Katanya teman, tapi kenapa engkau seakan-akan memberiku sebuah harapan yang besar? Lalu mengapa kau masih di sini memperpanjang harapan itu? Kau bagaikan kapal yang terus melaju di luasnya ombak samudra biru, namun sayangnya kau tak pilih aku jadi pelabuhanmu.
Aku memegang kerah bajuku kuat, menutup mata menahan rasa sakit ketika kau bilang kita hanya sebatas teman. Pantaskah jika kau melarangku untuk pergi? Pantaskah jika aku bilang kita lebih baik dari sebatas teman? Sialnya lagi kita berbeda agama. Seakan Tuhan memberitahu kita bahwa kita takkan bersama. Sialnya kau belum siap menjalani hubungan ini. Sialnya aku telah jatuh cinta dengan temanku sendiri. Helaan napasku terdengar berat.
“Kenapa kau terus bertanya tentang hubungan kita meskipun kau tahu jawabannya?”
“Buat apa? Kita takkan bisa bersama? Kita bagaikan bumi dan bulan. Sialnya, aku menganggapmu sebagai pelangi yang indah, namunku sadar itu datangnya hanya sementara.” Mungkin kita harus belajar untuk tetap bersama walau kita nyatanya tidak bersama.
Ah, rasa sakit ini semakin menyakitiku, kita tak sejalan tapi kita saling punya rasa. Angin kencang menghembuskan rambutku. Jika kau tidak mau denganku, tolong jangan jadikan aku sebagai kapal untuk kau tumpangi. Aku mengacak-acak rambutku frustasi, menyesal telah jatuh cinta padamu dikala aku merasa sepi. Kau datang tepat waktu. Menemaniku hingga tenang.
Aku merasakan tubuhku dipeluk dari belakang dengan erat, bau tubuhmu menyengat di hidungku, aku tahu itu kau. “Berhenti meracau hal yang tidak-tidak. Aku tahu kau menyesal telah mencintaiku.”
Aku menangis tanpa suara, dia memelukku erat mengusap rambutku lembut. “Lepaskan aku ... biarkan aku merelakanmu, buat apa kau biarkan aku di sini hanya untuk menyakitiku?” Tangannya terlihat mengepal kuat, kepalaku menunduk tak ingin melihat wajahnya.
“Aku hanya ingin suatu saat aku sudah siap, kau pun sudah siap menjadi kekasihku.” Aku menggeleng. “Tapi aku sudah siap. Aku tidak kuat melewati hubungan tanpa status ini, pergilah! Seharusnya kita berakhir bahagia.” Ini bukan tentang diriku atau dirimu, ini tentang hubungan dan cinta.
“Seharusnya aku tidak jatuh cinta padamu ... aku ingin cinta itu hadir bukan sementara layaknya pelangi yang datang lalu pergi.” Kesalku padanya. Dia diam tak berkutik lalu menyelipkan rambutku di balik telinga.
“Maaf, membuatmu lelah menunggu ... kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Pergilah, aku tidak mau kau tersiksa karenaku.” Aku tersenyum miris. Jangan kau anggap hatiku untuk cinta sesaat, mengapa aku tak bisa jadi cinta yang takkan pernah terganti, aku hanya mencari cinta yang akan terjadi.
Jangan kau anggap hatiku jadi tempat persinggahanmu untuk cinta sesaatmu. Aku pergi, jangan lagi berlalu lalang di pikiranku. Aku bersyukur bertemu denganmu. Aku sayang padamu tetapi hanya sebatas teman, aku janji akan datang ke sini membawa rasa sayang sebagai teman bukan lagi rasa cinta yang pernah kita rasakan sebelumnya.
Cerpen ini aku buat sertaku karang karena terinspirasi dari lagu Hivi! Berjudul Pelangi.