Jum'at ini cuaca sangat panas sama seperti hari kemarin. Aku yang memutuskan untuk pergi ke rumah pak Umar pun hanya mampu berdiri di ambang pintu. Sudah hampir pukul 11.00 ini perut ku tak kunjung di isi. Bahkan para cacing ikut berdemo, protes minta sesuap nasi. Hanya sesuap nasi. Rasanya seperti meminta berpuluh-puluh mobil mewah dan beberapa rumah elite.
Aku Mira, wanita sebatang kara yang tak memiliki siapa siapa. Bahkan di umur ku yang sudah matang untuk berkeluarga tak ada satupun lelaki yang mau meminangku dengan alasan aku miskin dan hanya bisa merepotkan, pikir mereka. Tadinya aku seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil milik pak Bambang. Namun sudah 2 minggu terakhir ini aku kena PHK dan tidak diberi uang pesangon sedikitpun.
Sudah 2 minggu ini juga aku kesana kemari mencari bahan makanan, apa saja yang aku dapat aku syukuri. Seringkali aku mendatangi rumah rumah warga hanya untuk meminta tanaman yang tumbuh di sekitar rumah mereka, seperti daun kelor,bayan,katuk apa saja yang penting bisa dimakan. Untungnya aku di keliling banyak orang baik dan tulus. Namun lama lama tanaman itu habis dikikis olehku. Hanya menyisakan daun kelor yang ada di pagar rumah pak Umar yang masih bisa aku harapkan.
Dengan peluh yang terus saja membanjiri pelipis mataku, aku berjalan sambil terus berharap pada Sang Pencipta untuk menyisakan satu saja tanaman sayur itu untukku makan. Kebetulan jarak rumahku dan pak Umar terhitung jauh jadi aku harus menghabiskan setengah tenagaku untuk sampai disana.
Sesampainya disana aku menyisir semua isi pagar rumah pak Umar dari mulai depan, samping, dan belakang. Seketika aku lemas, ternyata pak Umar sudah membabad habis daun kelor itu terlihat ada asap mengepul dari belakang rumahnya dan beberapa tanaman yang besar sudah tidak ada. “ya Allah, aku pasrah pada takdir-Mu” ucapku lemah.
Aku kembali kerumah dengan langkah gontai, tubuhku ini sudah kurus sedangkan tenagaku sudah habis untuk pulang pergi ke rumah pak Umar, namun apalah daya aku hanya bisa berharap pada Sang Kuasa. “ya Allah, hanya sesuap nasi” itu yang selalu aku katakan.
Sampai di rumah aku lantas pergi ke dapur berharap masih ada sedikit beras, ‘tak apa lah aku makan dengan nasi saja tanpa lauk hari ini’ pikirku. Saat aku membuka ember tempat menyimpan beras ternyata aku juga tidak memiliki sebutir beras pun. ‘mungkin aku masih punya bumbu masak' pikirku. Lantas bergegas menuju rak tempat bumbu disimpan, dan hanya ada satu butir bawang merah yang sudah peot. ‘ya rabb ambil saja lah nyawaku' batinku.
Aku masuk kedalam kamar, berharap ada beberapa lembar atau koin yang terselip di beberapa tempat yang biasa aku menyimpan uang. Ku buka lemari mencari di antara tumpukan baju menyisir semua tata letak lemari kayu itu namun nihil. Aku beralih menuju tempat kasur, ku buka kasur dan beberapa bantal juga tak lupa aku membuka sarung bantal semoga saja ada yang terselip namun masih nihil. Akhirnya aku membuka dompetku yang sudah lusuh ke sekian kalinya dan hasilnya tetap nihil. Aku sudah benar benar lemas di buatnya.
Aku mengistirahatkan badanku di atas kasur sambil mendengar khutbah dari masjid dekat rumahku. Kebetulan ini sudah masuk waktu sholat jum'at. Namun aku tak kuasa menahan panggilan alam ini. Lalu aku bergegas pergi ke kamar mandi takut takut jika aku tidak bisa menahan hajat ini. Saat aku melintasi meja makan aku mencium aroma yang sangat lezat sekali. Karena penasaran aku menghampiri meja makan dan membuka tudung saji dengan perlahan. Alangkah terkejutnya aku saat melihat di dalam tudung saji itu sudah terdapat nasi dan beberapa lauk pauk yang sangat menggiurkan. Aku melupakan hajatku,lalu aku duduk, mengambil piring menyiukan nasi dan beberapa lauk pauknya. Ada ikan goreng, ayam goreng, tumis kangkung, tempe goreng, telor, dan sayur. Serta ada buah buahan untuk pencuci mulut. Aku makan dengan lahapnya. Saat sedang asyik asyiknya makan tiba tiba sendok ku terjatuh ke lantai, lantas aku segera mengambilnya dan aku pun malah ikut terguling
“aww” pekik ku sambil memegangi bokong dengan mata masih terpejam.
Aku menatap sekitar dan heran seketika, ‘mengapa aku ada di kamar bukan kah tadi aku sedang makan makanan enak di meja makan' batinku. Aku baru sadar ternyata tadi itu hanya mimpi, kenyataan nya aku tertidur saat tadi sedang mendengarkan khutbah jum'at.
‘Saat aku berbaring di atas kasur aku teringat waktu mustajab untuk berdoa dan waktunya sebentar lagi ada di antara khutbah pertama dan kedua. Saat sedang asyik mendengarkan imajinasiku malah membayangkan makanan makanan enak mungkin pada saat itu juga aku terlelap' ucap batinku
Aku melirik jam dinding, sudah pukul satu siang dan perut ku masih berdemo, “huuhhh” aku membuang peluh.
“assalamu’alaikum mira” ucap seseorang diluar sana.
“waalaikum salam bu, “ucapku sambil berjalan ke arah pintu.
“ada apa ku Ratna? “ tanyaku
“ini mir saya tadi masak banyak untuk tamu suami nya kakak ipar suamiku. Tapi kebanyakan, ini dimakan ya mir” katanya sambil menyerah kan misting yang bertingkat itu.
“alhamdulillah, makasih bu Ratna. Iya saya akan makan kebetulan saya belum makan juga bu, makasih bu sekali lagi” ucapku berbinar.
“ya Allah Terima kasih atas rezeki yang tidak disangka sangka ini, berkah di hari Jum’at” ucapku sambil berlalu ke meja makan.
Betapa bahagianya aku meminta sesuap nasi kemudian Allah mengirim nya lebih dari sesuap nasi beserta lauknya pula. Aku menyesal sudah mengeluh. Aku tahu bahwa kita tidak akan mendapatkan ujian diluar batas kemampuan kita.
“alhamdulillah, Terima kasih Ya Allah atas rezeki-Mu hari ini” ucapku sambil menyuap nasi.