar sehingga tidak menyadari hal ini.
Aku berjalan-jalan mengelilingi kota tanpa tujuan yang jelas. Aku benar-benar hanya seorang diri di kota ini. Lelah, aku kembali menuju apartemenku sembari menunduk.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Penasaran, aku menoleh ke sumber suara dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati ombak besar yang melebihi tingginya gedung-gedung pencakar langit sedang menerjang ke arahku.
Terjangan ombak besar itu tidak berlangsung lama. Air yang memenuhi seluruh kota surut dalam sekejap mata. Aku bahkan sampai tak merasakan apa pun dan masih berdiri di tempat yang sama. Padahal, dengan ombak setinggi itu, aku semestinya sudah terbawa arus. Tapi aku masih berdiri tegap di tempatku tadi, bergeming—seolah ombak besar tadi hanyalah angin sepoi-sepoi yang menyapu lembut wajahku. Saat menatap berkeliling, tiba-tiba keadaan sudah ramai. Orang-orang bersorak dengan penuh semangat mendapati banyaknya ikan-ikan kecil yang menggelepar di aspal berkat ombak besar yang baru saja berlalu.
×××TAMAT×××
CATATAN:
[1] Hikikomori (引きこもり, ひきこもり, atau 引き籠もり, arti harfiah: menarik diri, mengurung diri) adalah istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, definisi hikikomori adalah orang yang menolak untuk keluar dari rumah, dan mengisolasi diri mereka dari masyarakat dengan terus menerus berada di dalam rumah untuk satu periode yang melebihi enam bulan.