Pada pukul tiga pagi di sebuah kamar asrama militer Ottoman, Al-Fatih yang tengah berfokus pada ibadah dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
Al-Fatih pun membukanya untuk melihatnya. Saat membuka pintu, ia dikejutkan dengan seorang pria yang berdiri sambil menahan air matanya. Ia adalah Radu,teman dari Al-Fatih.
"Al-Fatih, maukah kau membantuku menemukan kucing kesayanganku?" Radu sambil menahan air mata bertanya kepada Al-Fatih.
Al-Fatih kemudian menyuruh Radu masuk dan mencoba menenangkan dirinya. Setelah beberapa menit, akhirnya Radu mulai tenang.
Al-Fatih kemudian menyuruh Radu untuk menjelaskan peristiwa kehilangan kucing kesayangannya secara perlahan.
Setelah beberapa menit Radu menjelaskan, akhirnya Al-Fatih memutuskan untuk membantu Radu mencari kucing tersebut.
Dimulailah pencarian kucing tersebut. Dari satu tempat ke tempat lain, mereka menjelajah sambil memanggilnya dengan suara menggunakan suara kucing. Karena di waktu itu orang-orang masih tertidur lelap, mereka harus melakukannya secara perlahan.
Mereka sudah menjelajah dan mencari di semua ruangan. Namun, hasilnya tetap nihil. Al-Fatih kemudian ingat satu tempat yang mereka belum didatangi, yaitu lapangan latihan.
Akhirnya, mereka berdua kemudian pergi menuju ke lapangan. Sesampainya di sana, Al-Fatih dan Radu terkejut dengan apa yang dilihat secara langsung. Seekor kucing terpancang, dengan lumuran darah yang membasahi kayunya.
Radu seketika lemas dan menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka bahwa kucing kesayangannya harus berakhir dengan tragis.
Al-Fatih mencoba menenangkan dan menyemangati Radu yang tengah bersedih. Kemudian, seorang pria muncul sambil membawa pedang. Ia adalah Dracula, seorang laki-laki yang sadis dan kakak dari Radu.
"A-Apakah kau yang melakukan ini kak?" Dengan tubuh yang lemas dan hati yang tengah rapuh, Radu mencoba bertanya sekaligus meminta penjelasan kepada Dracula.
"Kalau iya, kenapa? Lagipula, ini hanyalah seekor kucing. Kau bisa memeliharanya lagi. Kemudian, aku akan membunuhnya lagi." Tanpa merasa bersalah, Dracula menjelaskan kepada Radu sambil tersenyum.
Melihat tingkah Dracula yang buruk, membuat Al-Fatih murka. Ia lalu berdiri dan menghampiri Dracula. Dengan perasaan marah, ia menarik kerah baju Dracula sambil menatapnya dengan tajam.
"Kau ... tidak bisakah kau memikirkan perasaan adikmu? Tidak bisakah kau memikirkan perasaan makhluk yang telah kau renggut nyawanya? Tidak bisakah kau memikirkan hatimu yang saat ini telah menjadi hitam dan gelap?
Dracula kemudian menolak Al-Fatih hingga membuatnya terdorong dan terjatuh. Kemudian, Dracula menarik pedang dari sarungnya. Lalu, ia mengacungkannya ke arah Al-Fatih.
"Jika kau marah, ambilah pedangmu! Bertarung lah denganku! Luapkan semua amarahmu dalam pertarungan hari ini."
Tanpa berpikir panjang, Al-Fatih segera ke kamarnya dan mengambil pedangnya. Setelah itu, ia kembali ke lapangan dan siap bertarung dengan Dracula.
Cahaya bulan bersinar terang di tempat mereka berdiri. Dengan pedang yang sudah tergenggam di tangan, maka dimulailah pertarungan di antara mereka.
Al-Fatih menyerang terlebih dahulu. Ia mencoba menebas Dracula dari sisi kanan. Namun, Dracula mampu membacanya dan menangkisnya hingga terdengar suara dentingan pedang.
Al-Fatih kemudian menjaga jarak dari Dracula. Ia kemudian berpikir dan mencari cara agar serangannya bisa mengenai Dracula.
Tak lama kemudian, giliran Dracula yang maju dan melakukan serangan. Ia menebas Al-Fatih dari sisi kiri. Al-Fatih mampu menangkisnya, namun karena daya kekuatan Dracula lebih unggul, membuat Al-Fatih terlempar cukup jauh.
Tak habis di situ, Dracula kembali melakukan serangan yang lebih kuat. Al-Fatih berusaha menahan serangan tersebut dengan sekuat tenaga. Ia pun menendang Dracula hingga terlempar.
Pertarungan di antara mereka masih terus berlangsung hingga pukul lima pagi. Radu yang sedari tadi berada di lokasi, hanya bisa terdiam sambil menangis.
Terlihat, mereka berdua sudah dalam keadaan lelah mengalami luka-luka di bagian pergelangan tangan dan bagian tubuh lainnya.
Mereka berdua terus melanjutkan pertarungan, hingga suara dentingan pedang terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Tak ingin kedua orang penting dalam hidupnya terus bertengkar, Radu kemudian berusaha untuk berdiri dan berlari menuju ke kamar Instruktur militer Ottoman.
Dengan napas yang terengah-engah, ia mengetuk pintu kamar Instruktur dengan keras. Saat pintu telah dibuka, Radu kemudian menjelaskan pertarungan antara Al-Fatih dengan Dracula.
Dengan cepat Instruktur segera berlari menuju ke lapangan untuk memisahkan dan melerai mereka berdua.
Saat sampai di lapangan, Instruktur melihat Al-Fatih dan Dracula yang sama-sama melakukan serangan yang terakhir. Ia kemudian berlari dan menahan mereka berdua yang hampir saja saling menebas satu sama lain.
Pertarungan di antara mereka berdua berhasil dihentikan sekaligus telah berakhir tanpa adanya pemenang.