Aku duduk termenung menatap ke luar jendela ditemani secangkir teh hangat di atas meja.
di luar tengah hujan deras bersama petir menggelegar menghiasi cakrawala. Siang itu, cuaca sedang tidak bersahabat dengan bumi.
Terkadang gerimis, hujan, bahkan suara guntur yang bersahut sahutan disertai cahaya kilatan yang menyeramkan menyatu bersama awan kelabu.
Perlahan ribuan tetesan air hujan jatuh mengguyur bumi pertiwi, sudah biasa terjadi setiap pergantian tahun.
Dari kejauhan, suara riuh dari suara knalpot kendaraan ramai berlalu lalang di jalan kota, entah kemana mereka akan berlabuh.
" Andai saja, kau tidak kembali secepat ini. Pasti aku tidak merasa kesepian untuk kesekian kali, dan bahkan mungkin kita akan sama seperti mereka. " batinku resah.
Hingga lamunanku jatuh pada kenangan manis minggu lalu.
" Kau kapan kembali ke asrama? " tanyaku pada seorang pria yang ada di sampingku, dia adalah kekasihku.
" Entahlah, mungkin lusa. Ada apa? " tanyanya kembali.
" Ah.. tidak aku hanya bertanya saja. Hm, bagaimana jika besok kita mengelilingi kota, yah sembari menghirup udara segar ? "
" Ide bagus. Baiklah kita akan mengelilingi kota. Hitung-hitung sebagai tanda perpisahan setelah nanti aku kembali menempuh pendidikan. " ujarnya dengan menatap intens ke arahku.
Dia pun meraih tanganku lalu menggenggamnya dengan erat seolah tidak ingin berpisah meski satu detik saja.
Kita terhalang oleh jarak dan waktu, dia menempuh pendidikan selama 4 tahun lamanya di kota besar , Sedangkan aku akan selalu menunggu kehadirannya.
Sebagian orang mungkin tidak akan sanggup menantikan pasangan yang berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya tidak akan bertemu.
Berbeda denganku, yang selalu menantikan kehadirannya kembali sampai kapanpun .
Entahlah naluriku berkata, bahwa dia tidak akan pernah menghianati ketulusanku.
Duduk ditepian pantai sembari menyenderkan kepala di dada bidangnya, adalah kebiasaanku saat sedang bersama.
Mendengarkan degup jantung yang berpacu dengan cepat membuatku tersenyum samar. Tidak seperti biasanya dia segugup ini.
Ketika sedang bersandar, dia selalu mengusap lembut rambutku, dengan bersenandung ria kemudian menggegam tangan kecil ini.
Sembari menikmati indahnya deburan ombak menghantam batu karang berpadu dengan sinar matahari tengah menyusut meninggalkan langit.
Cahaya kuning keemasan telah muncul di ufuk barat, sehingga memancarkan lukisan awan memanjang seperti menyatu dengan lautan lepas. Sungguh indah ciptaanmu tuhan.
Lamunanku tersentak kala suara guntur kembali bergelora. Hingga tak terasa buliran bening menetes dari pelupuk mata mengingat tentang semua kenangan manis minggu lalu masih Membekas sempurna dalam memori.
Walaupun itu hanya sementara tapi diriku bersyukur memilihmu sebagai pendamping hidupku kelak hingga ajal menjemput .
Tapi kenyataannya apa yang direncanakan tidak berjalan sesuai Keinginan.
Pada malam hari selepas ia mengantarku kembali ke rumah setelah usai mengunjungi pantai, dia mengubungiku mengatakan bahwasannya besok pagi ia akan kembali mengais buih-buih ilmu sebagai bekal nanti saat lulus untuk mencari pundi-pundi rupiah.
Rasa sedih dan kecewa melebur dalam benak jiwa, tapi yaa sudahlah aku pasrahkan saja mungkin ini sebuah ujian dalam menjalani sebuah hubungan.
Hatiku cukup rapuh mendengar kabar itu, hingga mataku mulai memanas bersiap untuk mengeluarkan kembali lelehan air bening dari sudut mata, baru saja kita melepas rindu kini dia akan kembali lagi.
Sampai pada keesokan paginya mataku terlihat sembab karena menangis sepanjang malam. Melihat jarum jam menunjukkan ke angka enam, gegas aku turun dari dipan untuk membasuh wajah di kamar mandi yang berada di belakang dapur.
Untung saja rumah ini sepi, jadi tidak ada yang bertanya " kenapa dengan matamu?".
Usai dari kamar mandi aku kembali ke kamar. Melihat ponsel yang masih menyatu dengan catu pengisian daya, Ah,, Aku lupa mencabutnya tadi malam.
Lekas kucabut catu daya itu, setelahnya aku langsung membuka sebuah aplikasi berlogo hijau (Whatsapp) yang sering digunakan sebagai media berbalas pesan.
Benar saja beberapa pesan bermunculan saat aku membukanya. Isi pesan itu sungguh dramatis, ia menggunakan kata-kata manis untuk menghiburku agar tidak terlalu memikirkan kepergiannya, siapa lagi jika bukan kekasihku.
Jemari mungil ini sibuk menarik ulur pesan yang dikirimkan olehnya, hingga sampai pada pesan terakhir dia mengatakan, " jangan menghubungiku dulu, perjalanan kali ini mungkin sedikit terhambat karena arus lalu lintas yang sangat padat. Nanti setelah sampai aku akan mengabarimu."
Bibir ku mengulas senyum, batinku berkata
" Semoga tuhan selalu melindungimu dimanapun kamu berada ".
Itulah cerita di minggu pertama awal tahun ini, perasaan senang, sedih, dan kecewa sangat kentara dirasa. Harapanku semoga kita tetap akan bersama melewati semua rintangan yang menerpa.
* Tamat *