"Ayah!"
"Ada apa?"
"Apa yang digali oleh orang-orang itu di lapangan sana?"
Wajah laki-laki tua itu tiba-tiba saja tertunduk, seakan-akan ada benda berat yang menariknya.
Dia mengunci mulutnya, lalu meneruskan memeriksa telinga dan leher kuda kesayangannya.
"Ayah!"
Laki-laki tua itu meletakkan pelana ke atas punggung kuda itu.
"Sebentar Ayah, ibu ingin tahu, apa yang digali orang-orang itu di lapangan, dan ibu harus tahu"
"Ayah pikir, lebih baik ibu kembali ke rumah dan menyelesaikan pekerjaan ibu sendiri," kata laki-laki tua itu dengan suara cepat dan sulit dipahami.
Tapi perempuan itu mengerti. "Ibu tidak akan kembali ke rumah sampai Ayah menceritakan apa yang dikerjakan oleh orang-orang itu di lapangan," katanya.
Dia tegak berdiri dan menanti. Dia seorang wanita yang bertubuh kecil, berambut keriting dan mengenakan gaun katun berwarna coklat.
Di antara juntaian halus rambut keritingnya yang sebagian besar telah beruban, tampak keningnya agak kasar.
Sebuah garis tipis muncul disekitar hidung dan mulutnya menunjukkan bahwa usianya sudah tak lagi muda.
Akan tetapi, matanya yang tajam menatap laki-laki tua itu dengan penuh ketetapan hati.
Lelaki tua itu menghela napas berat. "Itu sudah bukan tanah kita lagi, ini sudah lama direncanakan"
"Apa yang sudah lama direncanakan?"
"Beritahu ibu, Ayah!, apa yang direncanakan?"
"Pembangunan Sirkuit baru"
"Sirkuit Mandalika"