Semua bermula dari kata!
Sesungguhnya dia tidak nyata tapi oleh karena kata dia menjadi ada. Akan tetapi ia tak akan pernah nyata.
Dia lahir dan tercipta oleh kata, bahkan tumbuh dan kembangnya dipengaruhi oleh kata. Iya, sesungguhnya dia ada dan mengada karena kata.
Oleh karena lahir dan terciptanya karena kata, tak pelak hal tersebut membuat dia dan menjadikan ia tak pernah bahkan tak akan pernah bisa merasakan bahkan mengalami apa yang dialami oleh kebanyakan makhluk hidup dipenghujung usia kelak, meski ia merasakan penderitaan yang sama, tapi ia tak pernah mengalami satu hal tersebut, hal yang paling ditakuti oleh semua orang, kematian!
Berwujud, terlihat, dapat pula disentuh dan diraba, ia seperti kebanyakan kita, tapi ia tak pernah bisa menjadi nyata.
Bahkan untuk dirinya ia memiliki sebuah nama. Panggilan yang sesungguhnya ia pun tak pernah mengerti untuk apa disematkan kepadanya. Peduli tak peduli ia, tapi kalau hal tersebut bisa membuat orang menjadi lebih bahagia, ia pun menerima, dengan lapang dada, barangkali.
Dia hidup untuk dicintai tapi ia tak pernah bisa balik mencintai. Ada juga yang membenci tapi ia tak pernah bisa balik membenci. Ada juga yang mencintai dan membenci secara berlebihan, tapi sayangnya ia pun tak akan pernah bisa membalas semua rasa itu, baik dengan lebih apalagi cukup.
Bagi dirinya cinta dan benci tak ubahnya seperti musim. Musim yang datang silih berganti yang datang dan pergi, itupun kalau ia bisa memahami. Dan dia tak pernah menyesali semua itu!
Seperti kita melangkah begitu juga ia melangkah. Seperti kita menyentuh begitu juga ia menyentuh. Seperti kita berbicara begitu juga ia berbicara. Seperti kita mendengar begitu juga ia mendengar. Seperti kita mencecap begitu juga ia mencecap. Seperti kita melihat begitu juga ia melihat. Dan sebagaimana kita berdiam diri begitu juga ia berdiam.
Seperti yang kukatakan sebelumnya kalau ia pun juga merasakan penderitaan yang sama, kesakitan yang sama, kekalutan-kekalutan yang kurang lebih sama, tapi begitupun itu tak pernah berlama-lama, hanya hitungan detik, semuanya kembali menjadi sedia kala.
Bisa jadi hal tersebut membuatnya menjadi bahagia. Atau bisa jadi juga itu membuatnya menjadi sedih. Bahagia karena ia tidak akan pernah mati tapi sekaligus bersedih karena ia harus mengalami penderitaan itu secara berulang meski hal tersebut tidak sampai membuatnya kehilangan dirinya.
Untuk kita yang telah berlalu pergi dia tidak akan pernah bisa merasakan kehilangan oleh karena itu ia juga tidak mengenal rasa sedih. Bagi dirinya kita seperti angin yang bertiup saja, seperti hari, seperti terang dan gelap, seperti detik yang berganti menjadi menit.
Iya, aku tahu dia ada tapi aku juga tahu kalau dia juga tidak pernah nyata. Begitupun dia, dia tahu aku nyata, dia juga tahu kalau aku itu ada, tapi ia tak pernah ambil pusing dengan semua itu. Baginya, nyata atau tidak nyata, ada atau tidak mengada, itu hanya persoalan ruang dan waktu. Dia melebihi batas itu.
Pada suatu senja yang sepi dia pernah berkata dan berkali-kali mengulang kalimat ini, "Dimanapun kamu berada disitu aku berada tapi dimanapun aku berada disitu kau belum tentu berada."