Sore hari, mentari menggantung di atas cakrawala. Bias sinar kuning keemasan menyapu setiap sudut kota.
Indra penglihatanku mendapati seorang kakek berjalan ringkih menyusuri trotoar dengan membawa tumpukan botol bekas.
Setiap langkah kaki yang di seret untuk berjalan, menggambarkan bahwasanya hidup itu keras dan penuh lika liku perjuangan.
Sesekali ia menyeka keringat yang mengucur membasahi dahi. Penglihatan yang mulai terbatas tidak membuat semangatnya pudar untuk mencari sesuap nasi.
Takdir begitu menyeramkan, menyeret makhluk tuhan yang sudah hampir tutup usia masuk ke dalam ruang pahit nan gersang.
Kakek itu berhenti, bersandar pada tiang listrik. Melihat karung berisi tumpukan botol bekas hasil pencarian hari ini. Entah mengapa, wajahnya tiba-tiba menjadi sendu.
Semangat sejak tadi berkobar perlahan murung setelah mengotak atik isi karung jerami.
Tubuh senjanya di paksa kembali untuk berjalan memindai setiap inci jalan kota.
Benar dugaanku, tumpukan botol bekas di dalam karung jerami ternyata belum mencukupi untuk di tukar dengan pecahan rupiah.
Melihat pemandangan itu, hati ini terenyuh sehingga membuat perasaan iba menguasai dan berkenan untuk memberi sedikit rezeki.
Aku merogoh saku celana, berharap ada sedikit pecahan rupiah yang menghuni. Satu, dua saku ternyata kosong, begitu pula saku kemeja juga serupa.
Seketika tubuh ini lemas, niat hati ingin berbagi justru diri yang meminta belas kasih. Aku menghela nafas, gagal sudah melancarkan niatku.
Tapi tunggu, Aku melupakan sebotol minuman yang berada di genggaman. Secercah cahaya kehidupan bersinar, takdir sedang berpihak kepadaku saat ini.
Tanpa berpikir panjang, aku meneguknya hingga tandas tidak bersisa. Menggunakan tangan aku usap sisa sari minuman di atas bibir.
Melihat kakek tua itu hampir menghilang dari pandangan, sigap aku berlari ke arahnya.
Tiba, botol itu aku masukkan ke dalam karung yang di pikul tanpa sepengetahuan dirinya.
Aku berdiri mematung membiarkan kakek tua itu pergi. Rasa iba yang menyeruak menjadikanku untuk selalu bersyukur atas nikmat yang senantiasa tuhan berikan kepada ku.
Sekarang mari berkaca, kita introspeksi diri. Apakah pantas mengeluh di tengah penderitaan kaum khalayak di bawah kita yang penuh semangat ingin hidup di atas tanah demi mencari sesuap nasi.
Sementara kita saja, tuhan melimpahkan berkahnya tapi jarang untuk bersyukur, lupa untuk sekedar beramal kebajikan.
Pesanku, menunduklah ke bawah agar kamu tahu betapa beruntungnya kamu saat ini.