Lembaran-lembaran kertas yang dipenuhi oleh tulisan mengisi semua tempat kosong yang ada di atas mejanya. Dibalik kacamata bulatnya ada kedua mata yang dengan tajam membaca cepat kalimat demi kalimat yang tertulis dalam lembaran itu, lalu disusunnya lembaran-lembaran kertas yang berserakan tadi dengan rapi. Jika dapat diilustrasikan mungkin hawa yang akan terpancar dari anak itu adalah hawa dingin yang lengkap dengan arwah-arwah yang menyeramkan yang biasanya terdapat dalam serial komik horor.
Tidak satu pun orang yang berani menegurnya atau pun mengajaknya untuk melakukan aktivitas lain di tengah jam istirahat ketika ia sudah mulai sibuk dengan kertas-kertas dan bukunya. Begitulah pendapatku ketika aku disuruh untuk mendefinisikan salah satu teman yang unik dalam kelasku. Meskipun aneh, entah mengapa aku merasa kalau aku memiliki ketertarikan padanya. Keanehannya membuatku ingin selalu ada disisinya dan mengetahui semua tentangnya.
Dia adalah Baskara. Anak yang menyimpan 1001 misteri dalam kehidupannya. Tak ada satu pun teman di kelasku yang pernah mendengar cerita darinya tentang apapun latar belakang dari keluarganya dan alasan mengapa dia belajar sekeras itu. Seperti memiliki dua kepribadian, Baskara bisa menjadi anak yang begitu ramah dan disenangi semua orang di lingkungan sekolah, menjadi pusat perhatian para guru sebab ketampanan dan sopan santunnya serta terkadang ia juga memiliki sisi humoris. Namun semua hal itu tidak berlaku dikala jam istirahat tiba dan hal itu sangat menggangguku karena janggal.
Dia tidak seperti laki-laki seusianya. Wajah suram yang kulihat di jam istirahat adalah wajah yang dipenuhi oleh tekanan. Apa mungkin jika dia menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dalam hidupnya?. Itulah kata-kata yang selalu muncul di benakku ketika melihatnya tak bergaul bersama yang lain di jam istirahat. Setelah beberapa bulan aku memperhatikannya, setahuku dia juga bukan tipe orang yang mudah percaya pada seseorang, dia tidak pernah memiliki teman yang selalu ada di sisinya. Walau terkadang ceria, yang dapat ku lihat darinya hanyalah kekosongan hati. Aku berpikir jika aku berhasil menjadi temannya, bisakah aku mengisi kekosongan hatinya yang begitu menyedihkan?
Anehnya, dari banyaknya anak di kelas ini, tak ada satupun anak yang menyadari kejanggalan yang ada pada Baskara. Bahkan ketika aku bertanya kepada teman sebangkuku. Dia pasti hanya berkata kalau itu hanyalah perasaanku saja. Jika ini hanya perasaan, aku tak mungkin membiarkankan rasa penasaran ini menghantuiku seenaknya. Aku harus mencari jawaban dari semua yang terjadi pada Baskara.
Bel pulang sekolah berdering, pelajaran berakhir. Aku telah membulatkan tekad ku untuk pergi mengikuti Baskara sore itu. "Bas" panggilku kepadanya yang sudah dulu ada di depan gerbang sekolah. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah yang bingung. "Ka-kamu sibuk gak pulang sekolah ini?" tanyaku yang terlihat gugup dan tak pandai menyusun kata-kata. Wajahnya kembali muram dan pandangannya kini teralihkan. "Bukan urusanmu, aku duluan" jawabnya ketus, ia langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Aku terdiam, sesulit inikah untuk mencari tahu tentangnya.
Bukan Luna namanya jika aku menyerah begitu saja di tengah jalan. Apa yang ku mau belum tercapai, sampai hal itu belum tercapai yang harus ku lakukan hanyalah memperjuangkannya hingga titik darah penghabisan. Aku diam-diam mengikuti langkah kaki dan tujuan Baskara. Sejauh ini tidak ada yang aneh, ia hanya pergi ke suatu toko buku tua yang jaraknya tidak jauh dari sekolahku.
Aku tidak berani untuk masuk begitu saja ke dalam toko buku tersebut, karena ruangannya yang terlihat begitu kecil membuat resikoku ketahuan juga akan bertambah. Aku memutuskan untuk menunggunya di luar sampai ia keluar dari toko. Waktu demi waktu berlalu. “Ehm, apa yang kamu lakukan disini?” tanya seseorang dari balik tubuhku. Sontak aku menoleh keempunya suara dan terkejut sejenak. “Ba-bagaimana bisa kamu ada di sini?” ucapku terbata-bata setelah melihat bahwa kini orang yang kuuntit kini ada dihadapanku.
Dia tidak menjawab dan hanya melemparkan senyum yang dipenuhi tanda tanya. “Mau ku antar pulang?” tanyanya tiba-tiba memecahkan es yang membuatku membeku seketika. Aku masih merasa janggal, tapi aku tidak bisa menolak begitu saja tawaran dari orang yang ku suka. Tanpa sadar kepalaku mengangguk mengiyakan tawarannya.
Selama perjalanan pulang, Ia hanya diam sambil melangkah dengan tenang. Tak ada satu patah pun katah yang keluar dari tuturnya yang membuatku berpikir dengan keras berusaha untuk memulai pembicaraan. Sesekali aku memandang wajahnya, kini terlihat lebih baik dan tidak sesuram saat berada di depan gerbang sekolah.
Aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dan melontarkan pertanyaan yang selama ini tersimpan di benakku.
"Bas" panggilku dengan suara yang rendah hampir seperti berbisik.
"Ya?" jawabnya lembut.
"Kenapa setiap jam istirahat aku gak pernah liat kamu istirahat, kamu selalu sibuk sendiri dan gak pernah main sama temen-temen cowok yang lain?" tanyaku
"Penting banget ya kamu tau hal itu?" langkah kakinya tiba-tiba berhenti, bukannya menjawab Baskara malah kembali melontarkan pertanyaan kepadaku.
"Aku cuma mau tau aja Bas dan mastiin kalo kamu gak ke kenapa-napa"
"Kalo pun aku kenapa-napa emang kamu bisa apa?" Baskara kembali bertanya, tapi kali ini nada yang digunakan lebih tinggi.
"Aku emang gak bisa bantu banyak Bas, tapi setahuku kalo kita menceritakan sesuatu kepada seseorang itu membantu banget buat meringankan beban yang lagi kita rasain" jawabku mencoba menenangkan.
"Duduk dulu" ucapnya mengajakku duduk di bangku taman yang letaknya tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Baskara pun menceritakan apa yang ia alami saat ini, alasannya yang begitu keras terhadap dirinya sendiri hingga alasan mengapa ia tidak pernah mengandalkan seseorang selain dirinya. Aku mungkin adalah satu-satunya orang yang akhirnya ia percaya untuk mendengarkan rahasia itu. Hatiku terasa lega akhirnya aku bisa mengetahui sedikit saja tentang dirinya, si Misterius yang berhasil mencuri perhatianku sejak awal jumpa.
"Lun, Lunaaa, Luna, Lunaaa!!" teriak seseorang yang suaranya tidak asing lagi bagiku, suara yang perlahan semakin dekat, dekat dan "LUN!!!" mengguncangkan ku. Nafasku tersengal, jantungku berdegup tiga kali lebih cepat dari biasanya, butiran-butiran kecil air pun mengalir deras membasahi dahiku dan tubuhku terasa lemas.
"Kamu ngapain di sini Lun?!"
"Suara ini?" gumamku sambil memaksakan pulih kedua mataku yang terasa kabur. Empunya suara memelukku dengan erat dan tangannya menepuk-nepuk pelan kedua pundakku.
"Heyy, sadar lun" ucapnya lagi yang semakin terdengar khawatir.
Aku berhasil memulihkan kedua penglihatan yang buram tadi. Suasana sore hari kini berubah menjadi malam. Baskara yang tadi berada bersamaku kini berubah menjadi Adira teman sebangkuku dan aku masih berada di tempat duduk yang berada tepat di depan toko buku yang tadi sore dikunjungi oleh Baskara. Kepalaku mendadak pusing.
"Kok aku masih disini?" tanyaku kepada Adira.
"Hah? Masih? Emangnya kamu udah kemana aja, orang dari kejauhan aku melihat kamu tertidur di bangku ini" jawab Adira kebingungan.
Aku menceritakan semua yang terjadi padaku sore itu, Adira mendengarkan dengan saksama sambil sesekali menggelengkan kepala tidak percaya dengan kelakuan temannya. Apa yang terjadi padaku sore sama sekali tidak nyata. Misiku tidak berjalan dengan lancar. Dan rahasia Baskara masih menjadi misteri yang belum bisa kupecahkan.