Kopi di cangkir sudah hampir dingin, namun belum sedikitpun terminum. Aku belum ingin menyentuhnya, masih belum bisa berhenti membolak-balik pesanmu yang masuk sejam lalu. Sedang di depanku senja sudah mulai meredup, rona jingganya menghadirkan rasa tersendiri di ruang hati.
"Aku tak jadi menikah, ternyata dia menikah dengan lelaki lain."
Itu pesanmu, tak terlalu panjang, tapi entah mengapa membuat seruang hatiku terasa perih.
Tetap ku ingat beberapa waktu lalu sikap emosionalmu yang meruntuhkan seluruh sabarku, meluruhkan dinding harapku, meremukkan hatiku hingga berkeping-keping, membuatku merasa kehilangan separuh duniaku. Saat kamu memutuskan memilih dia, wanita yang menurutmu lebih shalih daripada aku.
Lalu dalam getir aku mencoba ikhlas, kuterima semuanya, kudo'akan yang terbaik untukmu dan dirinya. Dalam lemahnya hati aku mencoba berdiri kembali, menyusuri takdirku dengan semua prasangka baik padaNya.
Aku pun belajar banyak hal, bahwa melepaskan jauh lebih baik daripada mendekap sesuatu yang tak lagi ingin ku pertahankan. Merelakan itu jauh lebih melegakan daripada menyimpan semua dalam kepedihan. Dan aku merasa jauh lebih baik.
Aku tak berusaha untuk jatuh cinta lagi, sama sekali tidak. Aku tak mau merasa kehilangan lagi. Aku tak mau terpuruk lagi.
Aku melepaskan semua keinginanku dalam kebaikan takdirNya, meleburkan harapku dalam sebaik-baik ketentuanNya.
Dan pesanmu senja ini ku baca berulang kali, bukan karena aku ingin berkata karma akan selalu menemukan jalannya, tidak, sama sekali tidak. Aku hanya berusaha mencari, kemana selaksa cinta di ruang hati.
Telponku berdering. Namamu terbaca di layarnya. Ingin ku abaikan, tapi sisi lain hatiku tetap berusaha baik padamu. Akhirnya ku angkat juga panggilanmu di dering ke delapan kali, setelah lelah aku bergumul dengan kata tidak di ruang lain hatiku.
"Assalamu'alaikum," sapaku.
"Wa'alaikumsalam, neng lagi apa? Kenapa lama ngangkat teleponnya?" suaramu terdengar khawatir. Ah, kenapa terasa membuat hatiku perih.
"Neng di teras, telpon di dalam rumah. Jadi harus ke dalam dulu," maaf, aku berbohong.
"Minggu nanti Aa rencananya akan ke Rangkas, sambil jenguk Umi. Kalau neng ada waktu, Aa ingin ketemu,"
Entah aku harus senang atau tidak, tapi rasanya untuk apa. Bertemu kembali denganmu setelah beberapa bulan aku berjuang melupakan semua kenangan kita, rasanya hanya akan membuat semua langkah move on-ku sia-sia. Dan juga, ada hal yang telah aku putuskan dan tak mungkin aku tarik kembali setelah semua yang terjadi.
"Neng, masih disana kan?" tanyamu kembali. Aku menghela nafas perlahan. Lupa bahwa telpon masih terhubung denganmu.
"Iya, A. Insyaa Alloh kalau sempat nanti kita ketemu," akhirnya ucapan itu keluar dari bibirku. Insyaa Alloh, hanya jika Alloh mengizinkan. Sungguh, jika Alloh berkehendak mempertemukan aku denganmu, maka aku tak bisa berbuat apapun untuk menghindarimu.
Kamu terkekeh pelan, tawa yang biasanya membuatku merasa lebih baik, membuatku melupakan jarak yang memisahkan kita, membuatku tetap waras dalam menjaga hubungan kita.
"Sampai ketemu nanti ya, Neng. Assalamu'alaikum,"
Aku segera menutup panggilan setelah ku jawab "wa'alaikumsalam,"
Maghrib tiba sesaat setelah panggilan telpon berakhir. Aku segera menghabiskan kopi dinginku dalam satu menit sebelum beranjak ke kamar.
****
Minggu sore. Aku bersyukur aku memiliki acara lain sehingga bisa menghindar untuk bertemu denganmu. Meski kudengar suara sesalmu karena kamu berharap kita bertemu meski sesaat.
Dan disinilah aku, di sebuah mobil bersama seorang lelaki tampan yang memintaku menemaninya untuk bertemu ustadznya yang datang dari luar kota.
Sesekali aku menatap ke arah jendela, berharap segera sampai di tempat tujuan, agar semua kikuk ini segera berakhir.
"Aku nggak nyangka bisa ketemu ustadzku hari ini, Ris. Karenanya aku maksa ngajak kamu, karena belum tentu bulan depan dia ke Rangkas lagi," Riang suara Fauzan menyapa telingaku. Aku hanya tersenyum tipis. Entah harus menjawab apa. Entah harus membalas ucapannya apa.
Aku merasa rikuh, kikuk, awkward, entahlah. Padahal mungkin aku harus membiasakan mendengar suaranya setelah ini, atau bahkan akan sering melihatnya.
Sebuah kafe menjadi tujuan perjalanan sore ini. Etnik, hommy, dan aku suka. Fauzan menunjuk ke sebuah sudut dimana seorang lelaki tengah duduk dengan secangkir kopi.
"Ris, itu ustadzku!" serunya yang langsung membuat kepala lelaki yang di pojok itu tengadah untuk melihat ke arah kami.
Hatiku mencelos. Kamu, ustadz yang ternyata dikagumi Fauzan itu. Ingin rasanya aku menghindar, berlari keluar kafe, atau bersembunyi di tempat yang tak terlihat olehmu. Tapi sudah terlambat, matamu menangkap kehadiranku dengan wajah yang penuh kekagetan.
Fauzan tersenyum cerah ke arahmu dan langsung bersalaman dengan takzim. "Tadz, ini Risa, tunangan saya. Ris, ini ustadz Fakhru, lengkapnya Fakhruriza. Ustadz favoritku waktu di pondok dulu," ia mengenalkanku padamu dengan wajah cerianya dan kulihat mendung sesaat memenuhi matamu, meski kemudian kamu berupaya menepisnya dan memperlihatkan wajah ceria.
Kita bersalaman, seperti biasa, tanpa saling menyentuh tangan. Fauzan bercerita tentang bagaimana kami dipertemukan oleh pamannya minggu lalu dan langsung mengkhitbahku. Aku menerima lamarannya tanpa banyak berpikir, yang kupikirkan hanyalah bagaimana menyelamatkan kewarasanku setelah terpuruk oleh keputusanmu. Namun ternyata keputusanmu salah.
"Ustadz gimana? Katanya mau melamar cinta pertama Ustadz sambil pulang kali ini?" tanya Fauzan yang membuat hatiku serasa disambar petir.
Kamu tersenyum kecut, sesaat matamu menatapku, lalu kembali menjawab pertanyaan Fauzan.
"Nggak jadi, Zan. Rupanya cinta pertama saya sudah ada yang memiliki, saya kalah cepat," jawabmu. Aku hanya bisa menunduk. Kalah cepat? Apa maksudmu? Bukankah kamu yang mengabaikan perasaanku, melepaskan cintaku dan semua ketulusanku hanya karena aku dianggap kurang shalih oleh keluargamu?
Fauzan seolah menyesal telah menanyakan itu padamu. Lalu kalian berbincang hal lain dan aku hanya sebagai pendengar yang baik, meski sebenarnya aku merasa jengah dan ingin segera menjauh darimu.
Aku tahu kamu berusaha untuk menjaga perasaanmu selama berbincang dengan Fauzan, bersikap seolah tak mengenalku dan menjauh dari pertanyaan Fauzan yang kadang konyol.
"Semoga kalian bahagia, ya, sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Dua minggu lagi kan akadnya?" ucapmu tanpa melihatku. Fauzan mengaminkan dengan bahagia. "Aamiin. Terima kasih do'anya, Tadz. Semoga ini pernikahan kami yang pertama dan yang terakhir," kamu mengangguk pada kami sebelum kita berpisah.
Aku ingin mengucapkan maaf padamu, tapi untuk apa? Bukankah hubungan kita sudah usai setelah keputusanmu dulu? Bukankah aku tak memintamu untuk kembali dan begitu juga kamu? Apakah sekarang aku tak lagi mencintaimu? Apakah aku jatuh cinta pada Fauzan dengan segala kesederhanaannya memperlakukan dan menerimaku?
Lalu kemudian aku sadar, aku tak lagi mampu jatuh cinta. Aku sudah melepaskan semua cintaku dalam keikhlasanku menjalani semua kisah yang Alloh gariskan untukku. Aku hanya menjalani semua yang diperjalankanNya dengan kecintaan padaNya, termasuk juga menerima siapapun yang Dia hadirkan untukku, dalam sebaik-baik rencanaNya.
Sepasang mataku terus menatapmu yang melangkah gontai ke mobil. Tak apa, mungkin ini yang terakhir, bisik hatiku. Sebelum nanti aku harus benar-benar menjaga pandanganku hanya untuk suamiku. Mungkin Fauzan, atau mungkin juga orang lain. Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok ataupun lusa. Aku sudah tak lagi berharap selain ingin menjadikan diriku bahagia dengan semua rencana Alloh untukku.