Senja sudah menampakkan diri. Sosok perempuan berdiri di lautan senja sore, sambil merentang kan tangan. Senyum bahagia muncul pada wajah ayu nya.
Pantai hari ini begitu ramai, suasana yang begitu disukai perempuan sang penyuka senja.
Satu hal tentang perempuan itu, dia tidak datang seorang diri. Ada lelaki yang menemani nya.
" Jaemin! Apa kau hanya akan berdiam diri di sana?"
Oknum yang dipanggil membuat lengkungan indah pada wajahnya," oh, ayolah aku tidak menyukai pantai. Mengapa kau datang membawa ku kemari?"
Perempuan itu tersenyum ke arah jaemin, " supaya mau bisa melihat indahnya senja."
Jaemin menggeleng pelan, " kau bahkan lebih indah dibanding senja sore."
Perempuan itu menatap heran jaemin di seberang sana, " kau mengatakan apa!? Aku tidak mendengar nya."
Tangan jaemin melambai," tidak ada."
Setelah mendengar jawaban jaemin, sang perempuan kembali asyik dengan kegiatannya mengamati senja sore di bibir pantai, tanpa menyadari kamera jaemin yang sudah menyimpan beberapa gambar dirinya di bibir pantai dengan sunggingan senyuman terindah.
Jaemin menatap puas pada gambar foto yang telah diambilnya diam-diam dari sang empu. Jaemin menaruh kamera itu dan beralih pada handphone nya yang terus bergetar, mengganggu kegiatan nya.
Berdecak pelan begitu menyadari panggilan tadi berasal dari atasannya yang super duper menyebalkan.
Jaemin memanggil perempuan itu untuk menghampiri nya yang tengah bersiap.
Sang perempuan menatap heran pada jaemin yang merapihkan barangnya, tentu saja kernyitan pada dari sang perempuan disadari oleh jaemin.
Tangan kekar itu mengelus pelan kernyitan pada dahi sang perempuan, " maaf, aku menghancurkan rencana mu. Tapi aku sungguh harus pergi, tenang saja, aku akan mengganti hari ini dengan yang lebih baik."
Sang perempuan tersenyum, memaklumi teman menjurus kekasih nya itu yang memang sibuk.
" tidak apa, pergilah. Aku akan menunggu mu." Tangan mungil itu menggenggam tangan jaemin, mencoba membuat jaemin percaya bahwa dia sama sekali tidak keberatan.
Jaemin mengangguk pelan. Kakinya mulai melangkah perlahan meninggalkan sang perempuan seorang diri di pantai, walau berat tapi itu sudah merupakan pekerjaan, tidak bisa dibantah meski ingin.
Jaemin tidak akan pernah tahu bahwa sore itu, adalah hal terakhir dia bersama dengan seseorang yang dicintai nya.
Siapa sangka, setelah jaemin melajukan mobil jauh dari pantai. Cowok itu melihat berita tsunami yang menyerang pantai yang di kunjungi nya bersama sang perempuan.
Jantung jaemin mencelos, mendadak ruang pada pernapasan nya menjadi sempit dan sesak. Tangan cowok itu segera banting stir menuju arah pantai.
Sayang seribu sayang, saat sudah hampir saja jaemin berada dekat pantai, polisi evakuasi lebih cepat dari dugaannya, dan mengevakuasi jalan. Membuat jaemin tak berkutik dan berdaya.
Cowok itu hanya bisa berharap agar perempuan yang dicintai nya baik-baik saja. Meski rasanya percuma, namun siapa tahu harapan nya di dengar oleh Tuhan? Tidak ada yang tahu akan hal itu.
Saat sedang fokus berharap, sosok polisi evakuasi mendekati nya, polis itu mengetuk pelan kaca jendela jaemin.
"Maaf nak, tapi bisakah anda berpindah tempat terlebih dahulu? Tempat ini tidak aman."
Jaemin tak bergeming pada tempatnya. Tadi sebelum dia benar-benar pergi menjauh perempuan itu mengatakan akan menunggu nya, lalu apakah jaemin akan membiarkan nya terus menunggu? Jaemin tidak akan melakukan hal sekejam itu.
Tidak bisa terkendali, tubuh jaemin merespon buruk jawaban dari polisi, tangan pada setir dan kaki di tuas transmisi.
Melaju cepat ke arah pantai tempat tsunami terjadi, tidak peduli akan teriakan para polisi.
Fokus jaemin sekarang hanya pada perempuan nya. Semua tidak peduli, bahkan jika pun itu atasannya sekali pun.
Karena jalan yang dipilih jaemin maka dia juga lah yang harus menanggung akibat dari pilihannya.
Padahal perempuan itu ikut serta dalam meneriaki nama jaemin dengan para polisi.
Dasar pria bodoh, tidak memandang situasi, berani menerjang badai sekalipun. Sayang semuanya hanya sia-sia untuk jaemin.
Pria yang malang...